Cikarang, CMI News – Dominasi China di sektor logam tanah jarang (rare earth element/REE) kian sulit digoyang. Negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia ini sukses membangun ekosistem hilirisasi yang menjadikannya penguasa pasar global.
Dampaknya, ketergantungan dunia terhadap pasokan dari China mencapai level yang mengkhawatirkan.
Logam tanah jarang (LTJ) sendiri merupakan mineral strategis dengan peran vital dalam berbagai industri, mulai dari kendaraan listrik, perangkat elektronik, energi terbarukan, hingga sistem pertahanan. Tak heran, banyak negara kini berlomba mengamankan cadangan mineral ini.
China Jadi “Raja” Logam Tanah Jarang
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menekankan bahwa keberhasilan China bukan semata karena melimpahnya cadangan, melainkan strategi negara dalam mengendalikan rantai pasok. Salah satu langkah kunci adalah larangan ekspor LTJ dalam bentuk bahan mentah.
“Hari ini, sekitar 90% logam tanah jarang dunia diproduksi dan diolah langsung di China. Ketergantungan global sangat tinggi,” jelas dikutip Jum’at (29/8/2025).
Data Statista dan kajian PwC PT Timah (2020) juga menunjukkan:
64% produksi LTJ dunia berasal dari China.
37% cadangan global ada di Negeri Panda.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















