Cikarang, CMI News – Dominasi China di sektor logam tanah jarang (rare earth element/REE) kian sulit digoyang. Negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia ini sukses membangun ekosistem hilirisasi yang menjadikannya penguasa pasar global.

Dampaknya, ketergantungan dunia terhadap pasokan dari China mencapai level yang mengkhawatirkan.

Logam tanah jarang (LTJ) sendiri merupakan mineral strategis dengan peran vital dalam berbagai industri, mulai dari kendaraan listrik, perangkat elektronik, energi terbarukan, hingga sistem pertahanan. Tak heran, banyak negara kini berlomba mengamankan cadangan mineral ini.

China Jadi “Raja” Logam Tanah Jarang

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menekankan bahwa keberhasilan China bukan semata karena melimpahnya cadangan, melainkan strategi negara dalam mengendalikan rantai pasok. Salah satu langkah kunci adalah larangan ekspor LTJ dalam bentuk bahan mentah.

“Hari ini, sekitar 90% logam tanah jarang dunia diproduksi dan diolah langsung di China. Ketergantungan global sangat tinggi,” jelas dikutip Jum’at (29/8/2025).

Data Statista dan kajian PwC PT Timah (2020) juga menunjukkan:

64% produksi LTJ dunia berasal dari China.

37% cadangan global ada di Negeri Panda.

62% konsumsi dunia pun dikuasai China.

Selain China, AS hanya menyumbang 12% produksi dan konsumsi global. Vietnam dan Brasil memiliki cadangan besar (masing-masing 18%), Rusia menguasai 10%, sedangkan Myanmar dan Australia menempati porsi sekitar 10% produksi global. Jepang sendiri cukup dominan di sisi konsumsi dengan 16%.

Peluang Indonesia: Cadangan Luas, Tapi Belum Optimal

Indonesia sebenarnya menyimpan potensi besar LTJ. Berdasarkan kajian Badan Geologi ESDM (2020), keterdapatan LTJ tersebar luas di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa.

Beberapa titik utama meliputi:

Sumatra & Bangka Belitung – LTJ pada lapukan granit, plaser, hingga tailing timah.

Kalimantan Barat & Tengah – LTJ pada tailing emas, laterit, hingga ball clay.

Sulawesi Tenggara & Sulawesi Barat – LTJ ditemukan pada laterit dan batuan kalium.

Jawa Barat & Jawa Tengah – indikasi LTJ pada batuan fosfatik dan area vulkanik Dieng.

Keterdapatan ini tidak hanya berbentuk mineral utama, tetapi juga sebagai produk samping pengolahan timah, emas, hingga bauksit. Artinya, peluang integrasi dengan industri tambang yang sudah berjalan terbuka lebar.

RI Masih Bergantung Impor

Sayangnya, meski menyimpan potensi besar, Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan LTJ dalam negeri. Data 2018 mencatat:

48% impor LTJ Indonesia berasal dari China.

37% dari Malaysia.

11% dari Jepang.

4% sisanya dari negara lain.

Impor ini digunakan di berbagai industri strategis: pewarna dan pigmen, kilang minyak, keramik, kendaraan listrik, hingga generator dan magnet permanen.

Ketergantungan ini menunjukkan celah besar: hilirisasi LTJ di Indonesia masih jauh dari optimal. Padahal, potensi cadangan bisa menjadi modal untuk memperkuat kemandirian industri sekaligus masuk ke rantai pasok global.