
Cikarang, CMI News — Harga batu bara global kembali mencatatkan lonjakan signifikan pada perdagangan Senin (28/7/2025), dipicu langkah tegas pemerintah China dalam menertibkan produksi batu bara yang melebihi kuota nasional.
Arah kebijakan ini menjadi sinyal kuat bahwa Negeri Tirai Bambu tengah berupaya mengontrol pasokan energi fosil demi stabilitas harga dan efisiensi pasokan domestik.
Berdasarkan data terkini, harga batu bara Newcastle kontrak Agustus 2025 naik sebesar US$ 1,75 ke level US$ 115,5 per ton.
Untuk kontrak September, harga naik US$ 2 menjadi US$ 117,5 per ton, sementara kontrak Oktober tercatat naik US$ 1,75 ke posisi US$ 119,25 per ton.
Sebaliknya, harga batu bara di pasar Rotterdam menunjukkan pergerakan yang lebih moderat. Kontrak Agustus terkoreksi tipis sebesar US$ 0,2 ke level US$ 103,4 per ton. Namun, harga untuk September dan Oktober masing-masing menguat tipis sebesar US$ 0,05 menjadi US$ 104,4 dan US$ 105,2 per ton.

Pemerintah China, seperti dilaporkan TradingView, telah menginstruksikan penutupan sejumlah tambang yang memproduksi batu bara melebihi batas kuota yang telah ditetapkan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pengendalian pasokan, yang juga bertujuan untuk mengatasi tekanan deflasi di sektor produsen energi.
Menariknya, di tengah pengetatan regulasi ini, produksi batu bara domestik China justru tumbuh 3,6% (yoy) pada Juni 2025. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan target tahunan pemerintah untuk meningkatkan output sebesar 1,5% menjadi 4,82 miliar ton, menyusul rekor produksi yang dicetak pada tahun 2024.
Di sisi lain, permintaan dari sektor pembangkit listrik berbahan bakar fosil mengalami penurunan 4,7% pada kuartal I-2025 secara tahunan.
Tren ini dipengaruhi oleh dua faktor utama: melambatnya konsumsi listrik nasional dan meningkatnya kapasitas pembangkit energi terbarukan. Namun demikian, investasi besar-besaran dalam infrastruktur masih menjadi penopang utama kebutuhan listrik di dalam negeri.








