CMI NEWS — Kepemimpinan Iran untuk saat ini dipegang oleh dewan khusus usai tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.

Dikutip dari Al Jazeera, Senin, (2/3/2026), dewan tersebut beranggotakan presiden Iran, kepala kehakiman, serta satu ahli hukum dari Dewan Penjaga Konstitusi.

Ketiganya akan ditugaskan dalam menjalankan seluruh fungsi kepemimpinan nasional secara sementara.

Serangan AS dan Israel itu disebut Iran sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Republik Islam.

Sejumlah fasilitas pertahanan dan objek sipil dilaporkan menjadi sasaran di berbagai kota.

Iran pada Minggu (1/3/2026) secara resmi mengonfirmasi kematian Khamenei akibat serangan tersebut.

Pemerintah juga menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Pasca pengumuman wafatnya Khamenei, Korps Garda Revolusi Islam menyatakan Iran akan melancarkan operasi balasan besar-besaran.

“Operasi ofensif terberat dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan segera dimulai menuju wilayah dan pangkalan teroris Amerika yang diduduki,” demikian pernyataan IRGC dikutip dari Reuters Senin, (2/3/2026).

Pernyataan itu mempertegas sikap Teheran yang menilai serangan AS dan Israel sebagai aksi agresi terbuka. Iran menegaskan tidak akan membiarkan kematian pemimpin tertingginya berlalu tanpa respons.

Situasi kawasan pun kian tegang. Sejumlah negara di Timur Tengah meningkatkan kewaspadaan menyusul ancaman serangan balasan dari Iran dan potensi eskalasi konflik yang lebih luas.