CMI NEWS — Bulan suci Ramadhan identik dengan ibadah dan pengendalian diri.

Namun di balik itu, puasa Ramadhan juga memiliki manfaat besar bagi kesehatan tubuh, baik secara fisik maupun mental.

Puasa yang dijalani selama sekitar 12–14 jam setiap hari memberi kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat dari aktivitas pencernaan.

Dalam fase ini, tubuh melakukan proses pemulihan alami yang berdampak positif bagi berbagai sistem organ.

Puasa Ramadhan sendiri merupakan kewajiban bagi umat Islam dan termasuk dalam rukun Islam.

Menariknya, berbagai kajian medis menunjukkan bahwa pola menahan makan dan minum dalam jangka waktu tertentu justru membantu meningkatkan keseimbangan metabolisme tubuh.

Dikutip dari kanal YouTube Dokter Zaidul Akbar, puasa dinilai mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh dan menurunkan risiko penyakit.

“Puasa membantu memperkuat sistem imun, sehingga tubuh menjadi lebih tahan terhadap gangguan kesehatan, baik fisik maupun psikis,” ujarnya, dikutip Rabu (25/2/2026).

Secara medis, puasa diketahui dapat meningkatkan kinerja sel getah bening yang berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh.

Selama Ramadhan, jumlah limfosit sel imun yang melawan infeksi mengalami peningkatan signifikan.

Tak hanya itu, kadar antibodi tertentu juga bertambah, sehingga respons tubuh terhadap peradangan dan infeksi menjadi lebih optimal.

Kondisi ini membuat tubuh lebih siap menghadapi berbagai ancaman penyakit.

Puasa Ramadhan juga erat kaitannya dengan pengendalian berat badan.

Pola makan yang lebih teratur saat sahur dan berbuka, disertai pengendalian hawa nafsu, membantu menekan risiko obesitas.

Berbeda dengan diet ekstrem yang sering memicu stres, puasa Ramadhan dijalani dengan landasan keimanan.

Ketenangan batin selama berpuasa berperan besar dalam menurunkan kecemasan, emosi berlebih, serta tekanan psikologis yang kerap memicu gangguan metabolisme.

Manfaat lainnya, puasa dipercaya membantu mencegah pembentukan batu ginjal.

Selama puasa, terjadi peningkatan volume urine dan perubahan kadar mineral tertentu yang dapat menghambat proses kristalisasi garam kalsium di saluran kemih.

Karena itu, Ramadhan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga.

Bulan suci ini menjadi momen tepat untuk memperbaiki pola hidup, mengatur pola makan, serta menata kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh.

Dengan diiringi ibadah, zikir, dan membaca Alquran, puasa Ramadhan diyakini mampu mengarahkan energi tubuh dan pikiran ke arah yang lebih positif dan seimbang.