
CMI News – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, banyak orang kembali berpegang pada prinsip klasik “cash is king”.
Ungkapan ini seolah menegaskan pentingnya menjaga likuiditas dengan menyimpan uang tunai dalam jumlah besar, baik di rekening tabungan maupun dalam bentuk mata uang asing seperti dolar AS.
Namun, sejumlah pakar keuangan justru memberi peringatan berbeda. Menurut mereka, menimbun terlalu banyak uang di rekening justru bisa jadi keputusan finansial yang keliru dalam jangka panjang.
💸 Nilai Uang Bisa Tergerus Inflasi
Meski menyimpan uang tunai terasa aman, ada risiko besar yang sering diabaikan: inflasi.

Nilai uang yang disimpan tanpa berkembang akan terus menurun daya belinya seiring waktu.
Selain itu, risiko lain datang dari keamanan rekening, yang tidak memiliki perlindungan layaknya kartu kredit.
“Rekening tabungan sering kali tidak memiliki perlindungan seperti kartu kredit,” ujar Jessica Goedtel, perencana keuangan bersertifikat asal Pennsylvania, dikutip dari Make It (30/10/2025).
Ia menambahkan, jika rekening diretas atau dibobol, dana bisa sulit dikembalikan. Karena itu, menyimpan uang berlebih di rekening bukanlah strategi yang aman.
⚖️ Simpan Seperlunya, Jangan Berlebihan
Menurut Gregory Guenther, konselor perencanaan pensiun di New Jersey, idealnya seseorang hanya perlu menyimpan uang tunai di rekening untuk membiayai kebutuhan satu hingga dua minggu.
“Kalau terlalu sedikit, kamu akan cemas setiap kali bertransaksi. Tapi kalau terlalu banyak, kamu kehilangan kesempatan untuk menumbuhkan uang di instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi,” jelasnya.
Menurut Guenther, jumlah simpanan yang ideal bersifat personal. Tujuannya bukan sekadar menjaga rasa aman, tetapi juga agar seseorang bisa hidup tenang tanpa harus memeriksa saldo setiap kali ingin berbelanja kebutuhan sehari-hari.
🏦 Tabungan Darurat Tetap Harus Dipisahkan
Pakar keuangan juga menegaskan bahwa saldo di rekening aktif tidak bisa disamakan dengan dana darurat.
Dana darurat memiliki fungsi berbeda — yakni untuk menutup pengeluaran besar dan tak terduga, seperti biaya medis, kehilangan pekerjaan, atau kerusakan rumah.
Secara umum, para ahli menyarankan agar setiap orang memiliki dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran bulanan, disimpan di rekening berbunga tinggi atau instrumen berisiko rendah.
Dengan begitu, uang tetap mudah diakses saat dibutuhkan, tapi tidak mengendap sia-sia.






