
CMI News — Kebangkitan Nokia memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun menjauh dari bisnis ponsel, perusahaan asal Finlandia ini kembali mencuri perhatian industri teknologi global. Pemicu utamanya datang dari langkah agresif Nvidia yang menggelontorkan investasi senilai US$1 miliar atau sekitar Rp 16,6 triliun untuk membeli 2,9% saham Nokia.
Investasi ini bukan sekadar aksi korporasi biasa, tetapi sinyal kuat bahwa Nokia kini menjadi bagian penting dari peta persaingan infrastruktur AI dan jaringan generasi berikutnya.
Nvidia Dorong Transformasi Nokia ke Pusat Ekosistem Data Center AI
Keputusan Nvidia masuk ke Nokia langsung mendapatkan respons positif pasar. Saham Nokia melonjak ke level tertinggi dalam 10 tahun terakhir—sebuah indikator bahwa investor percaya kerja sama ini bukan sekadar berita besar, tapi punya “daging” bisnis yang nyata.
Selama satu dekade terakhir, Nokia mengubah strategi besar-besaran. Dari produsen ponsel legendaris, perusahaan ini beralih fokus menjadi penyedia perangkat jaringan dan infrastruktur telekomunikasi. Ini langkah realistis mengingat persaingan smartphone yang dikuasai pemain Asia.

Dengan masuknya Nvidia, transformasi itu kini naik kelas. Kolaborasi kedua perusahaan akan mencakup:
Pengembangan jaringan berbasis AI,
Integrasi produk data center Nokia ke dalam ekosistem infrastruktur Nvidia,
Penelitian bersama teknologi 5G lanjutan hingga 6G.
Tidak heran, pasar menilai kemitraan ini sebagai kombinasi strategis antara “otot komputasi” Nvidia dan “tulang punggung jaringan” Nokia.
Era Infrastruktur Data Center Melonjak: Momentum Tepat untuk Nokia
Riset McKinsey memperkirakan belanja modal global untuk pembangunan data center bakal menembus US$1,7 triliun pada 2030, didorong meledaknya permintaan AI.
Nvidia saat ini menguasai pasar chip AI untuk data center, dengan pelanggan besar seperti OpenAI dan Microsoft. Dengan menggandeng Nokia, Nvidia memperkuat rantai infrastruktur dari sisi perangkat jaringan dan konektivitas.
CEO Nvidia Jensen Huang bahkan menyebut kerja sama ini sebagai langkah besar untuk mendorong Amerika Serikat memimpin teknologi 6G.
“Terima kasih telah membantu Amerika membawa kembali inovasi telekomunikasi,” ujar Huang kepada CEO Nokia, Justin Hotard.
Nokia Masuki Babak Baru: Fokus Data Center & Radio AI
Justin Hotard, mantan eksekutif Intel yang resmi memimpin Nokia sejak April, menjadi tokoh kunci di balik transformasi perusahaan. Ia menyebut inti kolaborasi dengan Nvidia adalah pemanfaatan platform komputasi Nvidia yang kini dioptimalkan untuk perangkat mobile dan telekomunikasi.
Produk hasil kolaborasi ini ditargetkan meluncur pada 2027, dengan fokus pada teknologi 5G lanjutan dan 6G.
Meski sebagian besar perangkat Nokia saat ini menggunakan chip Marvell, integrasi chip Nvidia disebut akan membuka peluang besar di pasar AS. Menurut analis Danske Bank, Nokia akan mendapat keuntungan dari dominasi Nvidia di sektor data center Amerika.
Kolaborasi 3 Arah: Nvidia – Nokia – T-Mobile
Tidak berhenti di infrastruktur data center, kerja sama ini juga menggandeng T-Mobile untuk mengembangkan teknologi radio berbasis AI dan sistem 6G. Uji coba direncanakan dimulai pada 2026.
Langkah ini memperkuat posisi Nokia sebagai pemain kunci dalam persaingan teknologi jaringan generasi berikutnya, sekaligus menunjukkan bahwa perusahaan ini benar-benar meninggalkan bayang-bayang masa lalu sebagai raja ponsel.






