
CMI News — Singapura berencana memperketat aturan masuk bagi turis asing mulai 2026. Kebijakan ini menargetkan pelancong yang dianggap memiliki risiko tinggi, baik terkait kesehatan, keamanan, maupun pelanggaran imigrasi.
Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Negeri Seribu Merlion ingin lebih selektif dalam mengatur arus wisatawan di tengah meningkatnya mobilitas global.
Lonjakan Penolakan Turis Jadi Alasan Utama
Mengutip The Straits Times, jumlah wisatawan yang ditolak masuk ke Singapura pada semester I 2025 meningkat 43% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Banyak di antaranya merupakan individu dengan riwayat kejahatan atau pihak yang sebelumnya pernah dilarang masuk oleh otoritas imigrasi.
Kenaikan signifikan ini mendorong pemerintah memperkuat mekanisme penyaringan, guna memastikan bahwa kedatangan wisatawan ke Singapura tidak memicu risiko baru bagi masyarakat.

No-Boarding Direction (NBD): Penyaringan Dimulai Sebelum Terbang
Otoritas Imigrasi dan Pos Pemeriksaan (ICA) akan menerapkan sistem baru bernama No-Boarding Direction (NBD). Melalui mekanisme ini, maskapai atau operator transportasi wajib mencegah penumpang berisiko tinggi naik ke pesawat maupun kapal yang menuju Singapura.
Rencana penerapannya:
2026 — Bandara
2028 — Pelabuhan
Bagi operator transportasi yang melanggar NBD, pemerintah menyiapkan denda hingga S$10.000 (±Rp115 juta).
Kebijakan ini mengacu pada perubahan Undang-Undang Imigrasi (Amandemen) yang resmi berlaku sejak 31 Desember 2024.
Mengandalkan Teknologi, Bukan Tambahan Personel
Menteri Dalam Negeri, K. Shanmugam, menegaskan bahwa ICA terus bertransformasi untuk menyesuaikan diri dengan dinamika keamanan lintas negara. Pernyataan tersebut disampaikan saat peresmian ICA Services Centre (ISC) di Crawford Street, yang sudah beroperasi sejak April 2025.
Peningkatan volume pelancong lintas batas menjadi tantangan tersendiri. Pergerakan wisatawan melonjak dari 197 juta orang pada 2015 menjadi 230 juta orang pada 2024. Namun, jumlah personel tidak bisa ditambah secara agresif. Alhasil, digitalisasi dan otomasi sistem menjadi strategi utama.
“Kami lebih banyak mengandalkan teknologi untuk memenuhi permintaan dan menavigasi kondisi keamanan yang semakin kompleks,” ujar Shanmugam.
Dampak positif
✅ Pengawasan lebih ketat untuk mencegah kriminalitas dan penyebaran penyakit
✅ Efisiensi proses imigrasi berkat teknologi
✅ Keamanan warga dan pelancong meningkat
Tantangan yang mungkin muncul
❗ Wisatawan tertentu berpotensi mengalami penolakan lebih sering
❗ Operator transportasi harus beradaptasi dengan sistem NBD
❗ Biaya operasional dapat meningkat
Bagi wisatawan dengan rekam jejak bersih, perubahan ini kemungkinan tidak akan berdampak besar. Namun, pelancong dengan catatan pelanggaran imigrasi atau kriminal bisa menghadapi hambatan serius.






