
CMI News — Atmosfer Eropa yang dinanti-nanti ribuan pendukung Nottingham Forest runtuh dalam waktu singkat di Portugal utara. Di stadion unik yang berdiri di bekas tambang batu, Forest menampilkan permainan rapuh, kehilangan ketajaman, dan akhirnya menyerah akibat satu rangkaian kesalahan fatal.
Sebanyak 2.100 suporter Forest yang memadati tribun tandang tak mampu menyembunyikan kekecewaan. Sorakan bernada sinis terdengar, mengiringi performa tim yang tampak kebingungan sejak menit awal. Bahkan, hujan deras yang mengguyur Braga sebelum kick-off seolah menjadi simbol malam suram Forest.
Ironisnya, statistik justru memihak Forest. Tim tamu mencatat lima tembakan tepat sasaran, sementara Braga tak menghasilkan satu pun. Namun sepak bola tak selalu soal angka. Satu momen ceroboh sudah cukup untuk menghukum.
Petaka bermula di awal babak kedua. Forest mendapat peluang emas untuk unggul setelah James McAtee dijatuhkan di kotak terlarang. VAR mengonfirmasi penalti, dan Morgan Gibbs-White maju sebagai eksekutor. Sayangnya, tendangan yang dilepaskannya terlalu lemah dan mudah ditebak kiper Braga, Lukas Hornicek.
Belum sempat Forest bangkit dari kegagalan itu, malapetaka datang hanya 54 detik kemudian. Serangan cepat Braga diakhiri umpan tarik Ricardo Horta yang tanpa sengaja dibelokkan Ryan Yates ke gawang sendiri. Gol bunuh diri sang kapten membuat Matz Sels tak berdaya, sekaligus mengunci keunggulan Braga.

Sean Dyche menyebut momen tersebut sebagai “satu menit kegilaan”, namun ia juga tak menutup mata terhadap rapuhnya permainan timnya sepanjang laga. Kekalahan ini terasa makin menyakitkan, mengingat Forest baru saja menahan imbang Arsenal di Liga Inggris akhir pekan lalu.
“Ya, tentu mereka frustrasi,” kata Dyche, dikutip dari The Guardian, Jumat (23/1/2026).
“Mereka ingin kami tampil baik di kompetisi ini. Kami juga menginginkannya. Ini kompetisi besar yang sudah lama dinantikan klub. Saya paham kekecewaan mereka. Ekspektasinya tinggi musim ini. Tapi ini butuh waktu, kami tidak punya debu ajaib.”
Masalah utama Forest terlihat jelas di lini depan. Tanpa penyerang murni, tim tamu nyaris tak punya solusi. Igor Jesus absen karena cedera pinggul, Chris Wood masih dalam pemulihan pascaoperasi, Taiwo Awoniyi tak bisa dimainkan, sementara Arnaud Kalimuendo sudah dilepas ke Eintracht Frankfurt.
Akibat krisis tersebut, Dan Ndoye, seorang winger, dipaksa berperan sebagai ujung tombak—keputusan yang membuat Forest tumpul dan mudah dibaca. Satu-satunya ancaman nyata datang dari tembakan jarak jauh Ola Aina yang membentur mistar, sebuah peluang yang justru menegaskan betapa Forest kehabisan ide.
Situasi semakin panas di penghujung laga ketika Elliot Anderson diganjar kartu merah langsung akibat protes berlebihan di masa injury time. Momen itu menutup malam buruk Forest dengan rasa frustrasi yang lengkap.
Dengan hasil ini, Forest kini hanya mencatat satu kemenangan dalam delapan pertandingan terakhir di semua kompetisi. Klub dikabarkan bergerak cepat mencari solusi, termasuk upaya meminjam striker Napoli, Lorenzo Lucca, yang disebut telah terbang ke Inggris untuk merampungkan kepindahan.
Bagi Nottingham Forest, mimpi Eropa belum berakhir. Namun jika kesalahan sendiri terus terulang, perjalanan ini bisa berubah dari cerita nostalgia menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan.






