
CMI News – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup pekan dengan drama. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menyentuh rekor tertinggi intraday di 8.351,06 justru berbalik arah ke zona merah pada penutupan perdagangan. IHSG terkoreksi tipis 0,03% atau 2,63 poin ke level 8.271,72.
Padahal sehari sebelumnya, IHSG juga berhasil mencatatkan all time high (ATH) intraday di level 8.292,89. Reli panjang yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir seperti mulai “minta jeda”.
Sektor Properti Bersinar, Tapi Saham Konglomerasi Jadi Beban
Mayoritas sektor masih mencatatkan penguatan terutama properti, kesehatan, dan utilitas yang menjadi motor sentimen positif pasar. Namun koreksi cukup dalam terjadi pada sektor konsumer non-primer, barang baku, dan teknologi.
Yang menarik menjadi sorotan pasar hari ini adalah saham-saham konglomerasi yang justru menekan indeks.

Walau saham ASII dan BMRI menjadi penopang utama, tekanan datang dari nama besar kelompok usaha seperti Barito Pacific (BRPT), DCI Indonesia (DCII), Bumi Resources Mineral (BRMS), Elang Mahkota Teknologi (EMTK), dan Amman Mineral (AMMN).
Data perdagangan mencatat adanya transaksi ramai sebesar Rp22,46 triliun, melibatkan 28,84 miliar saham dalam 2,36 juta kali transaksi. Meskipun demikian, jumlah saham yang melemah masih lebih banyak:
371 saham turun
295 saham naik
143 saham stagnan
Pergeseran Strategi Investor: Dari Konglomerat ke Blue Chip
Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, investor kini mulai melakukan shifting portofolio dari saham konglomerasi yang spekulatif ke blue chip yang lebih defensif dan berfundamental kuat.
“Sudah terjadi shifting dari saham konglomerat ke saham blue chip,” jelasnya.
Secara musiman, performa IHSG diyakini tetap positif hingga Februari 2026, didukung momen window dressing akhir tahun dan January effect pada awal tahun mendatang.
Sentimen Lokal & Global Masih Jadi Penggerak
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan IHSG belakangan ini tak lepas dari:
1.Kebijakan Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan
2. Stimulus pemerintah yang menopang sektor consumer goods
3. Harapan positif dari agenda pertemuan Xi–Trump pekan depan
Ia mencontohkan kinerja saham Unilever (UNVR) yang naik tajam sejalan dengan laporan keuangan yang solid.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa saham konglomerasi masih tergolong high risk – high return, sehingga arah pergerakannya sulit diprediksi.






