CMI News — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi perdagangan Rabu (3/12/2025) dengan pelemahan tipis sebesar 0,06% ke level 8.611,79. Setelah dibuka menguat pada sesi pertama, indeks justru berbalik arah pada sesi kedua, mencerminkan dinamika pasar yang masih sensitif terhadap sentimen global maupun domestik.

Pada akhir perdagangan, 328 saham menguat, 316 melemah, dan 160 stagnan. Aktivitas transaksi cukup solid, mencapai Rp 21,28 triliun dengan total 47,10 miliar saham yang berpindah tangan dalam lebih dari 2,7 juta transaksi.

Tekanan Sektor Energi & Barang Baku, Teknologi Jadi Penopang

Dari sisi sektoral, mayoritas indeks bergerak di zona merah. Sektor energi dan barang baku menjadi pemberat utama akibat koreksi harga komoditas global. Sebaliknya, teknologi dan properti tampil sebagai penahan koreksi, seiring membaiknya minat investor terhadap saham-saham growth.

Sejumlah emiten berkapitalisasi besar (blue chips) terlihat memberikan tekanan pada indeks. Emiten seperti DSSA, BBRI, BBCA, AMMN, dan CUAN menjadi kontributor penurunan IHSG. Di sisi lain, saham-saham seperti DCII, MORA, BMRI, TLKM, dan BYAN mampu menahan koreksi lebih dalam.

Masih dalam Euforia Rekor IHSG

Koreksi tipis hari ini terjadi di tengah euforia pasar setelah IHSG mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa di 8.617,04 pada perdagangan Selasa (2/12). Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung melakukan aksi ambil untung secara terbatas.

Dari sisi eksternal, pasar juga mencerna proyeksi pertumbuhan ekonomi terbaru dari OECD serta data ekonomi Amerika Serikat yang menjadi acuan arah kebijakan moneter global. Kombinasi sentimen ini membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.