
CMI News — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan tren positif pada pembukaan perdagangan Kamis (20/11/2025). IHSG dibuka menguat 0,52% ke posisi 8.450, dengan 252 saham bergerak naik, sementara 70 saham turun dan 634 stagnan.
Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp1 triliun, melibatkan lebih dari 1,37 miliar saham dalam 111 ribu transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp15.419 triliun.
Kenaikan IHSG pagi ini sejalan dengan sentimen positif di pasar global, terutama dari reli saham teknologi yang dipicu lonjakan permintaan chip kecerdasan buatan (AI).
Bursa Asia Ikut Menguat, Dipimpin Reli Sektor Chip
Bursa Jepang menjadi motor utama penguatan regional. Nikkei 225 melesat 3,7%, sementara Topix naik 1,67%. Sentimen ini digerakkan oleh kinerja Nvidia yang kembali mengalahkan ekspektasi pasar.

Saham-saham teknologi Jepang pun terbang tinggi:
SoftBank naik 8%
Tokyo Electron melesat hampir 7%
Lasertec menguat 5,6%
Renesas Electronics naik 4,8%
Di Korea Selatan, Kospi naik 2,63% dan Kosdaq menguat 1,75%. Raksasa chip Korea, SK Hynix dan Samsung Electronics, ikut terdorong masing-masing lebih dari 6% dan 3,3%.
Pasar Australia juga positif dengan S&P/ASX 200 yang naik 1%. Hanya kontrak berjangka Hang Seng yang bergerak sedikit melemah ke 25.820, mencerminkan sentimen investor Hong Kong yang masih berhati-hati.
Nvidia Jadi Pemicu Reli Global
Reli bursa Asia tidak lepas dari laporan kinerja Nvidia yang kembali mencetak hasil di atas proyeksi analis. Saham raksasa chip AI itu melonjak lebih dari 4% setelah merilis pendapatan kuartal fiskal ketiga yang melampaui ekspektasi—baik dari sisi laba maupun penjualan.
Nvidia bahkan memberikan proyeksi penjualan kuartal berikutnya yang lebih optimistis. CEO Jensen Huang menyebut permintaan chip AI generasi Blackwell berada pada level “off the charts”, menandai lonjakan besar pada sektor yang sedang menjadi motor pertumbuhan pasar global.
Dari Dalam Negeri: BI Tahan Suku Bunga, Likuiditas Ditambah
Di sisi domestik, perhatian pelaku pasar tertuju pada kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan BI-Rate di 4,75%. Kebijakan ini menjadi jangkar stabilitas nilai tukar di tengah volatilitas global.
BI juga mengucurkan insentif likuiditas makroprudensial lebih dari Rp400 triliun, yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Strategi “gas dan rem” yang diterapkan BI—menahan suku bunga sambil menambah likuiditas—dinilai menjadi kombinasi yang cukup efektif menjaga momentum ekonomi.
Agenda Ekonomi Hari Ini
Selain BI Rate, ada beberapa data penting yang turut mewarnai sentimen pasar:
Risalah FOMC yang bisa memberikan gambaran arah kebijakan The Fed.
Rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan data transaksi berjalan.
Konferensi pers APBN KiTA, yang sering memberi update tentang kondisi fiskal terkini.
Pelaku pasar melihat kombinasi faktor domestik dan global ini sebagai penentu arah IHSG sepanjang hari.






