CMI News – Kemenangan 3-0 Liverpool diraih berkat gol dari tendangan bebas Dominik Szoboszlai, gol bunuh diri yang dipaksa oleh Jeremie Frimpong, serta gol di menit tambahan dari pemain pengganti Cody Gakpo.

Liverpool bermain dengan percaya diri dan tenang, meski atmosfer di stadion begitu panas — sorak-sorai penggemar mulai terdengar satu setengah jam sebelum kick-off.

Arne Slot kembali menggunakan formasi diamond di lini tengah yang efektif sebelumnya melawan Inter, namun kali ini Mohamed Salah tetap menjadi starter setelah kembali dari Piala Afrika.

Kedua tim mengenakan pita hitam dan memberikan tepuk tangan sebelum laga untuk menghormati mendiang mantan pemain dan manajer Marseille, Rolland Courbis, yang meninggal pada 12 Januari.

Para penggemar Marseille juga menampilkan tifo kreatif: The Beatles membaca koran La Provence dengan tajuk “Que l’histoire se répète” — “Biarkan sejarah terulang kembali” — mengingat momen Didier Drogba mengeliminasi Liverpool dari Piala UEFA 2004.

Sejak awal, Liverpool mendominasi permainan. Marseille terlihat tertekan oleh atmosfer pertandingan dan kesulitan menguasai bola.

Alexis Mac Allister sempat melewatkan peluang di awal, sebelum Hugo Ekitiké memanfaatkan serangan balik cepat Liverpool.

Gol pertama datang dari tendangan bebas Szoboszlai setelah Leonardo Balerdi menjatuhkan Ryan Gravenberch di dekat kotak penalti Marseille. Eksekusi Szoboszlai yang rapi membuat penalti tidak diperlukan.

Gol kedua lahir dari gol bunuh diri yang dipaksa Frimpong. Umpan silang rendahnya memanfaatkan kesalahan Facundo Medina dan kiper Gerónimo Rulli, sehingga bola masuk ke gawang sendiri.

Gol penutup dicetak Cody Gakpo pada masa injury time, memanfaatkan umpan terobosan Ryan Gravenberch, menegaskan kemenangan Liverpool.

Kemenangan 3-0 ini mencerminkan dominasi Liverpool sepanjang pertandingan, sekaligus menegaskan keunggulan mereka di kompetisi Eropa, sementara masalah performa di Premier League bisa sedikit dikesampingkan.