
Pagi itu langit cerah. Tidak ada mendung. Hanya ada gumpalan awan putih yang melayang pelan, seperti kapas di atas desa.
Pak Irhom duduk di depan rumah. Tangannya memegang sapu lidi. Halaman rumahnya ia sapu pelan; rata dan bersih. Rambutnya sudah putih, langkahnya pun sudah pelan. Tapi hatinya… ia usahakan tetap ringan.
Dari warung seberang, suara nyaring itu terdengar lagi. Menghasut. Membicarakan orang. Membicarakan Pak Irhom yang cuma diam. Membicarakan Muna, istrinya, yang setiap hari tetap belanja di warung itu meski sering mendapat tatapan sinis.
Pak Irhom berhenti menyapu. Ia menarik napas.
Dulu ia pernah kesal. Dulu ia pernah ingin membalas. Tapi makin dibalas, makin bising hidupnya. Makin dibalas, makin berat. Sekarang ia memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena ia tahu: orang yang hatinya penuh noda biasanya paling kencang berteriak paling suci.

“Serba salah ya, Irhom,” gumamnya sendiri. Kalau merapikan halaman, dimarahi. Kalau diam, dibilang sombong. Kalau senyum, dibilang pura-pura.
Malam harinya, Rani, anak perempuannya, duduk di sampingnya. Ia memegang tangan ayahnya pelan lalu berkata, “Yah, Bapak itu jalannya sudah pelan. Jangan biarkan mulut orang lain yang bikin Bapak jatuh. Jaga hati Bapak untuk Ibu Muna dan untuk aku.”
Kalimat itulah yang Pak Irhom ingat sampai sekarang.
Ia melihat ke langit lagi. Langit itu tidak pernah marah meski kadang dilempari batu. Langit itu tetap biru. Tetap terang. Tetap indah dipandang. Karena langit tidak pernah menyimpan hujan di dalam dirinya.
Pak Irhom tersenyum. Hidup yang nyaman itu bukan hidup tanpa orang rese, pikirnya. Hidup yang nyaman itu hidup yang bisa berjalan tanpa beban di hati. Seolah tidak ada hujan yang tertinggal. Seolah hati ini seputih awan.
Malam harinya ia menulis di buku kecil:
“Damainya hati bukan karena semua orang baik padaku. Tapi karena aku memilih tidak membawa keburukan mereka masuk ke dalam hatiku.”
Sejak itu, setiap kali suara hasutan itu terdengar, Pak Irhom hanya menatap langit.
Ia tidak menjawab dengan mulut. Ia menjawab dengan damai.
Karena Pak Irhom percaya, hati yang damai itu seperti langit tanpa hujan. Terang. Cerah. Seputih hati yang tidak menyimpan dendam. Dan ia ingin menjaga damai itu, untuk Muna dan Rani.








