RUMAH YANG DIRINDU: DOA IBU

Pagi itu hujan turun pelan. Langit kelabu menggantung rendah, dan udara dingin meresap ke setiap sudut desa.

Rani baru saja muntah untuk kedua kalinya di depan pintu. Wajahnya pucat, tubuhnya lemas, tapi ia tetap memaksa berangkat ke puskesmas. Di ujung gang, Bang Toni sudah menunggu dengan motor tua yang ditutupi terpal biru.

“Pelan-pelan ya, Nduk,” kata Bang Toni sambil membantu Ibu menaikkan Rani ke jok belakang.

Ibu langsung memeluknya erat. “Pegang yang kuat, Nak. Ibu ada di belakangmu.” Suara Ibu bergetar, nyaris tenggelam oleh deru hujan.

Setiap guncangan di jalan berlubang membuat Rani meringis. Namun, pelukan Ibu tidak pernah kendur; hangatnya menahan tubuh Rani agar tidak terjatuh.

Di puskesmas, dokter hanya menulis tiga resep dan berpesan, “Istirahat. Banyak minum. Jaga pikiran.”

Kini Rani terbaring di kamar. Ayah duduk di sampingnya, menggenggam tangannya yang dingin. Mata Ayah sembab. Dari dapur, aroma sayur sop buatan Ibu perlahan memenuhi rumah—menenangkan, mengingatkan pada kenangan masa kecil.

Tanda-Tanda yang Terabaikan

Sudah setahun lebih ada yang tidak beres. Rani sering kali kasar dalam bertutur kata. Teguran Ayah dianggapnya angin lalu, dan nasihat Ibu tidak pernah sampai ke hatinya. Selama itu pula, tanda-tanda datang tanpa henti:

  • Mimpi buruk yang membuat Rani terbangun ketakutan.

  • Suara gamelan yang terdengar di tengah malam, terkadang di siang bolong.

  • Suara benda jatuh sangat keras di atas atap, padahal tak ada apa-apa.

  • Petir yang menggelegar mencekam di malam Jumat Pahing.

  • Dua ekor burung perkutut yang terus-menerus ingin mendekati rumah.

  • Burung hantu yang bertengger di bubungan, menatap tajam tanpa suara.

Semua misteri itu belum terjawab hingga akhirnya Rani jatuh sakit. Barulah Ayah tersadar sepenuhnya.

“Ini teguran. Ini peringatan dari alam semesta. Dari Allah.”

Malam sebelum dibawa ke puskesmas, Ibu duduk di pojok kamar sambil memeluk foto Rani kecil. Ia berbisik, “Ibu sudah memendam rasa sakit ini setahun lebih, Nak. Tapi Ibu tetap sayang kamu.”

Keajaiban Maaf

Keajaiban tidak datang dari obat saja. Setelah Rani menangis meminta maaf, setelah kata-kata itu keluar dari hati yang remuk: “Bu, maafkan Rani. Rani salah. Rani durhaka…”

Ibu memeluknya lama, lalu berbisik, “Ibu maafkan. Ibu rida.”

Seketika itu juga, demam Rani turun dan napasnya kembali tenang. Kunci gerbang rezeki seolah terbuka kembali dengan kelapangan jiwa. Ayah menatap Rani dan berkata lirih:

“Nak, jangan pernah lupakan siapa yang berdoa untukmu saat kau bahkan belum bisa berdoa untuk dirimu sendiri. Rida ibu adalah rida Tuhan. Murka ibu adalah murka Tuhan.”

Ketika hujan reda, cahaya pagi menyusup ke kamar, menyentuh wajah Rani yang mulai bersemu. Harapan yang selama ini terkunci, kini terbuka kembali.


RUANG RINDU (Epilog)

Tulisan ini adalah sebuah pengingat:

  • Untuk Rani, yang baru berusia 15 tahun dan masih harus banyak belajar.

  • Untuk Ayah, yang hanya ingin anaknya menjaga lisan dan ucapan.

  • Untuk Ibu, yang memendam api dalam sekam selama setahun lebih, namun tetap mendoakan.

Doa ibu adalah ruang rindu. Tempat seorang anak pulang, bukan hanya dengan tubuh, melainkan dengan hati yang tunduk. Ruh dan jasad tidak bisa dipisahkan; menghormati ruh berarti menjaga hati dari kesombongan, dan menyayangi jasad berarti menjaga diri dari jurang kenistaan. Naudzubillahimindzalik.

Kini Rani sudah membaik. Malam ini, ia dan Ibu tertidur pulas. Ayah tetap terjaga, menemani kedua permatanya. Karena rumah yang dirindu bukan sekadar dinding dan atap, tapi pelukan ibu yang menghangatkan, doa ayah yang menguatkan, dan maaf yang menyembuhkan.

Dan di ruang rindu itu, doa ibu akan selalu menanti.

— TAMAT —