Inspirasi dari Kehidupan
Setelah kali ketiga pertemuan, akhirnya Robi pulang. Entah apa yang terbesit di fikiran Robi, dia terus menguatkan untuk tetap melanjutkan niatnya untuk menikah, walau sebenarnya dia sendiri tidak tahu perasaan apa yang ada di dalam sanubari.
Pintu terbuka setelah Robi mengetuknya. Robi langsung masuk ke dalam. Belum sempat Robi duduk, nenek Robi sudah langsung menegurnya.
“Gimana hasil pertemuanmu, Rob, dengan keluarga mereka?” tanya Nenek Robi seraya mengambil air putih dan memberikannya kepada Robi.
Sejenak Robipun terdiam dan berkata, “Iya, Nek, kalau hal sudah menjadi kehendak Yang Kuasa, apapun itu Robi akan menerimanya. Mungkin ini jalan terbaik,” gumam Robi.
“Tapi apakah kamu sudah siap, Nak?” lanjut nenek Robi.
“Insya Allah, Nek, aku siap. Ada sesuatu hal yang masih menjadi pertanyaan di hati Robi.”
“Iyahh, semoga saja perempuan ini jadi jodohmu,” kata nenek sambil masuk ke dalam kamarnya.
“Iya, Nek,” jawab Robi.
Sesaat Robi terdiam, dia terus menatap ke arah pintu. Berharap ada seseorang datang dan dia akan menceritakannya. Jam di dinding menunjukan pukul 00.20. Robi segera beranjak dari tempat duduknya; dia sampai lupa belum melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai salat Isya, Robi berdoa.
“Ya Allah, jika ini jodohku, aku akan menerimanya. Aminn.”
Terdengar suara ketukan dari pintu depan.
“Assalamualaikum…?”
Sekali lagi suara ketukan pintu berbunyi. Robi buru-buru keluar ke arah pintu.
“Waalaikumsalam…” jawab Robi. “Eeeh, Pak RT. Silahkan masuk, Pak RT,” sekali lagi Robi menjawab sambil mempersilahkan ketua RT itu duduk.
“Begini, Rob,” lanjut Pak RT Slamet melanjutkan bicaranya. “Usahakan besok Nak Robi sudah mempersiapkan berkas-berkasnya… ya?!”
“Iya, Pak,” jawab Robi.
Beberapa jam kemudian Pak RT berpamitan setelah apa yang sudah menjadi kesepakatan dan meneruskan rencana. Malam semakin larut, tapi Robi belum bisa untuk memejamkan kedua matanya. Banyak sekali yang masih menjadi pertanyaan di benaknya. Ia lalu keluar dari kamarnya dan menuju ke arah pintu. Ia pun keluar setelah pintu terbuka.
Robi duduk di kursi teras sambil sesekali mengamati sekitarnya. Matanya menatap jauh ke atas langit; bintang-bintang nampak menghiasi di langit. Robi terus memandangi sinar rembulan yang terlihat terang bulat memancarkan cahayanya.
“Iya… aku harus menolong perempuan ini,” ucap Robi dalam hati.
Udara dingin semakin terasa di tubuh Robi. Iapun lalu masuk kembali ke dalam rumah dan mematikan lampu ruangan, lalu beranjak masuk ke kamar membaringkan tubuhnya. Suasana malam kian merayap jauh. Keheningan semakin terasa, hanya suara jangkrik kecil terus berbunyi menghiasi heningnya malam yang terus berlalu.
Hari ini cuaca sangat cerah, musim kemarau panjang masih terasa. Pagi ini Robi sudah mempersiapkan segala keperluan yang semalam Pak RT sampaikan. Ia pun segera berkemas. Setelah sarapan pagi, ia lalu pamit ke neneknya.
“Semoga Allah SWT memudahkan, Nak,” ucap nenek Robi.
Robi mengangguk seraya berucap, “Doa restumu, Nek.”
Robi mencium tangan nenek, lalu keluar rumah dan berjalan ke arah jalan besar. Nenek Robi tersenyum melihat Robi terus berjalan untuk menuju ke kantor KUA. Ruangan kantor KUA itu nampak bersih; beberapa meja dan kursi tertata rapi. Ada beberapa petugas dan beberapa orang yang di pagi itu nampak sibuk dengan pekerjaan tugasnya.
“Mari, silahkan masuk,” sapa petugas dari dalam ruangan kantor.
Robi duduk bersama seseorang wanita di sampingnya. Dan terlihat Pak RT Slamet beserta rekannya ikut masuk dan duduk di sebelah kiri pojok ruangan kantor. Tak berapa lama, datang seorang berseragam berpeci hitam. Mungkin ini penghulunya, gumam Robi dalam hati. Dan setelah memberikan berkas yang dibawa, Pak RT Slamet lalu menyerahkan kepada petugas tersebut. Setelah itu, petugas tersebut membuka map dan mengamatinya, lalu memandangi kedua calon mempelai.
“Apakah sudah lama mengenal dengan wanita ini?” ucap Pak Penghulu sambil menatap ke arah wajah Robi.
“Baru tiga hari, Pak,” jawab Robi.
“Ooh.” Pak Penghulu itupun agak sedikit heran.
Sebelum kembali bertanya kepada Robi, Pak RT Slamet menjawab dan menjelaskan kepada petugas penghulu itu. Setelah mendengarkan semua penjelasan dari Pak RT Slamet, kemudian Pak Penghulu itu melanjutkan seraya tersenyum ramah kepada Robi dan calon pengantin wanitanya.
“Alhamdulillah,” ucap Pak Penghulu. “Semoga ini sudah menjadi jodoh terbaik,” meneruskan kalimatnya. “Mari sekarang kita mulai,” kata Pak Penghulu kepada semua yang hadir di ruangan itu.
Acara ijab qobul pun dimulai, dan beberapa penjelasan serta nasehat juga turut disampaikan. Setelah semua siap, Pak Penghulu meminta kepada Robi untuk berjabat tangan untuk mengucapkan ikrar sumpah dan ijab qobul. Beberapa saksi dan wali mempelai putri sudah siap. Robi pun sudah mengikuti arahan dan siap ikrar janji suci.
Namun, sesaat ada sedikit keanehan. Saat baru dimulai kata ikrar, seketika tangan Pak Penghulu melepaskan sambil melihat sesuatu persis di depannya. Ada kumbang berwarna kuning bercorak hitam yang terus terbang mengitari di depan mereka, dan itupun terjadi berulang kali hingga kali ketiga. Kumbang itupun akhirnya menjauh terbang ke atas, lalu keluar melalui celah-celah teralis jendela.
Seketika prosesi akad nikah terhenti sejenak, lalu kembali tangan Pak Penghulu meminta Robi untuk berjabat tangan sambil tersenyum ramah seraya berkata lirih.
“Ada yang datang ingin ikut menyaksikan,” ucapnya pelan.
Proses ikrar itupun selesai setelah kalimat sah terucap dari wali wanita. Akhirnya Robi dan istrinya pulang dengan menaiki sepeda motor milik Pak RT dan rekan-rekannya. Setelah masuk ke dalam rumah, Muna yang sudah menjadi istri Robi, Robipun mengikuti istrinya masuk ke kamar. Di dalam kamar, mereka berdua hanya bisa saling bertatapan tanpa ada tutur sapa. Dan setelah keduanya berganti pakaian baju pengantin yang mereka kenakan, lalu keduanya menghambur keluar kamar.
Di dalam ruang tengah serta depan masih banyak tamu yang datang saling berbincang sambil menikmati hidangan yang disajikan oleh keluarga dari istri Robi. Suasana yang senang gembira kian menambah rasa kebahagiaan di tengah-tengah keluarga mereka. Waktupun berlalu, tak terasa sudah empat belas hari Robi berada di tengah-tengah keluarga kecil dari Muna, istrinya. Di situ ada kakak perempuan dari istri Robi. Kakak iparnya sangat begitu baik menerima keberadaan Robi sebagai bagian dari keluarganya. Orangnya sangat ramah dan lebih banyak memberi perhatian.
Sudah hampir satu bulan Robi belum sempat menengok rumahnya sejak Robi menikah. Robi dan Muna hanya menikah di KUA. Tidak ada acara resepsi, karena semua berjalan begitu cepat sejak perkenalan singkat dengan istrinya. Sabtu, minggu, dan hari senin mereka menikah. Ada perasaan yang masih canggung dan malu yang masih menghinggapi.
“Kok melamun, Mas?” tegur istriku seraya masuk ke dalam kamar sambil merapikan pakaian yang siang tadi dicuci.
Robi sedikit kaget mendengar istrinya berkata. Iapun segera bangun dan duduk di tepi ranjang tidurnya. Seolah tak percaya dengan semua saat itu Robi rasakan. Lalu Robi memanggil pelan serta mengajak duduk istrinya.
“Nama lengkap kamu siapa?” tanya Robi kepada istrinya.
Istrinyapun menjawab, “Munaya.”
Itulah kenapa Robi masih terasa bingung, sebab selama dia menikah dari perkenalan tiga hari itu tidak banyak yang ia ketahui dari pribadi sosok istrinya. Tapi Robi sudah merasa yakin inilah jodoh yang telah digariskan Tuhan untuk dirinya.
Hari terus berlalu, bulan silih berganti, dan tahunpun terus berjalan seiring waktu yang terus berputar. Satu tahun sudah berlalu, istri Robi mengandung. Dan tepat di usia kandungan yang menginjak ke sembilan, beberapa hari lagi Robi akan mempunyai seorang anak.
Tepatnya Sabtu malam, istri Robi sudah merasakan ada gejala ingin melahirkan. Robi yang hanya tinggal berdua dengan istrinya—karena kakak ipar Robi sudah ikut dengan suaminya—makanya Robi sangat panik setelah mendengar istrinya mengeluh sakit pada perutnya.
Dengan tergesa-gesa ia pergi keluar ke rumah tetangganya untuk meminta bantuan. Ada rasa bingung, panik, takut yang bercampur aduk saat itu. Itu baru pertama kali Robi rasakan. Untunglah ada dukun bayi yang datang menolong. Setelah agak lama di dalam kamar, muncul ibu dukun bayi dari pintu kamar. Iapun meminta agar istrinya segera dibawa ke puskesmas supaya mendapat penanganan medis.
Segera tanpa pikir panjang, Robi ke tempat rumah Pak Huri ingin menyewa mobilnya. Robi terus berlari menyusuri jalan menuju ke rumahnya. Tak berapa lama mobil datang, Robi segera mengangkat istrinya yang masih kuat untuk berjalan. Dengan pelan Robi terus menuntun istrinya masuk ke dalam mobil. Rasa tegang yang terus dirasakan Robi hingga sampailah ke puskesmas, mobil yang ditumpangi oleh Robi dan istrinya.
Dan tak lama setelah dari ibu bidan memberi penanganan, Robi sedikit merasa lega. Di teras depan puskesmas Robi duduk dengan segala rasa perasaan gelisah. Sesekali ia menengok ke arah pintu masuk di mana istrinya dirawat di ruangan itu. Lama sekali, sudah hampir tiga puluh menit pintu ruangan belum juga terbuka. Akhirnya ada yang menghampiri, seorang bidan menanyakan langsung kepada Robi. Robi pun mengerti apa yang disampaikan bidan tersebut. Iapun segera menemui istrinya yang berbaring.
“Gimana…?” hanya itu yang Robi ucapkan kepada istrinya.
Istri Robi hanya tersenyum dan menjelaskan dengan suara lirih sambil sesekali merapikan posisi tubuhnya. Robi menatap wajah sang istri dalam-dalam. Ia mulai mengusap wajah, pipi, serta rambut istrinya seraya berkata, “Maafkan saya, semoga saja tidak terjadi apa-apa terhadapmu juga kandunganmu?” ucap Robi sambil terus mengusap rambut istrinya.
Bergemuruh rasa di dalam dada Robi. Rasa khawatir yang teramat sangat seketika membuat mata Robi berkaca-kaca dan menetes air mata Robi. Isak tangis yang ditahan, Robi hanya bisa pasrah setelah mendengar apa yang telah dijelaskan dokter lewat istri Robi. Belum berapa lama Robi merasa lega, kini mulai kembali dihinggapi rasa gelisah serta perasaan khawatir.
Sudah terasa lama keduanya berada di ruang bersalin, namun tak ada tanda-tanda akan segera melahirkan. Bidanpun menganjurkan untuk menunggu sampai besok, sehingga Robi dan istrinya bermalam di puskesmas. Setelah dirujuk ke rumah sakit, akhirnya istri Robi melahirkan. Anak pertamanya bayi mungil, bayi perempuan yang cantik.
Robi merasa lega setelah semalaman ia menemani istrinya melahirkan. Tangisan suara bayi nyaring terdengar di ruangan rumah sakit. Istri Robi tersenyum bahagia. Robi memeluk istrinya.
“Terima kasih, Sayang, kamu kuat,” ucap Robi.
Setelah menyelesaikan administrasi, Robi dan Muna, istrinya, bisa pulang dengan rasa bahagia bercampur haru sambil menggendong gadis kecilnya. Memasuki pintu mobil membawa mereka pulang. Kehadiran putri kecil memberi warna arti tersendiri akan adanya perubahan di diri Robi dan sang istri. Cahaya yang akan selalu memberi sinar. Mata yang selalu melihat kebesaran Tuhan-Nya.
“Amiinn…”
Doa suci yang akan terus mengiringi di sepanjang hidupnya.














