Siang yang terik, udara sangat panas, dan kemarau masih menggantung. Di tengah lahan sawah yang kering kerontang, Pak Mulyadi masih mencangkul. Udara panas tidak menjadi hambatan baginya untuk terus bekerja. Sesekali ia mengusap keringat di kening sambil membuka caping untuk mengipasi wajahnya.
Dari kejauhan, sosok istri Pak Mulyadi muncul membawa rantang berisi makanan. Ibu Mirah menelusuri pematang sawah dengan langkah mantap. Tak jauh di belakangnya, dua gadis cantik menghampiri, ditemani oleh beberapa orang lain.
“Istirahat dulu, Pak,” tegur Ibu Mirah seraya melambaikan tangan.
“Iya, Bu,” jawab Pak Mulyadi sambil menghentikan cangkulannya. Ia menghampiri istrinya dan duduk di depan gubuk kecil. Sambil memandang tanah kering, Pak Mulyadi melihat kedua gadis itu datang mendekat.
“Masih mencangkul, Pak?” tanya salah satu gadis. “Iya, Mbak,” balas Pak Mulyadi.
Kedua gadis itu lalu ikut duduk di samping gubuk sambil memperhatikan sekitarnya. Terlihat beberapa petani lain masih menggarap sawah yang meranggas. Pak Mulyadi menyodorkan air minum dari rantang yang dibawa istrinya. “Mau minum dulu?” tanyanya.
Kedua gadis itu mengangguk. Salah satu gadis yang tampaknya lebih tua mengambil gelas dan berkata, “Terima kasih, Pak. Kami tidak mengganggu, kan?”
Pak Mulyadi tersenyum. “Tidak apa-apa, Mbak. Silakan istirahat dulu.”
Gadis yang lebih muda, yang tampak berusia sekitar 20 tahun, menatap ke arah sawah dan bertanya, “Sawahnya kering sekali, Pak. Apa tidak apa-apa?”
Pak Mulyadi mengangguk. “Iya, Mbak. Kemarau panjang ini memang membuat sawah kering. Tapi kita harus tetap berusaha.”
Senyum Zifana dan Yuanita—nama kedua gadis itu—menyiratkan sesuatu yang lebih dalam. Pak Mulyadi dan Ibu Mirah tidak menyadari bahwa mereka memiliki rencana lain yang bukan sekadar membeli sawah.
Yuanita akhirnya angkat bicara, “Pak, kami tidak hanya ingin membeli sawah ini. Kami ingin membeli semua lahan yang ada di sekitar sini.”
Pak Mulyadi dan Ibu Mirah terkejut. “Semua lahan? Tapi itu tidak mungkin! Lahan-lahan itu adalah milik warga sekitar.”
Zifana menambahkan, “Itu tidak akan menjadi masalah, Pak. Ayah kami sudah berbicara dengan beberapa pemilik lahan lainnya, dan mereka sudah setuju untuk menjual.”
Pak Mulyadi menatap kedua anak dari Juragan Jafar, orang paling kaya di daerah itu. “Kami tidak akan menjual tanah ini!” tegas Pak Mulyadi seraya melirik istrinya.
Ibu Mirah hanya terdiam. Ia ingat betul kebaikan Zifana dan Yuanita yang pernah menolong keluarga mereka. Ketegasan Pak Mulyadi membuat kedua gadis itu sedikit terkejut, namun mereka tidak menyerah.
Yuanita tersenyum lagi. “Pak, kami tidak ingin memaksa. Tapi ayah kami sangat ingin memiliki lahan ini untuk proyek barunya. Kami yakin Bapak dan Ibu akan mempertimbangkan tawaran kami.”
“Tidak ada tawar-menawar, kami tidak menjual!” potong Pak Mulyadi cepat.
Ibu Mirah akhirnya bersuara, “Mulyadi, mungkin kita harus…” “Tidak, Bu. Kita tidak akan menjual tanah ini,” potong Pak Mulyadi lagi.
Zifana dan Yuanita saling menatap, tidak menyangka akan mendapat penolakan sekeras itu. “Baiklah Pak, kami akan membicarakannya nanti kepada ayah kami,” ujar Zifana dengan senyum ramah sebelum berpamitan pulang.
Kedatangan Sang Juragan
Sore harinya di rumah, Pak Mulyadi terlihat khawatir. “Bu, apa kita sudah membuat keputusan yang tepat?” Ibu Mirah menatap suaminya. “Kita harus percaya pada keputusan kita, Mulyadi. Tanah ini adalah warisan kita.”
Tiba-tiba, suara mobil yang familiar terdengar. Jantung Pak Mulyadi berdetak lebih cepat saat melihat Juragan Jafar sendiri yang datang, didampingi Zifana dan Yuanita.
“Mulyadi, kita perlu bicara,” kata Juragan Jafar dengan nada tegas saat melangkah ke teras. “Kamu tahu, aku tidak suka ditolak. Aku ingin membeli tanah itu.”
Pak Mulyadi tetap tenang. “Saya tahu, Pak Jafar. Tapi saya tidak akan menjualnya.”
Juragan Jafar tersenyum dingin. “Kita lihat saja nanti…”
Melihat situasi yang memanas, Yuanita memberanikan diri menyela. “Ayah, sebaiknya kita berterus terang kepada mereka tentang tujuan kita.” Zifana mendukung, “Iya, Ayah.”
Juragan Jafar menghela napas panjang. “Baiklah. Sebenarnya, aku ingin membeli tanah itu untuk proyek pendidikan. Kami akan membangun sekolah dan universitas di sini agar anak-anak desa ini memiliki masa depan yang lebih baik.”
Mendengar kata “pendidikan”, nada suara Pak Mulyadi melunak. “Proyek pendidikan?”
Ibu Mirah ikut menanggapi, “Pak Jafar, kami tidak tahu tujuan Anda semulia itu. Kami pasti akan mempertimbangkannya.”
Saat itulah, empat remaja desa—Rani, Septi, Unul, dan Evina—datang menghampiri. Mereka yang mendengar kabar tersebut merasa sangat antusias. “Proyek pendidikan? Kami ingin membantu!” seru mereka hampir bersamaan.
Masa Depan yang Cerah
Keesokan harinya, setelah merenung, Pak Mulyadi memanggil keempat remaja tersebut dan keluarga Juragan Jafar. “Aku setuju untuk menjual tanah itu, asalkan proyek ini benar-benar untuk kepentingan masyarakat.”
Sorak kegembiraan pecah. Kesepakatan pun tercapai.
Bulan-bulan berikutnya, lahan yang dulu kering kerontang berubah menjadi kompleks Universitas Harapan yang megah. Rani, Septi, Unul, dan Evina tidak hanya membantu pembangunannya, tetapi juga menjadi mahasiswa angkatan pertama di sana.
Pada hari wisuda pertama, Pak Mulyadi berdiri dengan bangga sebagai pembicara. Di hadapannya, Zifana dan Yuanita serta keempat sahabat itu tersenyum haru. Tanah yang dulu hanya menghasilkan padi di musim hujan, kini menanam benih-benih ilmu yang akan memajukan desa mereka selamanya.
SELESAI















