Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Cerpen

KAMPUNG KABONGAN

×

KAMPUNG KABONGAN

Sebarkan artikel ini
KAMPUNG KABONGAN
foto: Ilustrasi

Terik matahari masih menyinari, terasa panas menyengat membakar bumi. Tanah kering mulai terlihat pecah-pecah; kemarau panjang masih menerjang. Unul berjalan paling depan, meninggalkan ketiga sahabatnya. Di kejauhan, Bukit Barisan tampak mengering, pohon-pohon rindang yang dulu ada kini tiada lagi.

Keempat remaja ituโ€”Unul, Rani, Evina, dan Septiโ€”terus melangkahkan kaki. Dari balik dedaunan liar, rumah-rumah penduduk mulai terlihat di kejauhan.

“Unul…!” teriak Septi, menghentikan langkahnya. Unul seketika berhenti mendengar teriakan itu.

“Iya, ada apa?” jawab Unul sambil menoleh ke arah ketiga temannya.

“Lihat itu! Di sana sudah terlihat rumah penduduk. Sebentar lagi kita sampai.”

“Itu kampung apa?” tanya Unul seraya memperhatikan dari kejauhan.

“Aku tidak tahu, nanti saja kita tanyakan,” jawab Septi.

“Lihat, di sana ada jembatan! Kita lewat sana saja,” seru Evina sambil melangkah lebih dulu.

Tidak lama setelah menuruni lereng perbukitan, di pinggiran sungai yang besar, terlihat sebuah jembatan yang masih kokoh terbuat dari kayu jati.

“Waahhh! Indah sekali tempatnya!” seru Unul dan Septi berbarengan. Evina dan Rani hanya tertawa melihat mereka berdua sudah berlari ke tengah jembatan itu.

“Tunggu…!” tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah samping perbukitan.

Seorang perempuan memanggil sambil berlari ke arah keempat remaja putri itu. “Nisanak mau ke mana?” tanya perempuan itu setelah berhasil mendekat dan meminta mereka berhenti.

“Oh, maaf Bu. Kami mau ke kampung itu,” jawab Unul ramah.

“Ada keperluan apa kalian ke sana?” tanyanya lagi. Kali ini wajahnya tampak mulai tegang.

“Maaf Bu, kami hanya ingin hiking.”

Hiking? Apa itu hiking?!” tanyanya dengan sungguh-sungguh.

“Nul,” celetuk Septi, “jelaskan!”

“Begini… hiking itu bermalam… eh, maksudnya kemah Bu. Iya, betul, berkemah,” kata Unul sedikit gugup.

“Aahh, sudahlah, saya tidak tahu maksud kalian. Cuma Ibu sarankan, berhati-hatilah di kampung itu. Namanya Kampung Kabongan. Penduduknya biasanya kurang suka dengan pendatang seperti kalian ini,” jelasnya memperingatkan.

“Tapi Bu, kami hanya ingin berlibur dan mencari tempat untuk petualangan kami,” kata Septi.

“Iya, pokoknya hati-hati,” jawab Ibu itu singkat, lalu pergi ke arah bukit sambil berlari kecil.

Memasuki Kabongan

Keempat remaja itu hanya saling pandang di atas jembatan, menatap kepergian perempuan tadi. Mereka mencoba memahami peringatan yang baru saja mereka dengar.

“Apa maksudnya dengan ‘kurang suka dengan pendatang’?” tanya Rani dengan suara was-was.

“Entahlah, mungkin mereka tertutup dengan orang luar,” jawab Evina sambil mengangkat bahu.

Unul dan Septi saling lirik, lalu kembali menatap ke arah kampung yang sudah semakin dekat. “Sebaiknya kita memang harus berhati-hati,” kata Unul serius.

“Tidak apa-apa, kan kita berempat,” jawab Septi mencoba menenangkan sambil tersenyum.

Mereka kembali melangkah menyeberangi jembatan kayu jati dan memasuki Kampung Kabongan. Mereka melihat rumah-rumah sederhana dan beberapa warga yang berkumpul di luar. Beberapa pasang mata memandang mereka dengan curiga, namun tak ada yang menyapa.

Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari ke arah mereka sambil tersenyum lebar. “Hai, Kakak!”

Keempat remaja itu balas tersenyum, merasa sedikit lega. “Hai, Adik kecil!” jawab Unul.

“Kakak mau ke mana?”

“Kami mau berkemah di sini,” jawab Septi.

Anak kecil itu tersenyum makin lebar. “Aku akan menunjukkan tempat yang bagus!”

Mereka mengikuti anak kecil itu menuju sebuah lahan luas yang indah. Di sana, mereka melihat beberapa anak lain bermain dan beberapa orang dewasa beristirahat di bawah pohon. Namun, ketenangan itu terusik saat seorang pria dewasa muncul dari balik pohon dengan wajah masam.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” bentaknya keras.

Septi maju ke depan, tetap berusaha ramah. “Maaf Pak, kami hanya ingin berkemah di sini. Kami tidak bermaksud mengganggu.”

Pria itu memandang mereka tajam, lalu beralih ke anak kecil tadi. “Aku sudah bilang, jangan membawa orang asing ke sini!”

Anak kecil itu menunduk takut. “Maaf, Paman…”

Pria itu mengembuskan napas panjang. “Baiklah, kalian boleh berkemah di sini. Tapi jangan pergi ke mana-mana dan jangan mengganggu penduduk lain!” Setelah berkata demikian, ia pergi begitu saja.


Rahasia Kelam

Sore itu, saat mereka mulai memasang tenda, seorang gadis remaja bernama Maya menghampiri mereka. Maya menceritakan sejarah kelam kampungnya. Nenek Maya dulu adalah seorang pendatang yang dituduh melakukan sihir oleh penduduk yang terhasut oleh tradisi sempit. Rumah neneknya dibakar, dan neneknya diusir.

“Penduduk sini sangat percaya pada tradisi, dan mereka tidak suka orang yang berbeda,” bisik Maya.

Tiba-tiba, saat Maya sedang menunjukkan sebuah sungai jernih, muncul empat orang berpaju hitam yang mencurigakan. Maya segera mengajak mereka bersembunyi.

“Siapa mereka, Maya?” tanya Septi berbisik dari balik pohon besar.

“Mereka anak buah Deta, ketua di Kampung Kabongan ini. Mereka orang-orang licik. Merekalah yang membakar rumah nenekku!” jawab Maya dengan geram.

Ketegangan memuncak ketika anak buah Deta berhasil menemukan tempat persembunyian mereka di sebuah gua. “Aha! Kalian ada di sini!” seru salah satu dari mereka sambil tertawa penuh kemenangan.

Pertempuran di Gua

“Kami tidak takut pada kalian!” seru Unul sambil mengangkat kayu besar.

“Kurang ajar! Tangkap mereka!” perintah salah satu orang berbaju hitam itu.

“Serang…!!!” teriak Unul.

Perkelahian tak terelakkan. Septi menangkis setiap serangan dengan gesit, sementara Evina menghajar lawan dengan jurus-jurus cakar dan tendangan mautnya.

Brakkk! Dak! Benturan senjata kayu dan tangkisan tangan kosong terdengar riuh di dalam gua. Unul menghantamkan kayu besarnya ke dada lawan hingga tersungkur. Rani membantu dengan lemparan batu yang akurat untuk mengalihkan perhatian. Satu demi satu anak buah Deta terpental dan akhirnya lari kocar-kacir keluar gua.

“Cepat lari! Kita harus ke tenda mengambil perlengkapan kita!” seru Maya.

Kekuatan Batu Ajaib

Malam mulai gelap, hanya sinar rembulan yang menerangi bumi saat mereka bersiaga di perbukitan. Tiba-tiba, sosok perempuan berambut panjang yang mereka temui di jembatan muncul kembali.

“Kalian dalam bahaya besar!” teriaknya.

“Nenek!” seru Maya gembira. Ternyata, perempuan misterius itu adalah nenek Maya.

Nenek memberikan sebuah batu ajaib kepada mereka. “Pegang batu ini bersama-sama dan ucapkan mantra ini,” perintah Sang Nenek. Seketika, cahaya terang menyelimuti mereka, memberikan kekuatan luar biasa yang mengalir ke seluruh tubuh.

Dengan kekuatan baru itu, mereka menghadapi Deta yang sudah menunggu di lapangan terbuka bersama sisa anak buahnya. Pertempuran terakhir pecah. Maya dengan tombaknya, Septi dengan busur panah, Unul dengan tongkat besar, Rani dengan pedang, dan Evina dengan trisulanya bertarung bak prajurit terlatih.

Deta yang sombong akhirnya bertekuk lutut. Nenek Maya melangkah maju, mengangkat tangannya, dan dalam sekejap cahaya, Deta menghilangโ€”dihukum atas segala kejahatannya.

Akhir Perjalanan

Kampung Kabongan yang tadinya mencekam kini berubah damai. Warga yang selama ini tertekan oleh kepemimpinan Deta kini bersorak gembira. Unul, Septi, Rani, Evina, dan Maya disambut sebagai pahlawan.

Nenek penjaga kampung tersenyum bangga. “Kalian telah membuktikan bahwa keberanian dan persahabatan bisa mengalahkan kegelapan.”

Keempat remaja itu tersenyum puas. Mereka tidak hanya menemukan petualangan yang mereka cari, tetapi juga berhasil mengembalikan kedamaian di Kampung Kabongan.

~ TAMAT ~


Eksplorasi konten lain dari CMI News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





















banner
error:

Verified by MonsterInsights