Empat puluh tahun sudah.

Sejak kami masih berseragam sekolah dasar hingga rambut kami sama-sama memutih, dia selalu memanggilku setiap kali butuh bantuan.

“Bang, bantuin aku, ya?”

Suaranya selalu lembut, matanya memelas. Persis seperti kucing yang mengeong di depan pintu saat hujan turun. Dan aku? Aku selalu datang.

Akulah yang membelanya saat dia dikeroyok teman sekolah. Akulah yang meminjamkan uang saat dia dipecat dari pekerjaan. Bahkan, aku pula yang menjadi tameng saat orang tua kami meradang karena ulahnya. Namun, tak pernah ada satu kata terima kasih. Tidak pernah ada satu pun rasa hormat.

Di depan orang lain, dia terlihat seperti malaikat; ramah, sopan, dan rajin ibadah. Semua orang memujinya. Namun di belakang, dialah yang paling pandai memfitnah. Dialah yang paling duluan menghina dan mengucilkanku.

Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan julukan “si tidak berguna”. Sementara dia? “Anak baik, penurut, dan pintar.” Dia hobi berbohong, rakus pada kesempatan, dan tak tahu malu saat meminta.

Si Kucing. Namun, ini bukan sembarang kucing. Ini kucing jahat.

Orang bilang darah lebih kental daripada air, tetapi darahku terasa dingin setiap kali melihat wajahnya. Kemarin, dia datang lagi. Minta tolong, seperti biasa. Aku membantunya, seperti biasa. Lalu dia pergi tanpa mengucap terima kasih. Sama seperti biasanya.

Empat puluh tahun aku menjadi tempat sampahnya. Empat puluh tahun aku menjadi malaikat bagi iblis yang memakai topeng.

Malam itu, aku duduk sendiri. Bayangannya muncul lagi di kepalaku, dan mulutku akhirnya mulai bergumam:

Si kucing jahat Ke sana kemari mencari sensasi Berbangga diri

Si kucing hitam Jahat dan kejam Terlihat halus, padahal jiwa pendendam Dasar si kucing jahat Kapan kau sekarat?

Aku muak melihat tampangmu Gayamu Palsu Tak tahu diri Tak sadar diri

Si kucing hanya membela perut Mencari aman Dasar penakut

Itulah dia. Si Kucing. Pandai bersembunyi di balik senyum palsu. Pandai berlagak baik di depan orang lain. Maka sejak hari itu, aku memutuskan: aku tidak akan lagi datang ketika dia mengeong.

Semalam, pada malam Jumat Pahing.

Hujan rintik-rintik turun sekitar pukul setengah delapan. Tiba-tiba, petir menyambar tanah tepat di samping tempatku duduk. Aku diam. Aku tahu itu bukan sekadar kebetulan.

Orang tua dulu bilang, petir yang menyambar di sisi kita adalah Petir Penebas Batas. Ia datang bukan untuk mencelakai, melainkan untuk memutus ikatan yang sudah seharusnya putus. Hujan rintik itu terasa seperti air mata yang akhirnya luruh setelah empat puluh tahun terpendam.

Aku mengerti sekarang. Bukan aku yang harus membalas dendam; alam sudah memberikan jawabannya. Biarlah dia belajar bertahan sendiri. Biarlah batu nisan yang nanti menjadi saksi tentang siapa yang benar-benar memiliki hati.

Aku menuliskan semua ini agar dunia tahu. Agar aku sendiri tahu. Aku bukan anjing yang bisa disepak lalu ditinggal pergi. Aku manusia, dan aku punya harga diri.

Malam itu, petir itu menebas batas. Aku bebas.

Tulisan ini adalah nasihat sekaligus pengingat. Sebuah tanda penyelesaian tentang perjalanan hidup yang penuh penghinaan, cacian, serta fitnah. Semoga ini menjadi koreksi diri untuk berhenti; menyudahi semua keadaan dan menerima kenyataan.

Pahit itu ternyata nikmat—ia adalah obat bagi hati yang pernah tersakiti.

TAMAT