Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Cerpen

PETIR PENEBAS BATAS

×

PETIR PENEBAS BATAS

Sebarkan artikel ini

Empat puluh tahun sudah.

Sejak kami masih berseragam sekolah dasar hingga rambut kami sama-sama memutih, dia selalu memanggilku setiap kali butuh bantuan.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Bang, bantuin aku, ya?”

Suaranya selalu lembut, matanya memelas. Persis seperti kucing yang mengeong di depan pintu saat hujan turun. Dan aku? Aku selalu datang.

Akulah yang membelanya saat dia dikeroyok teman sekolah. Akulah yang meminjamkan uang saat dia dipecat dari pekerjaan. Bahkan, aku pula yang menjadi tameng saat orang tua kami meradang karena ulahnya. Namun, tak pernah ada satu kata terima kasih. Tidak pernah ada satu pun rasa hormat.

Di depan orang lain, dia terlihat seperti malaikat; ramah, sopan, dan rajin ibadah. Semua orang memujinya. Namun di belakang, dialah yang paling pandai memfitnah. Dialah yang paling duluan menghina dan mengucilkanku.

Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan julukan “si tidak berguna”. Sementara dia? “Anak baik, penurut, dan pintar.” Dia hobi berbohong, rakus pada kesempatan, dan tak tahu malu saat meminta.

Si Kucing. Namun, ini bukan sembarang kucing. Ini kucing jahat.

Orang bilang darah lebih kental daripada air, tetapi darahku terasa dingin setiap kali melihat wajahnya. Kemarin, dia datang lagi. Minta tolong, seperti biasa. Aku membantunya, seperti biasa. Lalu dia pergi tanpa mengucap terima kasih. Sama seperti biasanya.

Empat puluh tahun aku menjadi tempat sampahnya. Empat puluh tahun aku menjadi malaikat bagi iblis yang memakai topeng.

Malam itu, aku duduk sendiri. Bayangannya muncul lagi di kepalaku, dan mulutku akhirnya mulai bergumam:

























banner
error:
Verified by MonsterInsights