Suara tabuh bedug bertalu-talu, diiringi suara gema takbir yang berkumandang di malam takbiran. “Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!” Suasana khidmat terdengar di sekitar desa dengan suara takbir yang bersahutan, memecahkan keheningan malam yang kian merambat jauh.
“Malam takbir,” ucap Rani dalam hati. Dari sudut kamar, Rani duduk berdiam diri, merenungi semua yang telah terlewati. Ia terus mengingat segalanya tentang arti hidup, persahabatan, teman, saudara, serta keluarga. Segalanya terasa begitu jauh dan sempat menyisakan rasa ketidakadilan dari orang-orang yang dulu saling memberi, mengasihi, dan mencintai.
Kesalahpahaman yang berkepanjangan sempat menunda kebahagiaan, melahirkan kenistaan dan kebencianโbaik yang disengaja maupun tidak. Kesemuanya itu telah menjadi cermin hidup tentang arti sebuah dosa.
“Rani…?” “Assalamualaikum…” Tok! Tok! Tok!
“Iya, waalaikumsalam,” jawab Rani. Ia kemudian keluar dari kamarnya dan membukakan pintu. “Oh, Mbak Lisa. Mari, silakan masuk.”
“Iya Ran, terima kasih,” ucap Lisa lalu duduk.
“Ada apa ya, Mbak?” tanya Rani sesaat memandangi Lisa.
“Ibu sama Bapak ke mana, Ran?” Lisa balik bertanya.
“Tadi Ibu sama Bapak ke mushola, Mbak, mau bayar zakat fitrah,” ujar Rani.
“Oh begitu. Iya Ran, ini ada titipan dari ayah saya buat ibu kamu,” ucap Lisa sambil memberikan beberapa bungkusan dan sebuah amplop kecil.
“Oh iya Mbak, nanti Rani sampaikan. Ini saya terima ya, Lisa. Mudah-mudahan berkah.”
“Amin,” jawab Lisa, lalu pamit pulang.
Rani berjalan mengiringi Lisa sampai ke teras depan rumah. Ia menatap Lisa yang terus berjalan menembus kegelapan malam hingga menghilang di perempatan jalan. Rani memandang ke sekeliling, berharap ayah dan ibunya segera pulang.
Baru saja Rani menutup pintu dan hendak kembali ke kamar, tiba-tiba terdengar suara ibunya memanggil.
“Rani… Ran…” seru ibunya.
“Iya Bu, sebentar,” jawab Rani buru-buru membukakan pintu.
Wajah ibu dan ayahnya terlihat murung. Tanpa banyak bicara, keduanya langsung duduk di dapur belakang. Rani segera menghampiri kedua orang tuanya sambil membawakan gelas berisi air putih hangat. “Ada apa, Bu?” tanya Rani.
Mereka berdua hanya terdiam dan saling memandangi wajah Rani. Rani yang bingung hanya bisa terpaku.
“Rani,” kata ayahnya, “Ayah berharap kamu kelak akan selalu hidup bahagia ya, Nak?”
“Iya, Ayah,” jawab Rani dengan anggukan, meski sebenarnya ia tidak mengerti maksud kata-kata ayahnya. Tidak biasanya ibu dan ayahnya bersikap seperti itu. Ada sesuatu yang seolah ditutupi.
“Oh iya Bu, tadi Lisa datang kemari. Dia membawa sesuatu buat Ibu.” Rani segera mengambil bungkusan besar dan amplop yang tadi diberikan Lisa. “Ini, Bu.”
“Kapan dia datang, Nak?” tanya ibunya sambil membuka bungkusan tersebut.
“Tadi barusan, Bu. Cuma sebentar,” jawab Rani.
“Alhamdulillah,” kata ibunya. “Rani, sejak kamu kecil, keluarga Pak Gunadiโayah Lisaโlah yang selalu memperhatikan keluarga kita. Dari dulu hingga sekarang. Untuk itu, kita harus tetap menjaga hubungan baik dengan mereka.”
“Iya, Bu,” jawab Rani mengangguk.
“Dulu, ayah dan ibumu sering kekurangan. Saat-saat seperti inilah yang paling kami rasakan, tepat di setiap malam takbiran. Hidup kami selalu dibantu oleh orang tua Lisa.”
Banyak hal yang diceritakan ibunya malam itu hingga waktu mulai larut. Di kejauhan, gema takbir masih terus berkumandang. Rani pun kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya. Pikirannya menerawang jauh hingga rasa kantuk membawanya ke dalam mimpi indah.
Pagi mulai menjelang. Gema takbir masih terdengar di mana-mana. Udara dingin tak menghalangi orang-orang untuk terbangun dan bersiap menuju masjid untuk melaksanakan salat Id. Rani dan teman-temannya mulai berangkat, disusul ayah dan ibunya yang berjalan bersama warga lainnya. Suasana penuh khidmat dan syukur terpancar dari wajah-wajah yang ceria.
Pukul 06.30, seluruh bagian masjid sudah tampak penuh. Rani berada di shaf bagian tengah. Dari menara masjid, suara takbir dan tabuhan bedug terus bersahutan. Matahari mulai bersinar terang dengan warna kuning keemasan. Angin sepoi-sepoi terasa menyejukkan, seakan turut menyambut Idul Fitri.
Selesai salat Id, jamaah keluar dari gerbang masjid. Ada yang langsung pulang, ada pula yang menuju pemakaman.
“Rani!” panggil Risfa dan Ilma. “Nanti kita bareng ya berkunjung ke rumah-rumah!”
“Iya, insya Allah,” jawab Rani tersenyum senang.
Jalanan desa tampak ramai. Orang-orang berlalu-lalang untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Tak jauh dari ujung jalan, sebuah mobil putih melaju pelan dan berhenti di depan rumah Rani. Dua orang wanita turun dan melangkah menuju rumahnya.
“Assalamualaikum.”
Rani yang berada di dalam segera keluar. “Ibu Meli! Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,” ucap Rani menyambut kedatangan Ibu Meli dan Unul, sahabatnya.
“Unul!” teriak Rani seraya memeluk sahabatnya. Keduanya menangis haru. Ibu Meli pun ikut memeluk Rani.
“Apa kabarmu, Rani?” tanya Ibu Meli sambil mencium kedua pipi Rani.
“Alhamdulillah, kabar Rani baik, Bu. Mari masuk dulu. Ayo Nul, masuk!”
Tak lama kemudian, ayah dan ibu Rani pulang. “Apa kabar, Non Meli?” sapa mereka dengan ramah.
“Kabar kami baik, Pak, Bu,” jawab Ibu Meli dengan senyum tulus. Di ruang tamu, mereka saling berbincang hangat sambil menikmati suguhan makanan kecil.
“Oh iya, saya ingin ke makam. Bisa diantarkan, Pak?” tanya Ibu Meli.
“Iya Non Meli, mari saya antar.”
Beberapa saat kemudian, mereka pergi ke pemakaman mendiang suami Ibu Meli. Di depan batu nisan, mereka duduk bersimpuh, memanjatkan doa, dan menaburkan bunga. Air mata menetes di pipi Ibu Meliโada kesedihan dan kerinduan mendalam pada perpisahan yang tak pernah diinginkan. Setelah perpisahan itu, sebuah tragedi kebakaran pun pernah terjadi, menyisakan luka lama.
“Semua sudah kehendak Ilahi, Non,” ucap Pak Rakim, ayah Rani, sambil mengusap air mata yang menetes.
“Iya, Pak,” ujar Ibu Meli pelan.
Matahari mulai terbenam saat langkah-langkah kecil meninggalkan pemakaman. Semua terdiam dalam angan, hanya doa yang mereka tinggalkan. Mengenang sebuah kebaikan dan ketulusan yang pernah dilakukan, berharap pintu surga selalu terbuka atas ampunan segala dosa dan amal baik. Amin.
“Ketulusan adalah hati yang benar-benar bersih dan suci untuk memberi, walau itu sekadar kata maaf,” ucap ibu Rani sambil memeluk Ibu Meli dan Unul.
Idul Fitri adalah tempat untuk mengoreksi diri dan memperbaiki kesalahan. Di hari yang suci ini, mereka menata hati dan menjalankan arti kehidupan yang sesungguhnya. Dari bibir Ibu Meli, tersungging senyuman yang memberi kekuatan akan cinta dan kerinduan.
SELESAI
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.












