Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Cerpen

NUANSA KASIH

×

NUANSA KASIH

Sebarkan artikel ini
NUANSA KASIH
foto: Ilustrasi

Langit biru membentang luas di angkasa. Mentari pagi memancarkan sinarnya, memberi kehangatan yang lembut. Burung-burung berkicau riang, terbang kian kemari di sela dahan pohon yang rindang, seakan menyambut pagi cerah sebagai anugerah dari Sang Pencipta.

Nela menatap keluar dari samping rumahnya, memandang sekeliling sambil menikmati udara pagi. “Sungguh indah alam semesta ini,” gumamnya dalam hati. Baru dua hari ia dan keluarganya tinggal di desa ini—lingkungan yang sangat kontras dengan kehidupannya di kota. Jika kota yang keras menuntut semua orang beraktivitas tanpa batas, desa yang jauh dari kebisingan ini justru menawarkan kedamaian.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Nela duduk santai di samping rumah sederhananya, membiarkan jemari matahari menghangatkan tubuhnya. Wajahnya tampak bahagia; sebuah senyuman tulus menghiasi bibirnya.

“Hai Nela, lagi berjemur ya?” sapa Rizal, teman barunya.

“Iya, nih. Kamu mau ke mana?” tanya Nela ramah.

“Biasa, Nel… mau membajak sawah. Mau ikut?” ajak Rizal berkelakar.

“Iya, kapan-kapan aku ikut,” jawab Nela meyakinkan. Rizal tertawa renyah sambil terus melangkah menyusuri jalan setapak di samping rumah. Nela hanya memandangi kepergian pemuda itu dengan sisa senyum yang masih tertinggal. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda di desa ini; sesuatu yang membuatnya merasa lebih tenang.

Tiba-tiba, suara Ibu memanggil dari dalam rumah. “Nela, sarapan sudah siap! Kamu mau makan di dalam atau di luar?”

“Di luar saja, Bu! Udara di sini enak banget,” sahut Nela.

Ibu menyembul dari balik pintu sambil tersenyum. “Baik, Ibu bawakan ke luar ya.”

Nela pun menikmati sarapannya di atas bangku kayu dengan pemandangan sawah yang hijau membentang. Dari kejauhan, Rizal melambaikan tangan dan Nela membalasnya dengan senyuman. Namun, ketenangan itu sedikit terganggu oleh suara motor tua yang mendekat. Seorang pemuda sebaya Nela turun dari motor tersebut.

“Halo, Nela! Aku Arya, tetangga baru di sebelah,” katanya ramah.

Nela sedikit terkejut. “Hai, Arya! Aku Nela. Kok aku baru lihat kamu ya?”

“Aku baru pindah kemarin. Tadi kulihat kamu duduk sendirian, jadi aku mampir,” jelas Arya sambil duduk di samping Nela.

Rizal yang melihat mereka dari sawah berteriak kencang, “Halo, Arya! Sudah kenal Nela, ya?”

Arya melambaikan tangan. “Sudah! Baru saja kenal!”

Kehadiran Arya menambah warna baru. Mereka bertiga akhirnya berbincang akrab tentang kehidupan desa, sekolah, hingga hobi masing-masing. Nela merasa nyaman, seolah mereka sudah lama saling mengenal. Rizal bahkan mengajak Arya bergabung dengan tim sepak bola desa setelah tahu Arya adalah seorang striker andalan di sekolah lamanya.

Sore harinya, mereka memutuskan untuk pergi ke sungai di belakang desa. “Ada air terjun kecil di sana,” usul Rizal penuh semangat.

Saat tiba di lokasi, suara gemuruh air yang menenangkan menyambut mereka. “Wah, indah banget!” seru Arya kagum. Air jernih yang dingin memercikkan kesegaran ke wajah mereka. Sambil Rizal memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu riang, Arya sibuk mengabadikan momen dengan kameranya.

Tanpa ragu, Nela melepas sepatu dan menceburkan diri ke air yang sejuk. Arya dan Rizal pun ikut bermain air dengan tawa yang pecah. Di tengah keseruan itu, Nela sempat tergelincir saat mencoba mencapai batu di tengah sungai, namun dengan sigap Rizal menangkapnya.

“Jangan terlalu berani, Nel,” kata Rizal lembut sambil menatap matanya. Nela tersenyum, merasa aman dalam lindungan Rizal.

Momen itu menjadi titik balik. Seiring berjalannya waktu, kedekatan Nela dan Rizal kian dalam. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, entah itu berjalan-jalan di desa atau sekadar duduk di bawah pohon rindang. Suatu hari, Rizal membawa Nela ke sebuah bukit dengan pemandangan yang luar biasa. Di sebuah pohon besar, Rizal menunjukkan sesuatu yang ia buat dengan tangannya sendiri: sebuah ukiran nama “Nela & Rizal” dengan lambang hati di tengahnya.

“Aku buat ini karena aku serius sama kamu, Nel. Aku ingin kita bersama selamanya,” ucap Rizal tulus. Nela terharu, air mata bahagianya menetes saat ia membalas pelukan Rizal di bawah naungan pohon tersebut.

Tahun-tahun berlalu. Mereka berhasil menempuh pendidikan di universitas yang sama hingga hari kelulusan tiba. Di tempat yang sama, di bawah pohon besar yang menyimpan kenangan masa remaja mereka, Rizal berlutut dan membuka sebuah kotak kecil berisi cincin.

“Nela, maukah kamu menikah denganku?”

Sambil terisak bahagia, Nela menjawab, “Iya, Rizal. Aku mau.”

Cerita yang dimulai dari sapaan pagi di samping rumah sederhana itu pun berlanjut ke pelaminan. Nela dan Rizal hidup bahagia, membangun keluarga kecil yang penuh cinta, sambil selalu mengenang nuansa bening di desa yang telah menyatukan hati mereka.

SELESAI



TANAH HARAPAN
Cerpen

Siang yang terik, udara sangat panas, dan kemarau…

Cahaya Mata
Karya Tulis

Inspirasi dari Kehidupan Setelah kali ketiga pertemuan, akhirnya…







error:
Verified by MonsterInsights