
CMI News — Sepanjang tahun ini, pasar modal Indonesia diramaikan oleh lonjakan harga sejumlah emiten berkapitalisasi kecil yang kemudian langsung menjadi incaran investor strategis asal China. Fenomena ini tak hanya menarik perhatian pelaku pasar, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar: mengapa perusahaan China begitu agresif membeli saham emiten kecil di RI?
Ekonomi China Mulai Pulih, Ekspansi ke Aset Komoditas RI Menggeliat
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa ekspansi perusahaan China ini beriringan dengan pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu. Meredanya tensi geopolitik global, termasuk hubungan AS–China, turut membuka ruang bagi perusahaan asal negara tersebut untuk kembali bergerak agresif di luar negeri.
“Pemulihan ekonomi China mendorong mereka melakukan ekspansi. Emiten seperti BLUE, PGJO, dan KOKA itu basisnya komoditas, jadi ini terkait rantai pasokan komoditas,” kata Nafan.
Menurutnya, ekspansi ini sejalan dengan strategi China untuk mengamankan pasokan sumber daya alam melalui kepemilikan di perusahaan Indonesia. Langkah ini dianggap wajar, mengingat kebutuhan industri China yang terus meningkat.

Likuiditas Jumbo China Jadi Senjata Utama
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut langkah ini bukan hal baru. Selama lebih dari satu dekade, perusahaan China memang agresif menyalurkan investasi ke berbagai negara.
“Likuiditas China sangat besar. Mereka bukan hanya membeli perusahaan, tapi juga menyalurkan pinjaman,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia menjadi target menarik karena memiliki sumber daya alam melimpah dengan regulasi investasi yang relatif ramah.
Deretan Emiten RI yang Diambil Alih Perusahaan China
1. PGJO – Pigijo Masuk Kantong ZGT
PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO), platform marketplace pariwisata, menjadi salah satu emiten yang diambil alih oleh PT Zhengyu Global Trading (ZGT).
ZGT membeli 61,96% saham PGJO setelah sebelumnya saham emiten ini melesat lebih dari 1.291% sepanjang tahun. Meski berbeda industri, ZGT—yang bergerak di perdagangan komoditas—masuk untuk memperluas portofolio dan mengamankan bisnis berbasis rantai pasokan.
2. KRYA – Bertransformasi ke Bisnis EV
PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk (KRYA) resmi mengakuisisi 51% saham PT Green City Traffic (EGCO). Langkah ini menjadi pintu bagi transformasi bisnis perusahaan konstruksi menjadi pemain kendaraan listrik (EV).
Aksi korporasi ini dilakukan setelah rencana pengambilalihan mayoritas saham KRYA oleh Rich Step International Ltd. dari Hong Kong. Tak heran, harga sahamnya melonjak 251% sepanjang tahun.
3. KOKA – 63,5% Saham Dilirik Ningbo Lixing
PT Koka Indonesia Tbk (KOKA) disebut telah menerima minat akuisisi dari Ningbo Lixing Enterprise Management Co., Ltd. Perusahaan asal Zhejiang itu menargetkan 63,5% saham KOKA untuk memperluas jaringan bisnis konstruksi dan infrastruktur.
Saham KOKA sendiri telah terbang 441% sepanjang tahun, menjadikannya salah satu emiten mid-cap paling agresif dicari investor luar.
4. BLUE – Blueprint Indonesia Masuk Radar Dragonmine
PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) sedang dalam tahap negosiasi awal dengan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited. Meski belum berdampak langsung terhadap operasional, kabar ini membuat saham BLUE melonjak ke level Rp2.370 sebelum disuspensi. Tahun ini, harganya naik hampir 10 kali lipat dari posisi awal.
Apa Artinya Untuk Pasar Saham Indonesia?
Fenomena akuisisi ini menandakan tiga hal:
1. Indonesia makin strategis di mata investor China, terutama di sektor komoditas, infrastruktur, dan rantai pasokan.
2. Emiten kecil semakin menarik, terutama yang memiliki potensi transformasi bisnis atau aset yang bisa dimonetisasi oleh perusahaan asing.
3. Risiko dan peluang meningkat bersamaan. Investor harus jeli membaca potensi aksi korporasi, namun tetap mewaspadai volatilitas harga yang ekstrem.
Dengan likuiditas China yang masih berlimpah dan kebutuhan mereka atas sumber daya tetap tinggi, bukan tak mungkin gelombang akuisisi ini akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.






