
CMI News — Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengingatkan lima risiko global yang berpotensi menekan perekonomian domestik Indonesia di tahun-tahun mendatang.
1. Kebijakan Tarif Dagang Tinggi AS
Tarif dagang yang masih diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump dapat menurunkan aktivitas perdagangan global dan melemahkan multilateralisme, sehingga berdampak pada ekspor-impor Indonesia.
2. Pertumbuhan Ekonomi Global yang Terfragmentasi
Pertumbuhan global yang lambat dan tidak merata, bersamaan dengan inflasi tinggi, bisa menekan kinerja ekonomi domestik.

3. Tingginya Utang Global
Kebutuhan pembiayaan yang tinggi membuat negara-negara maju menaikkan suku bunga surat utang. Hal ini memengaruhi arus modal masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
4. Kerentanan Sistem Keuangan Dunia
Perkembangan transaksi derivatif, hedge fund, dan teknologi machine learning meningkatkan risiko sistemik yang bisa memicu pelarian modal dan tekanan nilai tukar.
5. Maraknya Kripto dan Stable Coin
Tanpa regulasi jelas, aset digital ini dapat menimbulkan risiko sistemik di sektor keuangan. BI mendorong pengembangan Central Bank Digital Currency (CBDC) melalui Proyek Garuda untuk memantau pergerakan digital ini dan mencegah risiko sistemik.
Destry menekankan bahwa kelima risiko ini perlu diantisipasi dengan kebijakan yang tepat agar ekonomi Indonesia tetap stabil.
“Ini akan terus memengaruhi perekonomian kita jika tidak ditangani dengan serius,” ujarnya.






