
CMI News – Setelah dua hari berturut-turut tertekan di zona merah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menutup perdagangan dengan penguatan tipis. Pada sesi Rabu (12/11/2025), IHSG naik 0,26% ke level 8.388,57, menunjukkan sinyal pemulihan di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
Namun, di balik penguatan tersebut, investor asing justru terciduk melepas sejumlah saham unggulan. Gerak jual ini menarik perhatian pelaku pasar karena dilakukan saat IHSG mulai bangkit dari tekanan.
IHSG Menguat, Asing Justru Lepas Saham-Saham Besar
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, nilai transaksi harian mencapai Rp21,89 triliun, dengan volume 49,83 miliar saham dari 2,63 juta kali transaksi. Dari total itu, 343 saham naik, 323 turun, dan 147 stagnan.
Meski indeks menguat, investor asing tetap melakukan aksi jual di beberapa saham besar. Berdasarkan data Stockbit, berikut 10 saham dengan nilai net foreign sell tertinggi pada perdagangan tersebut:

1. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) – Rp194,95 miliar
2. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) – Rp67,98 miliar
3. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) – Rp64,72 miliar
4. PT Timah Tbk (TINS) – Rp58,80 miliar
5. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) – Rp33,25 miliar
6. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) – Rp25,22 miliar
7. PT Astra International Tbk (ASII) – Rp24,38 miliar
8. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) – Rp23,62 miliar
9. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) – Rp21,07 miliar
10. PT Mayora Indah Tbk (MYOR) – Rp19,93 miliar
Aksi jual ini kontras dengan data keseluruhan pasar, di mana investor asing justru membukukan net buy sebesar Rp1,23 triliun — terdiri dari Rp337,06 miliar di pasar reguler, dan Rp894,42 miliar di pasar negosiasi dan tunai.
Analisis: Profit Taking atau Rotasi Sektor?
Aksi jual asing terhadap saham-saham besar di tengah IHSG yang menguat kemungkinan mencerminkan strategi rotasi portofolio. Investor global tampaknya tengah melakukan profit taking setelah reli di sejumlah sektor tambang, energi, dan konsumer.
Saham-saham seperti BUMI, ANTM, dan AMMN, yang sempat mencatat reli kuat dalam beberapa pekan terakhir, menjadi target utama aksi ambil untung. Sementara itu, saham seperti GOTO dan ERAA menghadapi tekanan akibat kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan sektor teknologi dan konsumsi domestik.
Di sisi lain, data net buy asing secara keseluruhan menunjukkan bahwa minat investor global terhadap pasar Indonesia masih terjaga. Hal ini didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang stabil, nilai tukar rupiah yang relatif terkendali, serta ekspektasi bahwa Bank Indonesia akan menahan suku bunga di level saat ini.
Pasar Saham Indonesia Masih Atraktif
Kondisi ini menegaskan bahwa pasar modal Indonesia masih menjadi destinasi menarik bagi investor jangka menengah. Namun, volatilitas jangka pendek tetap harus diwaspadai, terutama menjelang rilis data inflasi global dan kebijakan moneter The Fed.
Bagi investor domestik, momentum seperti ini bisa menjadi peluang untuk akumulasi saham-saham berfundamental kuat yang tengah dikoreksi oleh aksi jual asing. Saham sektor keuangan, telekomunikasi, dan konsumsi dasar masih dinilai memiliki potensi positif seiring stabilnya permintaan domestik.






