CMI News — Platform video pendek TikTok resmi memperluas strategi monetisasi mereka dengan meluncurkan layanan langganan bebas iklan di Inggris.

Langkah ini muncul saat tekanan aturan privasi data di Eropa dan Inggris meningkat, sekaligus memperketat persaingan platform media sosial dalam menawarkan layanan premium bebas iklan.

Lewat paket TikTok Ad-Free, pengguna bisa menikmati FYP tanpa iklan dan menghentikan pelacakan data untuk personalisasi iklan digital.

TikTok mulai menggulirkan layanan berlangganan bernama TikTok Ad-Free untuk pasar Inggris pada Senin (11/5/2026) waktu setempat.

Lewat paket ini, pengguna cukup membayar 3,99 poundsterling per bulan atau sekitar Rp 90.000 untuk menikmati pengalaman menonton tanpa iklan.

Selain menghapus iklan dari halaman For You Page (FYP), TikTok juga memberi opsi kepada pelanggan untuk menonaktifkan pelacakan data yang biasa dipakai sistem dalam menampilkan iklan personalisasi.

Langkah tersebut membuat TikTok mengikuti strategi yang sebelumnya lebih dulu dijalankan Meta melalui Instagram dan Facebook di wilayah Eropa dan Inggris.

TikTok memastikan layanan ini akan tersedia secara bertahap bagi pengguna berusia 18 tahun ke atas dalam beberapa bulan mendatang.

Nantinya, aplikasi akan menampilkan pop-up pilihan kepada pengguna, yakni tetap memakai versi gratis dengan iklan personalisasi atau beralih ke paket premium bebas iklan.

Perusahaan menjelaskan bahwa layanan ini tidak mengubah fitur utama TikTok. Pengguna tetap bisa menikmati pengalaman scrolling seperti biasa.

Hanya saja tanpa kemunculan video iklan di sela-sela FYP maupun saat pertama membuka aplikasi.

Meski demikian, pelanggan masih dapat melihat konten sponsor dari kreator, termasuk unggahan endorsement atau video bertanda “#ad”.

TikTok menyebut layanan tersebut hadir untuk memberi fleksibilitas lebih besar kepada pengguna terkait cara mereka menikmati platform.

Perusahaan juga menilai opsi berlangganan tanpa iklan dapat meningkatkan kenyamanan pengguna yang ingin menikmati konten tanpa gangguan promosi digital.

Di balik peluncuran layanan tersebut, muncul pula dorongan dari regulasi privasi data baru di Inggris.

Sebelumnya, Meta sempat menghadapi gugatan hukum terkait praktik penggunaan data pribadi untuk iklan tertarget.

Kasus itu kemudian mendorong regulator Inggris meminta platform digital menyediakan pilihan bagi pengguna untuk menolak pemanfaatan data pribadi dalam sistem iklan.

Meta lebih dulu menerapkan model langganan bebas iklan di Uni Eropa, dan kini TikTok mengadopsi pendekatan serupa untuk pasar Inggris.

Peluncuran TikTok Ad-Free sekaligus memperlihatkan perubahan besar industri media sosial global.

Platform digital kini mulai menawarkan opsi premium demi menjawab tuntutan privasi pengguna sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap iklan berbasis pelacakan data.