
CMI News — Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Kamis pagi (23/10/2025). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.635 per dolar AS, melemah 0,39% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Pelemahan ini memutus tren positif sehari sebelumnya ketika rupiah sempat menguat tipis 0,09%. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) turut menguat 0,13% ke posisi 99,03, menandakan masih kuatnya permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Sentimen Utama: Kebijakan BI dan Arah Moneter Global
Pasar keuangan domestik pagi ini masih merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75%. Keputusan ini diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berakhir pada Rabu (22/10/2025).
Langkah BI menahan suku bunga sekaligus mengakhiri tren pelonggaran moneter yang telah berlangsung tiga bulan berturut-turut — Juli, Agustus, dan September — dengan total pemangkasan sebesar 125 basis poin (bps) sepanjang tahun ini.
Suku bunga Deposit Facility tetap di 3,75%, sedangkan Lending Facility berada di 5,50%.

Kebijakan ini dinilai sebagai sinyal kewaspadaan terhadap risiko eksternal sekaligus upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang meningkat.
Tekanan Eksternal: Perang Dagang dan Shutdown AS
Selain faktor domestik, rupiah juga dibayangi ketidakpastian global, terutama dari dinamika hubungan dagang antara AS dan China.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi bahwa Washington sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor produk yang menggunakan perangkat lunak buatan AS ke China. Langkah ini muncul dua minggu setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pembatasan ekspor atas “seluruh perangkat lunak kritis” yang akan berlaku mulai 1 November.
Kebijakan ini mempertegas kembalinya ketegangan dagang AS–China, yang berpotensi menekan arus perdagangan dan investasi global, termasuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi lain, krisis politik di Washington turut menambah tekanan. Pemerintah AS kembali mengalami shutdown, yang kini memasuki hari ke-22 — menjadi yang terpanjang kedua dalam sejarah negeri itu, setelah rekor shutdown selama hampir lima minggu di era Trump 1.0 pada 2018.
Kebuntuan politik antara Partai Demokrat dan Partai Republik di Kongres membuat rancangan undang-undang pendanaan sementara pemerintah belum disetujui, terutama karena perdebatan mengenai tambahan anggaran layanan kesehatan.






