PEMALANG — Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (25 Juni 2025) di Kabupaten Pemalang tercoreng oleh aksi demonstrasi besar. Ribuan massa, terdiri dari pengajar honorer, GEMPAR (Gerakan Mahasiswa Pemalang Raya), PMII, dan Forum Guru Honorer Pemalang, turun ke jalan menuntut kejelasan Surat Keputusan (SK) pengangkatan serta pembenahan data Dapodik yang carut-marut.
Namun, di tengah perjuangan panjang para pejuang pendidikan ini, insiden tak terduga terjadi yang justru menjadi sorotan tajam dan simbol paling ironis dari bobroknya birokrasi lokal: printer di kantor Pendopo Pemalang (BKD) ternyata rusak total saat hendak mencetak dokumen penting.
Tuntutan Alot Berujung Kegagalan Teknis
Aksi yang dimulai dari Lapangan Gatungan Mulyoharjo ini berlangsung dramatis. Setibanya di Pendopo Pemalang, massa melakukan orasi dan penebaran bunga sebagai kritik keras atas “matinya hati nurani” pimpinan daerah. Setelah berjam-jam negosiasi yang alot, perwakilan massa dan pimpinan daerah akhirnya mencapai kesepakatan dan siap menandatangani Nota Kesepahaman.
Ironi muncul ketika proses finalisasi dokumen. Menurut kronologi yang disampaikan peserta aksi, Hamu Fauzi, terdapat poin yang harus direvisi. Kepala Bagian Kepegawaian (Kabag) kemudian mengarahkan perwakilan massa untuk mencetak ulang dokumen yang sudah direvisi tersebut langsung di kantor BKD yang berada di kompleks Pendopo.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















