CMI News — Presiden Prabowo Subianto menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah eskalasi geopolitik global yang semakin kompleks.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Prabowo menyebut bahwa dunia saat ini tengah menghadapi 110 konflik aktif, namun Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi dan momentum pertumbuhan.

“Kita telah mencapai hal-hal yang sangat positif di bidang ekonomi, meski dunia tengah dilanda ketidakpastian dan perang di berbagai belahan dunia,” ujar Prabowo dalam sambutannya.

Gejolak Global dan Rantai Komoditas yang Terguncang

Prabowo menyoroti bahwa ketidakpastian geopolitik telah menimbulkan efek domino terhadap rantai pasok global, terutama pada komoditas strategis seperti energi dan pangan.

Ketegangan di berbagai kawasan dunia membuat harga minyak, gas, dan bahan pangan berfluktuasi tajam — kondisi yang biasanya berimbas langsung pada ekonomi negara-negara berkembang.

“Rantai komoditas strategis pasti terpengaruh oleh keadaan geopolitik yang tidak menentu. Energi dan pangan menjadi sektor paling rawan,” tegasnya.

Namun, Prabowo menyebut bahwa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang relatif lebih kuat dibanding banyak negara lain.

Data Ekonomi yang Tetap Solid

Meski tekanan global meningkat, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2025 tetap stabil di level 5,12% (year-on-year). Angka ini menempatkan Indonesia di posisi atas di antara negara-negara G20, yang sebagian besar tengah berjuang menghadapi perlambatan ekonomi dan inflasi tinggi.

“Kita mampu menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, di kisaran 5%, dan menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara G20 dalam kondisi sekarang,” ujar Prabowo.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang diterapkan pemerintah masih efektif dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas harga.