Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Cerpen

PERJALANAN PERTAMA

×

PERJALANAN PERTAMA

Sebarkan artikel ini

Mobil pickup warna biru itu pun terus melaju, meninggalkan kepulan asap hitam dari knalpot. Melintasi jalanan yang sepi, terlihat hamparan sawah yang luas, rerumputan yang menghijau, dan pohon-pohon yang tinggi berjejer rapi di sisi jalanan yang mulai terjal dan berlumpur.

Tak lama kemudian, di depan terlihat jalan setapak. Seketika berhentilah mobil pickup yang ditumpangi oleh keempat remaja itu.

“Hoooppp…!” teriak Unul yang berdiri paling depan di bak belakang, tepat di samping sopir.

“Kiriii… Om!” ucap Septi menimpali.

Akhirnya mobil itu pun berhenti.

“Cepetan Nul, mudun, tinggal koen (Cepat Nul, turun, tinggal kamu),” kata Septi dalam bahasa Jawa Ngapak.

“Ora papa, ora papa…” jawab Unul dengan nyengir.

“Udah sampai,” ucap Evina.

Merekapun segera turun semua. Rani langsung menghampiri ke arah pintu mobil untuk membayar ongkos.

“Utang (hutang) oleh, Om?” kembali Unul berkelakar.

“Hus!” jawab Septi sambil tangannya mengarah ke mulut Unul, berusaha untuk membekapnya.

Selesai membayar kepada sopir tersebut, mereka berempat segera meninggalkan mobil itu untuk melanjutkan perjalanan menuju ke perbukitan melalui jalan setapak. Jalan itu adalah satu-satunya akses yang bisa membawa mereka ke perbukitan yang mengarah ke sebuah hutan tua.

Matahari mulai terik terasa panas. Keempat remaja putri itu pun terus berjalan, sesekali beristirahat sejenak mengambil air untuk diminum. Sambil duduk, mereka saling berpandangan untuk memikirkan rencana selanjutnya.

“Nul, gimana nih udah sampai di sini?” celetuk Septi.

“Lah embuh, sing penting mlaku terus bae, sapa tau nang ngarep ana warung makan (Lah entahlah, yang penting jalan terus saja, siapa tahu di depan ada warung makan),” jawab Unul.

“Nul, Nul, ngimpi! Ini mau ke hutan bukan ke pasar,” kata Rani.

“Hehehe,” serentak mereka saling tertawa dan terus melanjutkan perjalanan.

Angin mulai berhembus dari dedaunan. Sinar matahari mulai menembus di atas daun pohon pinus yang menjulang tinggi. Suasana mulai terasa lembap dan jalan semakin menanjak. Seketika mereka terdiam sambil terus melewati jalan yang semakin jauh ke tengah arah hutan.

Tak terasa waktu terus berjalan. Di tangan kiri Rani, jam menunjukkan pukul 16.00 sore.

Suasana dingin mulai terasa menyelimuti. Di atas bukit terlihat semak belukar yang cukup lebat, sehingga Unul, Septi, Evina, serta Rani saling berpegangan karena jalan mulai sulit.

Tidak begitu lama, mereka menemukan tempat yang sedikit luas dan rata. Mereka segera memasang tenda karena waktu semakin gelap. Terdengar suara burung hantu di balik dedaunan pohon pinus dan desiran angin yang semakin terasa dingin.

“OMG HELLO… gelapnya,” kata Unul.

Merekapun mencari ranting-ranting kering untuk membuat api unggun. Semua peralatan di dalam ransel langsung dikeluarkan untuk mempersiapkan tempat beristirahat di dalam tenda. Malam pun mulai terlihat gelap, hanya sesekali terdengar suara-suara aneh di sekitar perbukitan yang lebat itu.

Keempat sekawan itu berkumpul di dalam tenda sambil menikmati perbekalan yang mereka bawa. Rani duduk di sebelah Evina; mereka berdua saling berbincang, sedangkan kedua temannya sudah terlelap tidur di samping mereka.

Rani mulai membuka suara, “Vin, besok kita harus mencapai puncak dataran yang lebih tinggi lagi. Karena di sana ada sesuatu… katanya dari penduduk setempat ada gua yang di dalamnya terdapat bunga mahkota.”

“Apa itu betul, Vin?”

“Entahlah Ran… aku sendiri belum tahu. Yang terpenting tujuan kita mencari kebenarannya.”

“Semoga saja semua itu benar,” ucap Evina.

Keduanya saling diam membisu, sesekali memperhatikan kedua temannya yang sudah tidur dan bermimpi indah. Malam semakin gelap, waktu terus berlalu. Di keheningan malam itu, keempat remaja tersebut akhirnya terlelap. Hanya terdengar suara burung malam bersahutan dan sesekali suara pohon yang dihempaskan oleh hembusan angin.

Sinar pagi mulai menampakkan cahayanya.

Suara burung-burung terdengar nyaring saling bersahutan. Di keheningan pagi itu, mereka dikagetkan oleh suara Septi.

“Bangun! Bangun! Bangun cepat!” Septi sedikit berteriak membangunkan teman-temannya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Evina dan Unul bergantian.

“Ada apa?” jawab Evina sedikit kaget.

“Rani hilang!” sekali lagi Septi menjawab sambil terus menggoyangkan tubuh Unul yang masih lelap tertidur.

“Kepriben? Ada apa?” ucap Unul sambil mengusap-usap wajahnya karena rasa kantuk.

“Rani hilang!”

“Hah?!” Mereka berduapun sangat kaget.

“Dari tadi aku bangun dia sudah tidak ada,” jawab Septi.

Segera ketiga teman itu keluar tenda mencari Rani. Dalam keadaan panik, mereka terus mencari, menelusuri jalan yang menuju ke atas mencari, menelusuri jalan yang menuju ke atas bukit. Teriakan Septi yang memanggil nama Rani terus terdengar, dibarengi oleh kedua temannya.

Mereka saling bergantian memanggil Rani dan terus berjalan jauh ke dalam arah hutan.

“Ranii…!”

“Ranii…!”

Teriak mereka tanpa menyadari bahwa ketiganya sudah begitu jauh meninggalkan tenda. Namun sia-sia, Rani tak ditemukan. Rasa panik, takut, dan bingung bercampur aduk di pikiran mereka. Akhirnya, setelah lama berjalan di bebatuan dan menemukan aliran sungai kecil, ketiganya berhenti.





banner
error:
Verified by MonsterInsights