Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Cerpen

PERJALANAN PERTAMA

×

PERJALANAN PERTAMA

Sebarkan artikel ini

“Bagaimana ini, Vin?” tanya Septi sambil memandangi kedua temannya. Evina hanya terdiam.

“Gimana, Nul?”

“Mbuh…” ucap Unul sambil memegangi perutnya.

“Perut kamu sakit?” tanya Evina kepeda Unul.

“Wetenge inyong ngelih, kepengin madang (perutku lapar, ingin makan)”

“Huh! Orang lagi panik masih mikiri makan,” jawab Evina ketus. Septi hanya tersenyum geli melihat kedua temannya.

“Sebaiknya kita istirahat dulu sebentar, setelah ini kita lanjutkan pencarian,” kata Septi sambil membasuh muka dan meminum air yang terlihat jernih itu. Keduanya mengikuti. Ketiganya hanya saling pandang diam membisu.

Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi kepanikan.

“Coba kalau kamu tidak tidur terus dari semalam, mungkin tidak terjadi seperti ini,” kata Evina sambil menatap ke arah Unul.

“Lah, lah?! Kok saya yang disalahkan?” jawab Unul sambil melotot ke arah Evina, sedikit marah.

“Sudah, sudah… Sebaiknya di antara kita jangan saling menyalahkan,” ucap Septi sambil tangannya melerai kedua temannya yang mulai bersitegang.

“Tuh!” kata Unul sambil menunjuk ke arah Evina dengan bersungut-sungut.

“Maaf,” ucap Evina seraya tertunduk lalu diam.

“Oke, ayo kita cari lagi,” ajak Septi. la berjalan paling depan, diikuti Unul dan Evina.

Entah berapa lama ketiganya mencari, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara orang yang sedang berbicara. Ketiganya segera bersembunyi di balik semak di samping sebuah pohon besar. Mereka melihat ada dua orang laki-laki; yang satu berbadan besar dan yang satunya tinggi kurus.

Evina, Unul, dan Septi terdiam menatap kedua orang tersebut. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas kedua orang itu sangat mencurigakan. Kedua laki-laki itu terus berjalan melewati tempat persembunyian mereka.

Setelah cukup jauh, Septi dan kedua temannya memutuskan untuk mengikuti kedua laki-laki tersebut.

Yang lebih mengejutkan lagi, mereka melihat sebuah rumah kecil yang kotor dan dipagari oleh kayu yang tersusun rapi. Dengan degup jantung yang semakin kencang, mereka terus mengamati rumah itu dari balik dedaunan.

Kedua laki-laki itu memasuki pintu yang terbuka.

“Kalian berdua tetap di sini ya, aku akan mencoba ke sana,” bisik Septi. Unul dan Evina cuma bisa mengangguk.

Mereka mengamati Septi yang berjalan mengendap-endap mendekati arah samping rumah kecil itu. Tak berapa lama, Septi muncul kembali sambil terengah-engah menghampiri temannya. Wajahnya terlihat sangat panik.

“Rani ada di dalam rumah itu!”

“Hah!” hampir keduanya menjerit.

“Ssssttt…” telunjuk Septi menempel di bibir. “Kita harus bisa membebaskan Rani, apapun itu,” tegas Septi.

“Iya,” jawab Evina.

“Takuuut…” Unul berkata sambil melangkah mundur.

“Ssssttt…” Sekali lagi Septi dan Evina memberi aba-aba diam. Suasana kembali tegang.

Ketiga teman Rani mulai keluar dari persembunyian dan berjalan ke arah samping rumah. Ada jendela kecil dari kayu yang mulai rapuh. Septi mengintip melalui celah jendela.

“Ran… Rann… Rani,” panggil Septi pelan.

Seketika terdengar suara Rani menjawab dengan sedikit menjerit, namun kembali Septi memperingatkan untuk diam. Rani terlihat mengangguk. Septi berpikir keras, ia mengambil potongan kayu dan membaginya kepada kedua temannya.

“Kita lawan!” seru Septi.

“Oke!” jawab Evina sambil memegang kayu kuat-kuat.

Unul terlihat bingung dan takut. la bergumam, “Mboke… mboke… inyong wedi mboke… (Ibu… ibu… saya takut ibu…).”

Septi memberi isyarat untuk mendobrak pintu belakang yang terlihat tidak terlalu kokoh.

 

“Braaakkk!”

Pintu terbuka lebar oleh tendangan kaki Septi. Septi adalah seorang guru karate pemegang sabuk hitam; sekali tendang, pintu itu jebol. Seketika Evina masuk dan berjaga-jaga di pintu dalam yang mengarah ke ruangan tempat Rani disekap.

Tak selang berapa lama, terdengar teriakan keras dari ruang depan. “Siapa itu?!”

Tanpa banyak bicara, Septi kembali menendang pintu kamar dan segera menyelamatkan Rani yang terduduk lemah di atas lantai kotor beralaskan tikar lusuh. Septi menarik Rani keluar dan langsung berlari ke arah pintu belakang.

Evina masih menahan pintu agar orang dari depan tidak bisa masuk.

“Hey! Buka! Siapa di situ?!” Orang itu mendorong pintu yang telah diganjal kayu oleh Evina.

 

Ketiganya berhasil keluar dari pintu belakang. Namun, baru saja sampai di luar, mereka sudah dihadang oleh si lelaki tinggi kurus. Sambil tertawa beringas, orang ini langsung mengejar mereka. Perkelahian pun tak terelakkan.

 

Si tinggi kurus menyerang dengan pukulan ke arah Septi.

 

“Baakkk!” Dengan cepat Septi menangkis menggunakan kayunya.

 

“Auww!” teriak si tinggi kurus sambil mengusap tangannya. la semakin marah dan melancarkan serangan bertubi-tubi. Dengan tenang, Septi meladeni; ia menghindar, menangkis, bahkan membalas dengan pukulan telak ke arah perut lawan hingga orang itu terjungkal ke tanah.

 

Sementara itu, orang berbadan besar menyerang Rani dan Evina.


Eksplorasi konten lain dari CMI News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





















banner
error:

Berlangganan

Verified by MonsterInsights