“Awas!” teriak Rani lantang.
Dengan cepat Evina menghadang dan menyerang dengan jurus-jurus silatnya.
“Heaattt!” teriak Evina. Keduanya saling adu jotos. Dengan segenap tenaga, Evina memberi perlawanan sengit. Sesekali Rani membantu dengan pukulan, namun karena masih lemah, ia jatuh tersungkur.
Orang berbadan besar itu hendak menyerang Rani dengan tendangan keras. Namun, tiba-tiba dari arah samping terdengar teriakan dan sebuah serangan yang menjatuhkan orang besar itu hingga terjerembab ke tanah.
“Blaakkk!” suaranya cukup keras.
“Jangan bergerak!” teriak orang yang baru datang itu sambil mengacungkan pistol.
“Berhenti!”
Seketika dari berbagai arah muncul orang-orang berjaket hitam yang mulai mengepung area tersebut. Suasana menjadi sangat ramai dan menegangkan. Kedua penjahat itu dikumpulkan dalam posisi tengkurap dengan tangan di atas kepala, dijaga ketat oleh petugas polisi.
“Lapor Komandan, yang satu belum tertangkap, mungkin melarikan diri.”
“Bersihkan tempat ini, cari!”
Belum lama kemudian, terdengar suara memanggil, “Wooyy… saya di sini!”
Dari semak-semak, terlihat Unul menghampiri. Yang mengejutkan, ia membawa seorang laki-laki yang sudah tua dengan tangan terikat tali.
“Lah, kiye uwonge Pak (Nah, ini orangnya Pak),”
Unul mendorong tubuh orang tersebut hingga jatuh menimpa kedua temannya yang tertangkap lebih dulu.
Septi, Rani, dan Evina segera mendekati Unul yang masih terlihat bingung namun menyeringai ke arah mereka.
“Lah Om… jebul si Om sopir yang mengantar kita ke tempat ini dengan mobil pickup biru?” ucap Unul saat melihat pemimpin petugas itu.
Sambil tersenyum, Pak Bastian menjawab, “Iya, betul.”
“Walah… ternyata Bapak seorang polisi.”
Pak Bastian mengangguk seraya menjelaskan situasinya kepada mereka berempat. Sambil berjalan menuruni bukit, mereka mendapat banyak nasihat dari Pak Bastian. Di depan tenda, Pak Bastian pun ikut membantu merapikan perlengkapan mereka sambil bercerita tentang operasi penyamaran tersebut.
Akhirnya, mereka berlima melanjutkan perjalanan pulang menuruni bukit. Setelah sampai di perbatasan tempat mereka pertama kali diturunkan:
“Om, Om… kami berempat boleh ikut lagi nggak, Om?” celetuk Unul.
“Boleh, silakan. Tapi…” Belum sempat Pak Bastian meneruskan kalimatnya, Unul memotong.
“Utang oleh, Om?”
“Hus!” serentak Septi, Rani, dan Evina menjawab sambil membungkam mulut Unul. Unul pun menghindar dan berlari berlindung di belakang badan Pak Bastian.
“Ayo silakan, gratis!”
“Horeee!”
Keempat remaja itu pun langsung naik ke atas mobil pickup biru yang siap berangkat.
“Semangat Bess, semangaaat!”
“Semangat!” teriak mereka bertiga sambil tertawa lepas.
“Kalian adalah 4 Sekawan 5 Sempurna,” ucap Pak Bastian sambil tersenyum dan menyalakan mesin mobilnya.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.












