CMI News — Meta Platforms mencatat penurunan signifikan jumlah pengguna di awal 2026. Perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp ini kehilangan sekitar 20 juta pengguna aktif harian (Daily Active User/DAU) selama kuartal pertama 2026.

Meta mengungkap data tersebut dalam laporan keuangan periode Januari hingga Maret 2026. Meski tidak merinci penurunan di masing-masing platform, perusahaan mencatat total pengguna aktif harian mereka sebut Daily Active People (DAP) turun menjadi 3,5 miliar, dari sebelumnya 3,58 miliar pada kuartal IV-2025.

Meta mendefinisikan DAP sebagai jumlah pengguna yang mengakses setidaknya satu layanan mereka melalui perangkat mobile atau web dalam satu hari.

Kepala Keuangan Meta, Susan Li, menjelaskan bahwa gangguan internet di Iran memicu penurunan pengguna secara signifikan. Ia juga menyebut pembatasan akses WhatsApp di Rusia ikut menekan angka pengguna.

Pemerintah Rusia sendiri mulai membatasi akses WhatsApp sejak Februari 2026 dan mendorong warganya beralih ke aplikasi lokal bernama Max.

Otoritas setempat bahkan mewajibkan pemasangan aplikasi tersebut di perangkat baru serta penggunaannya di kalangan pegawai pemerintah dan sektor pendidikan.

Pasar merespons negatif kabar ini. Saham Meta langsung turun sekitar 9 persen pada penutupan perdagangan di Amerika Serikat setelah perusahaan merilis laporan tersebut.

Meski jumlah pengguna menurun, Meta tetap mencatat kinerja finansial yang kuat. Perusahaan membukukan pendapatan sebesar 56,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 977 triliun), naik 33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meta juga mengantongi laba bersih 22,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 395 triliun).

Di sisi lain, Meta terus meningkatkan investasi di bidang kecerdasan buatan (AI). Perusahaan memperkirakan belanja AI tahun ini mencapai 125–145 miliar dolar AS, naik sekitar 10 miliar dari rencana awal.

Susan Li mengakui kebutuhan komputasi AI terus melampaui proyeksi perusahaan, meski Meta sudah memperluas kapasitas secara agresif.

Ia menambahkan, kenaikan biaya chip dan pembangunan pusat data baru mendorong lonjakan investasi tersebut.

Langkah agresif ini menegaskan Meta fokus memperkuat infrastruktur AI dan daya saing meski menghadapi tekanan pengguna di beberapa wilayah.