PEMALANG, CMI News – Untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat serta pelajar terhadap potensi bencana sejak dini, Kementerian Sosial (Kemensos) RI berkolaborasi dengan Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos KBPP) Kabupaten Pemalang menggelar Pelatihan Kampung Siaga Bencana (KSB) dan program Tagana Masuk Sekolah (TMS).

Kegiatan yang diikuti oleh para relawan Tagana dan ratusan pelajar tersebut dilangsungkan secara serentak di wilayah Kecamatan Pulosari, Pemalang, Sabtu (16/05/2026).

Selain dipusatkan di Balai Desa Penakir untuk komponen KSB masyarakat, pelaksanaan edukasi Tagana Masuk Sekolah digelar di dua titik lembaga pendidikan, yakni SMP Negeri 1 Pulosari dan SMP Negeri 2 Pulosari.

Selama pelatihan berlangsung, para peserta mendapatkan materi komprehensif mengenai mitigasi bencana, teknik penanganan keadaan darurat, hingga langkah-langkah konkret dalam mengurangi risiko dampak bencana di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas.

Staf Kementerian Sosial RI, Komarudin, menjelaskan bahwa agenda ini diharapkan mampu menambah khazanah pengetahuan sekaligus kesiapan mental dan fisik para pelajar dalam menghadapi situasi kedaruratan.

“Kegiatan ini memberikan pengetahuan tambahan kepada adik-adik kita. Selain itu juga memberikan edukasi terkait cara mengurai dampak saat terjadi bencana alam maupun non-alam di lingkungan sekolah,” ujar Komarudin.

Ia menambahkan, edukasi kebencanaan yang masif di lingkungan pendidikan dan domestik adalah instrumen krusial dalam rantai mitigasi. Hal ini agar mata rantai penanganan sebelum, saat terjadi, dan pascabencana dapat dipahami secara runut oleh seluruh lapisan elemen masyarakat.

Mengingat letak geografis Kecamatan Pulosari yang berada langsung di wilayah lereng Gunung Slamet, urgensi pelatihan ini dirasa sangat tinggi oleh pihak sekolah. Kepala SMP Negeri 1 Pulosari, Amin Imroni Rosyid, menyambut baik dan mengapresiasi penuh langkah sinergis dari Kemensos dan Dinsos Pemalang tersebut.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena sekolah kami berada di lereng Gunung Slamet dan sebagian siswa tinggal di daerah rawan bencana. Melalui kegiatan ini, pengetahuan anak-anak tentang kebencanaan semakin bertambah,” ungkap Amin Imroni Rosyid.

Kendati demikian, Amin berharap skema pelatihan edukasi kebencanaan seperti ini tidak berhenti sampai di sini saja, melainkan dapat diakomodasi secara berkala dan berkelanjutan.

“Jumlah siswa di sini sekitar 700 orang dan belum semuanya mengikuti kegiatan ini. Kami berharap ke depan seluruh siswa bisa mendapatkan edukasi yang sama sehingga keterampilan menghadapi bencana semakin baik dan risiko bencana dapat diminimalkan,” pungkasnya.