CMI News — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi terus memicu kekhawatiran global sejak kemunculan kecerdasan buatan generatif seperti ChatGPT.

Di tengah meningkatnya kecemasan publik, CEO OpenAI Sam Altman akhirnya memberikan tanggapan langsung terkait tudingan bahwa AI menjadi pemicu utama hilangnya banyak pekerjaan manusia.

Popularitas teknologi AI generatif dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara perusahaan bekerja dikutip dari The Sun Senin, (11/5/2026).

Banyak sektor mulai mengandalkan otomatisasi berbasis AI untuk meningkatkan efisiensi, mulai dari layanan pelanggan hingga pengembangan perangkat lunak.

Namun di balik perkembangan tersebut, gelombang PHK mulai bermunculan di berbagai perusahaan teknologi dunia.

Banyak pihak menilai kemunculan ChatGPT dan teknologi serupa mempercepat perubahan besar di pasar tenaga kerja.

Menanggapi kekhawatiran itu, CEO OpenAI Sam Altman menegaskan bahwa perusahaan yang ia pimpin tidak memiliki tujuan untuk menggantikan manusia sepenuhnya dengan mesin.

Lewat unggahan di platform X beberapa waktu lalu, Altman menyebut OpenAI ingin menciptakan teknologi yang membantu meningkatkan kemampuan manusia, bukan menyingkirkan peran mereka di dunia kerja.

“Kami ingin membangun alat yang memperkuat produktivitas manusia, bukan menciptakan sistem yang menggantikan manusia,” tulis Altman.

Pernyataan tersebut muncul saat industri teknologi Amerika Serikat menghadapi badai PHK besar-besaran sepanjang setahun terakhir.

Perusahaan teknologi dari berbagai skala mulai memangkas ribuan pekerja demi efisiensi operasional dan penyesuaian strategi bisnis.

Ironisnya, sejumlah petinggi perusahaan secara terbuka mulai mengaitkan pengurangan tenaga kerja dengan meningkatnya kemampuan AI dalam mengotomatisasi pekerjaan.

Salah satu kasus yang paling banyak mendapat sorotan datang dari King, studio pengembang game Candy Crush.

Sejumlah engineer di perusahaan itu sempat mengembangkan sistem AI pembuat level permainan secara otomatis.

Setelah proyek selesai, perusahaan justru memberhentikan sebagian teknisi yang sebelumnya membangun teknologi tersebut.

AI kemudian mengambil alih sebagian pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan manusia.

Fenomena itu memperkuat pandangan publik bahwa AI berpotensi menghapus banyak profesi dalam beberapa tahun mendatang.

Kekhawatiran masyarakat juga semakin besar setelah CEO Anthropic, Dario Amodei, mengeluarkan prediksi kontroversial terkait masa depan industri teknologi.

Amodei menyebut dunia hanya tinggal beberapa bulan menuju era ketika AI mampu menulis hampir seluruh kode komputer tanpa campur tangan manusia.

Prediksi tersebut langsung memicu perdebatan luas di kalangan pekerja teknologi, khususnya programmer dan software engineer.

Sam Altman menganggap kekhawatiran publik soal AI yang menghancurkan lapangan kerja masih terlalu berlebihan dalam jangka panjang.

Menurut Altman, perkembangan teknologi justru berpotensi menciptakan jenis pekerjaan baru yang sebelumnya belum pernah ada.

Ia percaya manusia tetap memegang peran penting dalam mengawasi, mengembangkan, dan memanfaatkan AI secara produktif.

Berbagai riset terbaru menunjukkan AI paling cepat mengambil alih pekerjaan repetitif dan administratif.

Perusahaan kini semakin sering memakai AI generatif untuk menangani customer service, data entry, hingga coding dasar.

Namun, AI masih sulit menggantikan profesi yang mengandalkan kreativitas, empati, kepemimpinan, dan interaksi sosial.

Karena itu, perkembangan AI dan dampaknya terhadap dunia kerja masih terus memicu perdebatan.