CMI News — Perkembangan AI generatif semakin memengaruhi pasar kerja global.

Riset Harvard Business School menunjukkan perusahaan mulai mengurangi perekrutan untuk pekerjaan rutin sejak ChatGPT hadir pada akhir 2022.

Riset bertajuk Displacement or Complementarity? Profesor Suraj Srinivasan bersama peneliti dari Hong Kong University of Science and Technology dan Ohio State University menggarap riset The Labor Market Impact of Generative AI.

Tim peneliti menganalisis jutaan lowongan kerja di Amerika Serikat sepanjang 2019 hingga Maret 2025.

Mereka memetakan lebih dari 19.000 tugas pekerjaan dalam sekitar 900 profesi berbeda.

Penelitian menunjukkan perusahaan memangkas lowongan kerja posisi repetitif hingga 13 persen setelah berbagai industri mulai memakai AI generatif.

Sebaliknya, perusahaan justru meningkatkan pencarian kandidat dengan kemampuan teknis, analitis, dan kreatif hingga 20 persen. Tren ini paling terlihat di industri teknologi dan keuangan.

Peneliti menilai AI tidak sekadar menggantikan pekerjaan manusia. Teknologi ini juga menciptakan kebutuhan baru untuk profesi yang mampu bekerja berdampingan dengan sistem AI.

Profesi seperti analis keuangan, mikrobiolog, hingga neuropsikolog klinis menjadi contoh pekerjaan yang semakin kuat karena dukungan AI.

Dalam sektor keuangan, misalnya, analis kini memakai AI untuk mengolah data pasar lebih cepat, sementara manusia tetap mengambil keputusan akhir.

Penelitian juga menunjukkan perusahaan mulai memangkas daftar keterampilan untuk pekerjaan yang mudah diotomatisasi.

Sebaliknya, perusahaan menambah syarat kemampuan baru pada posisi yang memanfaatkan AI sebagai alat pendukung kerja.

Perusahaan kini mencari kandidat yang mampu menulis prompt AI, memahami literasi AI, berkolaborasi dengan AI, dan menguasai aplikasi AI khusus industri.

Di sisi lain, perusahaan juga lebih menghargai kemampuan komunikasi dan pengambilan keputusan karena AI belum bisa sepenuhnya menggantikan interaksi sosial manusia.

Profesor Srinivasan mendorong perusahaan agar fokus melatih ulang karyawan yang pekerjaannya rentan tergeser otomatisasi.

Ia juga meminta perusahaan terus meningkatkan kemampuan AI tenaga kerja agar teknologi bisa memperkuat produktivitas manusia, bukan sekadar memangkas biaya operasional.

Meski begitu, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini masih berfokus pada dampak jangka pendek di pasar tenaga kerja Amerika Serikat.

Dampak jangka panjang AI terhadap dunia kerja global masih terus berkembang seiring cepatnya evolusi teknologi generatif.