
“Terima kasih kepada pengurus FKPAT dan panitia atas terselenggaranya pertemuan ini, saya ingin menyampaikan tak mungkin ada TAPA kalau tidak ada FKPAT,” ungkapnya.
Aa Paton juga mengisahkan sejarah terbentuknya FKPAT yang tidak mudah lahir begitu saja.
Perjalanan panjang ini diawali dengan peran penting beberapa kelompok pecinta alam dalam dunia relawan kebencanaan saat meletusnya kembali Gunung Galunggung, dimulai dengan hujan abu pada 5 April 1982 dan disusul dengan beberapa letusan besar pada 8 April 1982.
“Pada saat itu, tepatnya tanggal 8 April, terjadi letusan besar, dan kita pada saat itu mendapat panggilan dari kepolisian untuk operasi SAR. Saat itu, dari KPA Tasikmalaya ada KAPPA, Khaniwata Unsil, dan Jarambah QC, yang bergabung dengan pecinta alam dari Wanadri dan Mapala Unpas,” jelasnya.
Eksistensi kelompok pecinta alam dalam penanganan kebencanaan menurut Paton saat itu mendapat perhatian dari pemerintah. Pada 1984, pemerintah membentuk SAR Kelompok Masyarakat bagi kelompok pecinta alam Tasikmalaya untuk diikutsertakan dalam pendidikan kebencanaan yang dilaksanakan di Cimahi, Bandung.

Atas dasar kemanusiaan dan kurangnya sumber daya manusia di bidang relawan kebencanaan, pada 1992 tiga organisasi (KAPPA, Khaniwata, dan Jarambah QC) berembuk untuk membentuk Puskompalatas yang dideklarasikan di Karangresik.
Namun, Puskompalatas hanya sebuah nama tanpa aktivitas yang menonjol. Pada tahun 1998, Aa Paton diundang pada perayaan ulang tahun Khaniwata Unsil yang ke-16.
Di acara tersebut, tercetus kembali ide untuk membuat sebuah wadah baru bagi para kelompok pecinta alam. Atas inisiasi tiga kelompok pecinta alam tersebut, tepat pada 27 November 1998, lahirlah FKPAT yang dibidani oleh 16 KPA di Tasikmalaya.
Ditempat yang sama Founder PPGR HIRA Harun Al Rosyd mengatakan bahwa FKPAT memiliki sebuah kekuatan besar, ia mengatakan FKPAT merupakan sebuah wadah himpunan dari 113 Kelompok pecinta alam yang ada di Tasikmalaya dengan jumlah anggota ribuan orang.






