
Ribuan anggota pecinta alam yang tergabung dalam FKPAT saat membentangkan dan mengibarkan bendera Merah Putih pada kegiatan TAPA FKPAT beberapa tahun silam
sukses menggelar aksi spektakuler dengan membentangkan bendera merah putih raksasa pada peringatan Hari Kemerdekaan RI, Forum Komunikasi Pecinta Alam Tasikmalaya (FKPAT) kini kembali mereka pun menunjukkan eksistensinya dalam membangun jiwa nasionalisme demi NKRI.
Pada kopi darat Pecinta Alam (TAPA) yang akan dilangsungkan di kawasan Gunung Galunggung, Tasikmalaya, pada tanggal 16-17 Agustus 2024, FKPAT berniat mengibarkan Bendera Merah Putih sebanyak 2.024 buah.
Tentu Kegiatan ini bukanlah kali pertama bagi FKPAT. tahun 2018, ribuan kelompok pecinta alam berhasil membentangkan bendera merah putih sepanjang 1.000 meter di bibir kawah Gunung Galunggung yang bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73.
Dua tahun kemudian, pada peringatan HUT RI ke-75, FKPAT mengulang suksesnya dengan membentangkan bendera berukuran 75 x 45 meter di Danau Situ Gede Tasikmalaya menggunakan puluhan perahu karet.

Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan kemerdekaan bagi ribuan pecinta alam di Tasikmalaya. FKPAT, yang menaungi 113 kelompok pecinta alam, terus memperlihatkan eksistensinya untuk menyemarakkan Hari Kemerdekaan dengan cara-cara yang unik dan menginspirasi.
Sebelumnya, sesi diskusi yang bertajuk ‘Kupas Tuntas Makna Dibalik TAPA dan FKPAT” dan dihadiri ratusan kelompok pecinta alam, digelar di pelataran Gedung Trigatra Kampus Universitas Siliwangi pada Senin (29/7/2024) malam.
Di acara tersebut, Ketua Pelaksana TAPA FKPAT 2024, Fasya Muhammad, menjelaskan pihaknya beserta rekan panitia berenncana melaksanakan pengibaran sebanyak 2.024 bendera merah putih.
Fasya, yang dikenal dengan nama rimba Salak dan merupakan anggota Sispala Bimapala Kamufisa SMA Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah Kota Tasikmalaya, menambahkan bahwa panitia juga akan mengibarkan bendera di udara dengan menggunakan paramotor.
“Kita juga akan mengibarkan bendera berukuran besar di angkasa dengan menggunakan paramotor,” ungkap Salak.
Pengibaran bendera di udara menurutnya tidaklah hanya sebagai tontonan bagi para peserta upacara, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam.
Menurutnya konten acara ini adalah sebagai simbol harapan akan kejayaan bangsa Indonesia yang akan tetap terus menjaga kelestarian lingkungan. Ia menyebut Bendera Merah Putih yang menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia beserta bendera FKPAT akan terbang tinggi
“Ini melambangkan bahwa dengan semangat nasionalisme, Indonesia bersama FKPAT akan lebih berjaya, dimana gerakan kepecintaalaman akan tetap menjaga dan melestarikan lingkungan di bumi pertiwi yang kita cintai ini,” tandasnya.
Sementara itu Ketua FKPAT periode 2024-2027, Miftah “Babol” Rizky, menyatakan bahwa kegiatan TAPA FKPAT 2024 juga akan menghadirkan diskusi tentang sejarah dan sosial budaya masyarakat Tasikmalaya yang berkaitan dengan penamaan Tasikmalaya dan keberadaan Gunung Galunggung.
“Di kegiatan TAPA nanti, kita juga akan mengupas perihal sosial budaya masyarakat Tasikmalaya yang berkaitan dengan asal-usul Tasikmalaya serta kaitannya dengan keberadaan Gunung Galunggung, dengan menghadirkan beberapa budayawan dan dari kalangan akademisi,” jelas Miftah.
Tak kalah menarik dari sesi diskusi ini adalah panitia menghadirkan beberapa narasumber di antaranya Aa Paton selaku sesepuh dan inisiator terbentuknya FKPAT, Founder PPGR HIRA Harun Al Rosyd, Aktivis Lingkungan Harniwan Obech.
Juga hadir sejumlah mantan Ketua FKPAT di antaranya Saepunurdiansyah (Mbe, )dan Amal Aulia Pampam yang dipandu oleh moderator Aa Saefulmilah dan Rafi Faza yang menghidupkan dan menghangatkan suasana diskusi.
Dalam diskusi yang digelar hingga larut malam tersebut, Aa Paton menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas terselenggaranya pertemuan para kelompok pecinta alam yang sudah sangat jarang dilaksanakan akibat dampak pandemi Covid-19.
“Terima kasih kepada pengurus FKPAT dan panitia atas terselenggaranya pertemuan ini, saya ingin menyampaikan tak mungkin ada TAPA kalau tidak ada FKPAT,” ungkapnya.
Aa Paton juga mengisahkan sejarah terbentuknya FKPAT yang tidak mudah lahir begitu saja.
Perjalanan panjang ini diawali dengan peran penting beberapa kelompok pecinta alam dalam dunia relawan kebencanaan saat meletusnya kembali Gunung Galunggung, dimulai dengan hujan abu pada 5 April 1982 dan disusul dengan beberapa letusan besar pada 8 April 1982.
“Pada saat itu, tepatnya tanggal 8 April, terjadi letusan besar, dan kita pada saat itu mendapat panggilan dari kepolisian untuk operasi SAR. Saat itu, dari KPA Tasikmalaya ada KAPPA, Khaniwata Unsil, dan Jarambah QC, yang bergabung dengan pecinta alam dari Wanadri dan Mapala Unpas,” jelasnya.
Eksistensi kelompok pecinta alam dalam penanganan kebencanaan menurut Paton saat itu mendapat perhatian dari pemerintah. Pada 1984, pemerintah membentuk SAR Kelompok Masyarakat bagi kelompok pecinta alam Tasikmalaya untuk diikutsertakan dalam pendidikan kebencanaan yang dilaksanakan di Cimahi, Bandung.
Atas dasar kemanusiaan dan kurangnya sumber daya manusia di bidang relawan kebencanaan, pada 1992 tiga organisasi (KAPPA, Khaniwata, dan Jarambah QC) berembuk untuk membentuk Puskompalatas yang dideklarasikan di Karangresik.
Namun, Puskompalatas hanya sebuah nama tanpa aktivitas yang menonjol. Pada tahun 1998, Aa Paton diundang pada perayaan ulang tahun Khaniwata Unsil yang ke-16.
Di acara tersebut, tercetus kembali ide untuk membuat sebuah wadah baru bagi para kelompok pecinta alam. Atas inisiasi tiga kelompok pecinta alam tersebut, tepat pada 27 November 1998, lahirlah FKPAT yang dibidani oleh 16 KPA di Tasikmalaya.
Ditempat yang sama Founder PPGR HIRA Harun Al Rosyd mengatakan bahwa FKPAT memiliki sebuah kekuatan besar, ia mengatakan FKPAT merupakan sebuah wadah himpunan dari 113 Kelompok pecinta alam yang ada di Tasikmalaya dengan jumlah anggota ribuan orang.
Namun di balik kekuatan tersebut dirinya menyayangkan aktivitas sebagian besar kelompok masih hanya terpaku pada kegiatan pendakian, pemanjatan penelusuran gua dan arung jeram, padahal menurutnya kegiatan menjaga kelestarian lingkungan masih kurang banyak dilakukan.
- “Kalau saya perhatikan konsen beberapa kelompok pecinta alam yang berkegiatan olahraga alam bebes sedangkan kajian untuk kepedulian lingkungan masih diperlukan, mungkin ini tugas FKPAT agar dapat dibangun sebuah konsep yang sistemik dalam penyelengaraan gerakan kelestarian lingkungan,”pungkasnya






