“Kita juga akan mengibarkan bendera berukuran besar di angkasa dengan menggunakan paramotor,” ungkap Salak.

Pengibaran bendera di udara menurutnya tidaklah hanya sebagai tontonan bagi para peserta upacara, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam.

Menurutnya konten acara ini adalah sebagai simbol harapan akan kejayaan bangsa Indonesia yang akan tetap terus menjaga kelestarian lingkungan. Ia menyebut Bendera Merah Putih yang menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia beserta bendera FKPAT akan terbang tinggi

“Ini melambangkan bahwa dengan semangat nasionalisme, Indonesia bersama FKPAT akan lebih berjaya, dimana gerakan kepecintaalaman akan tetap menjaga dan melestarikan lingkungan di bumi pertiwi yang kita cintai ini,” tandasnya.

Sementara itu Ketua FKPAT periode 2024-2027, Miftah “Babol” Rizky, menyatakan bahwa kegiatan TAPA FKPAT 2024 juga akan menghadirkan diskusi tentang sejarah dan sosial budaya masyarakat Tasikmalaya yang berkaitan dengan penamaan Tasikmalaya dan keberadaan Gunung Galunggung.

“Di kegiatan TAPA nanti, kita juga akan mengupas perihal sosial budaya masyarakat Tasikmalaya yang berkaitan dengan asal-usul Tasikmalaya serta kaitannya dengan keberadaan Gunung Galunggung, dengan menghadirkan beberapa budayawan dan dari kalangan akademisi,” jelas Miftah.

Tak kalah menarik dari sesi diskusi ini adalah panitia menghadirkan beberapa narasumber di antaranya Aa Paton selaku sesepuh dan inisiator terbentuknya FKPAT, Founder PPGR HIRA Harun Al Rosyd, Aktivis Lingkungan Harniwan Obech.

Juga hadir sejumlah mantan Ketua FKPAT di antaranya Saepunurdiansyah (Mbe, )dan Amal Aulia Pampam yang dipandu oleh moderator Aa Saefulmilah dan Rafi Faza yang menghidupkan dan menghangatkan suasana diskusi.

Dalam diskusi yang digelar hingga larut malam tersebut, Aa Paton menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas terselenggaranya pertemuan para kelompok pecinta alam yang sudah sangat jarang dilaksanakan akibat dampak pandemi Covid-19.