Cikarang, CMI News — PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) terus memperkuat pijakannya di industri tambang logam nasional, terutama melalui pengembangan proyek emas dan nikel yang dinilai akan menopang kinerja jangka menengah hingga panjang.
Dukungan proyek-proyek strategis ini menjadikan saham MDKA tetap atraktif bagi investor, meski tantangan biaya dan produksi masih membayangi.
Dalam riset terbarunya, analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Harahap dan Brandon Boedhiman, menyebut bahwa MDKA berpotensi mencatatkan tambahan EBITDA sebesar US$ 30 juta pada semester II-2025.
Tambahan ini bersumber dari dimulainya proyek AIM (Acid, Iron, Metal) di Morowali, Sulawesi Tengah proyek pengolahan limbah industri yang memiliki potensi nilai tambah signifikan.
Pani Gold & Tujuh Bukit Jadi Pilar Baru Produksi Emas
Di sektor emas, proyek Pani Gold di Gorontalo diproyeksikan mulai beroperasi pada kuartal IV-2025 melalui skema heap leach.
Targetnya, penuangan emas perdana (first gold pour) akan terjadi pada kuartal I-2026. MDKA memperkirakan proyek ini akan menghasilkan sekitar 80 ribu ons emas sepanjang 2026, menjadi salah satu kontributor utama pendapatan emiten.
Sementara itu, pengembangan proyek Tujuh Bukit Copper Project (TB Copper) di Banyuwangi terus berlanjut. Cadangan bijih pada area operasi Sub Level Caving (SLC) ditingkatkan dari 4 juta ton menjadi 6 juta ton, memberikan ruang lebih besar untuk produksi awal. Namun, pra-studi kelayakan (pre-feasibility study) proyek ini diundur ke semester II-2025.
Dorongan Tambahan dari Smelter HPAL dan ESG
MDKA juga mencatat kemajuan penting dalam proyek-proyek pengolahan dan pemurnian nikel melalui teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL). Unit ESG HPAL Train B di Morowali ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II-2025 dan akan bertransisi ke fasilitas milik MDKA sendiri, SCM, pada paruh kedua 2025. Untuk proyek smelter HPAL SLNC, progres pembangunan telah mencapai 14,4% pada kuartal I-2025 dan commissioning tetap dijadwalkan pada semester II-2026.
“Proyek smelter tembaga, emas, dan nikel yang tengah dikembangkan MDKA akan menjadi mesin pertumbuhan baru dalam beberapa tahun ke depan,” tulis Juan dalam risetnya.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Mulai kuartal II-2025, MDKA diperkirakan menghadapi tekanan dari sisi biaya akibat penerapan skema baru royalti mineral.
Tarif royalti emas diperkirakan meningkat dari 10% menjadi 16%, dengan asumsi harga emas dunia bertahan di atas US$ 3.000 per ons.
Selain itu, produksi emas dan tembaga perseroan juga berpotensi turun dalam beberapa kuartal mendatang seiring dengan penurunan kadar bijih (ore grade), yang merupakan tantangan umum dalam industri tambang.
Melalui pendekatan valuasi sum of the parts (SOTP), Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham MDKA dengan target harga Rp 2.700 per saham.
Target tersebut mencerminkan estimasi price to earnings ratio (P/E) 2026 sebesar 15,9 kali, menandakan ekspektasi pertumbuhan yang tetap kuat meskipun disertai risiko.




















