Cikarang, CMI News – Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) berhasil mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (21/8/2025). Harga saham emiten alat berat dan pertambangan ini naik 5,7% ke level Rp 25.800, sekaligus mencatat kenaikan bulanan sebesar 12,4%.

Kinerja tersebut menimbulkan optimisme baru di kalangan investor, meskipun analis menilai ruang kenaikan saham mulai terbatas.

Performa Keuangan: Laba Bersih Masih Tertekan

Pada kuartal II-2025, UNTR membukukan pendapatan Rp 34,26 triliun, nyaris sama dibanding kuartal sebelumnya (0,0% qoq), namun tumbuh 6,7% yoy. Secara kumulatif, semester I-2025 mencatat pendapatan Rp 68,52 triliun atau naik 6,2% yoy.

Namun, sisi profitabilitas belum sepenuhnya pulih. Laba bersih kuartal II-2025 tercatat Rp 4,94 triliun, melonjak 55% qoq tetapi turun tipis 0,8% yoy. Akumulasi semester I hanya mencapai Rp 8,13 triliun, merosot 14,7% yoy.

Menurut Kiwoom Sekuritas, capaian tersebut masih berada di bawah ekspektasi, baru 44,7% dari target setahun penuh.

Segmen Bisnis: Emas & Nikel Jadi Penopang

Kinerja UNTR pada kuartal II didukung keuntungan non-operasional seperti laba kurs Rp 467 miliar dan laba lain-lain Rp 503 miliar.

Secara operasional, sejumlah segmen menunjukkan pertumbuhan positif:

Alat berat: naik 15,9% qoq

Pertambangan batu bara: melonjak 92,7% qoq

Pertambangan emas & mineral lain: naik tajam 575,4% qoq

Kontraktor tambang: hanya naik 1% qoq, namun anjlok 42,8% yoy

Data operasional lebih detail menunjukkan:

Penjualan Komatsu: 1.343 unit (turun 3% qoq, naik 31,5% yoy)

Produksi batu bara: 36 juta ton (naik 2,7% qoq, turun 3,3% yoy)

Penjualan emas: 368 ribu ons (naik 19,3% qoq, 33,2% yoy)

Penjualan nikel: 562 ribu WMT (naik 7% qoq, 12,3% yoy)

Diversifikasi ke emas dan nikel menjadi bantalan penting di tengah tekanan bisnis batu bara dan kontraktor tambang.

Rekomendasi Analis & Target Harga

Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi hold untuk saham UNTR. Valuasi berdasarkan DCF, P/E, dan PBV menghasilkan target harga baru di level Rp 26.775 per saham, turun dari proyeksi sebelumnya Rp 28.725.

Faktor risiko yang perlu dicermati investor mencakup:

Fluktuasi harga komoditas global

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS

Kebijakan suku bunga global.