CMI News – Sebuah gemuruh senyap kini mengguncang koridor kekuasaan. Bukan gemuruh demonstrasi, melainkan dentingan palu penyidik yang membongkar kotak pandora dugaan korupsi megaproyek pengadaan laptop Kemendikbudristek senilai hampir Rp 10 triliun. Di balik janji manis digitalisasi pendidikan, terselip aroma busuk pengkhianatan yang kini mulai diendus Kejaksaan Agung.
Mimpi Digitalisasi yang Ternoda
Antara tahun 2019 hingga 2022, program digitalisasi pendidikan digembar-gemborkan sebagai lompatan besar menuju masa depan. Namun, siapa sangka, di balik layar, ada skenario yang lebih gelap. Tim penyidik Kejagung menemukan bahwa proyek ambisius yang seharusnya mengangkat mutu pendidikan justru menyisakan jejak kelam: jejak persekongkolan.
“Sudah ada uji coba sebelumnya di tahun 2019. Dan hasilnya tidak efektif. Tapi kenapa tetap dipaksakan?” ujar Harli Siregar, seolah menahan emosi di balik konferensi pers yang sunyi, menggambarkan kejanggalan awal yang mencuat.
Ganti Spesifikasi, Ganti Arah
Kisah ini bermula dari penggantian spesifikasi mendadak. Chromebook, yang berbasis internet, dipilih meskipun banyak wilayah di Indonesia belum terjangkau sinyal memadai. Kajian teknis sebelumnya yang merekomendasikan sistem Windows justru ditinggalkan, digeser, diganti. Dugaan kuat mengarah pada pemufakatan jahat yang membelokkan arah kebijakan, bukan demi kemajuan siswa, melainkan demi keuntungan terselubung.
Ini bukan sekadar masalah teknis. Ini adalah cerminan di mana suara uang lebih nyaring daripada suara guru.
Proyek ini telah menguras Rp 9,98 triliun anggaran negara. Dana yang semestinya mengalir deras ke ruang-ruang kelas, membeli buku, atau meningkatkan kualitas pengajar, malah menguap ke dalam sistem licik yang penuh rekayasa.
Penggeledahan Senyap dan Misteri yang Tersimpan
Dalam senyap, penyidik Kejagung bergerak. Dua apartemen mewah yang diduga milik staf khusus mantan menteri, FH dan JT, digeledah. Tanpa sorotan kamera yang hingar-bingar, penyidik menyita sejumlah barang bukti: laptop, ponsel, dokumen, dan data digital. Di antara tumpukan kabel dan file itu, mungkin tersimpan rahasia persekongkolan yang akan mengguncang jagat birokrasi, mengungkap siapa saja yang bermain di balik tirai pengadaan ini.
Bayangkan saja: ribuan laptop telah dibeli, namun di pelosok negeri, anak-anak hanya bisa menatap layar hitam—tanpa internet, tanpa pelajaran, tanpa masa depan yang dijanjikan. Ini adalah sebuah ironi yang menyakitkan, menunjukkan bagaimana ambisi digitalisasi bisa berubah menjadi bumerang ketika integritas dikhianati.
Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa setiap rupiah anggaran negara yang digelontorkan untuk pendidikan harus diawasi dengan ketat. Jika tidak, bukan hanya kerugian finansial yang terjadi, tetapi juga mimpi dan masa depan generasi penerus bangsa yang terenggut.




















