“Apakah seorang Ahmad Luthfi mampu…?” tanyanya, disambut teriakan “mampu” dari hadirin.
Luthfi menjelaskan bahwa Jateng adalah rumahnya, tempat ia hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Ia merasa bertanggung jawab sebagai figur “bapak” bagi berbagai lapisan masyarakat, termasuk petani, nelayan, santri, pedagang pasar, dan anak muda.



















