Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Cerpen

DI ATAS AWAN

×

DI ATAS AWAN

Sebarkan artikel ini

Langit biru cerah, seolah menyambut langkah Rendi. Dia menuju rumah mamanya, tempat di mana cinta dan kasih sayang masih menanti. Rendi tidak pernah membedakan antara keluarga baru mamanya dan dirinya sendiri. Baginya, mereka semua adalah keluarga.

Rendi membuka pintu, dan senyum manis menyambutnya. “Mama, aku datang!” serunya. Mamanya, yang sedang sibuk di dapur, langsung menyambutnya dengan hangat. “Rendi, Aku masak makanan kesukaanmu hari ini,” kata mamanya, sambil mengusap rambut Rendi.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Rendi duduk di ruang tamu, ditemani oleh Sikha, Royan, dan Sutih. Mereka bertiga langsung mengerubungi Rendi, bercerita tentang hari mereka. Rendi tersenyum, merasa bahagia di tengah-tengah keluarga barunya.

Tapi, di tengah kebahagiaan itu, Rendi tidak bisa melupakan ayahnya. Ayah yang masih jauh, yang sudah berkeluarga lagi, dengan anak sendiri. Rendi berdoa, semoga ayahnya bisa menemukan kebahagiaan juga.

Rendi mengeluarkan dompetnya, dan mengambil beberapa lembar uang. “Mama, ini buat belanja,” katanya, sambil menyerahkan uang itu kepada mamanya. Mamanya tersenyum, dan memeluk Rendi. “Terima kasih, Rendi. Kamu anak baik,” katanya.

Mereka berdua berbicara dari hati ke hati, tentang kehidupan, tentang keluarga, tentang masa depan. Rendi merasa damai, merasa dicintai. Dan dia tahu, bahwa dia selalu memiliki keluarga yang mendukungnya, tidak peduli apa yang terjadi.

Pada saat itu Rendi hanya ingin berbakti dan mengasihi kepada mama tercinta. Rendi merasa bersyukur atas doa restu mamanya, ia bisa memiliki keluarga, ia dipertemukan dengan istri yang shalihah, dan dikaruniai seorang putri cantik, Laela. Rendi berharap bisa menjadi ayah yang baik bagi Laela, seperti mamanya yang selalu mendukungnya.
Dan memberi doanya.

Kini usia Laela sudah empat belas tahun. Dia sekolah di SMP Negeri. Waktu begitu cepat… Rendi hanya menatap ke dua orang yang di cintainya, istri dan putrinya, yang tertidur di kamarnya, dari pintu kamar Rendi terus memandangi mereka… Rendi hanya menahan nafas dalam-dalam… “Maaf kan saya,” dalam hatinya, sambil berlalu menuju ke ruang tengah.

Rendi duduk di sofa, pikirannya dipenuhi kenangan bersama keluarga kecilnya. Dia merasa bersyukur atas kebahagiaan yang telah diberikan kepada dirinya. Tapi, di tengah kebahagiaan itu, ada rasa penyesalan yang tidak bisa diungkapkan.

Rendi mengambil foto keluarga yang ada di atas meja, dan memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mengingat saat-saat indah bersama Muna dan Laela, dan merasa bahwa dia tidak bisa memberikan yang terbaik untuk mereka.

Kehidupan yang banyak berubah, kesulitan yang mendera, membuat Diri Rendi kini kurang empati dari mama dan ayah tirinya. Kebaikan yang Rendi anggap itu tulus, ternyata hanya kepalsuan belaka. Mama selalu di doktrin untuk menjauh dari Rendi. Tanpa sebab, tanpa salah. Rendi hanya bisa parah dengan kenyataan pahit yang ia terima. Dari keluarga mereka…

Rendi menghela napas, mencoba melepaskan beban pikirannya. Dia tahu bahwa dia tidak bisa mengubah masa lalu, tapi dia bisa berusaha menjadi yang terbaik untuk Muna dan Laela, keluarganya yang sebenarnya. Biarlah mereka semua menjauh dari kehidupan Rendi istri dan anaknya.

“Tok! Tok!tok!.. Suara ketukan pintu terdengar Rendi buru-buru melangkah kedepan, pintu terbuka. “Oh silahkan masuk pak,” ucap Rendi seraya tersenyum ramah.

“Ini mas Rendi yang tukang pijat itu, ya?” Tanya seorang tamu wanita. “Iya bu, betul, ada yang bisa saya bantu…?” tanya Rendi kembali.

“Oh iya, suami saya mau pijat, bisa nggak datang kerumah?” tanyanya lagi. “Iya bu, bisa, kapan bu, sekarang?”

“Iya sekarang, jawabnya.

Lalu tidak begitu lama si ibu permisi pulang.

Rendi segera menutup pintu setelah wanita itu permisi pulang. “Alhamdulilah..” ucap Rendi dalam hati. Kemudian Rendi segera mengemasi alat-alat pijatnya. Ia masukan ke dalam tas kecilnya. Sudah lengkap semua, Rendi membangunkan istrinya.

“Muna, bangun.. sebentar,” ucap Rendi. Istri Rendi terbangun, “iya mas, ada apa?” “Tadi ada tamu mau pijat, aku mau berangkat ke rumahnya, ya? Jangan lupa pintu di kunci, ya? Aku pulang larut malam,” ujar Rendi menjelaskan.

Lalu pergi keluar, di ikuti istrinya yang masih terlihat mengantuk, untuk mengunci pintu rumah. Rendi melangkah mengambil sepeda motor tua warna merah corak putih tahun 1992, dan siap berangkat.

“Jangan lupa makan, ya?” kata Muna, suaranya masih serak karena baru bangun tidur. “Iya, sayang, aku akan makan di jalan,” jawab Rendi, sambil memasang helm.

Rendi melaju pelan, meninggalkan rumahnya. Dia menuju ke alamat yang diberikan oleh wanita tadi, berharap bisa mendapatkan rezeki yang halal untuk keluarganya.

Melintasi jalan raya, Rendi terus melajukan motornya ke arah selatan jalan. Malam yang dingin, Rendi menembus jalan di gang yang sempit, setelah memasuki pedesaan. Setelah sampai di rumah tersebut, Rendi berhenti di depan gerbang dan mematikan mesin motornya.

Dia melihat ke sekeliling, memastikan bahwa dia sudah berada di alamat yang benar. Kemudian, dia mengambil tas kecilnya dan melangkah menuju ke pintu rumah. Rendi mengetuk pintu, dan tidak lama kemudian, pintu dibuka oleh wanita yang tadi memesan pijat.

“Oh, mas Rendi, silahkan masuk,” kata wanita itu, sambil tersenyum. Rendi membalas senyumnya dan masuk ke dalam rumah.

“Suami saya sudah menunggu di kamar, silahkan mas Rendi,” kata wanita itu, sambil menunjuk ke arah kamar. Rendi mengangguk dan melangkah menuju ke kamar, siap untuk melakukan pijat.

Satu jam setengah berlalu. Rendi sudah selesai memijat pak Angga, pegawai kecamatan. Dia membersihkan minyak pijat dari tangannya dan mengambil uang yang diberikan oleh pak Angga.

“Terima kasih, mas Rendi. Pijatnya sangat enak,” kata pak Angga, sambil tersenyum. “Sama-sama, pak. Semoga lelah bapak hilang,” jawab Rendi, sambil membungkuk sedikit.

Rendi kemudian pamit kepada pak Angga dan istrinya, lalu keluar dari rumah. Dia merasa lega karena sudah selesai bekerja dan bisa pulang ke rumah menemui Muna dan Laela.

Rendi memasang helmnya dan melajukan motornya kembali ke rumah, menikmati udara malam yang sejuk. Dia berharap bisa tidur nyenyak setelah seharian bekerja keras.

“Alhamdulillah, hari ini sudah empat orang sudah aku pijat,” ucapnya sambil melajukan motor tuanya, melewati jalan yang gelap dan sunyi. Rendi merasa puas dengan hasil kerja hari ini, dan dia sudah bisa membayangkan senyum Muna dan Laela ketika dia pulang dengan membawa uang.

Dia terus melajukan motornya, melewati sawah dan kebun yang gelap, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang lembut. Rendi merasa damai, karena dia tahu bahwa dia sedang melakukan pekerjaan yang halal dan bisa memberikan yang terbaik untuk keluarganya.

“Semoga besok bisa lebih banyak lagi,” ucap Rendi dalam hati, sambil tersenyum. Dia sudah siap untuk menghadapi hari esok, dan melakukan yang terbaik untuk Muna dan Laela.

Setelah sampai di rumah, Muna istrinya bangun setelah mendengar suara kenalpot motor tua suaminya. Dia segera bangun dari tempat tidurnya dan melangkah ke arah pintu, membuka pintu rumah.

“Mas, sudah pulang?” kata Muna, sambil tersenyum. Rendi membalas senyumnya dan memeluk Muna.

“Sudah, sayang. Alhamdulillah hari ini lancar,” jawab Rendi, sambil memasukkan motornya ke dalam rumah. Muna membantu Rendi meletakkan tas kecilnya dan mengambil helmnya.

“Kamu capek, mas? Mau makan dulu?” tanya Muna, sambil mengusap wajah Rendi. Rendi mengangguk, “Iya, aku lapar.”

Muna tersenyum dan segera menyiapkan makanan untuk Rendi, sementara Rendi membersihkan diri di kamar mandi.

Usai makan malam, Rendi duduk sebentar di temani sang istri. Jam menunjukan pukul 22,30 malam. Rendi menatap wajah Muna istrinya, “Ada apa, kamu sepertinya gelisah, kamu marah?” Rendi terus bertanya kepada istrinya.

“Tidak mas, aku tidak marah, aku hanya merasa kecewa dengan sikap para tetangga kita, kurang baik terhadap keluarga kita, setelah kita menempati rumah baru ini,” tutur istrinya, dengan perasaan yang gundah.

Rendi mendengarkan dengan sabar, “Apa yang terjadi, ma? Cerita sama aku,” katanya, sambil memegang tangan Muna. Muna mengambil napas dalam-dalam, “Mereka tidak menyambut kita dengan baik, mas. Mereka tidak pernah mengunjungi kita, bahkan tidak pernah menyapa. Aku merasa kita tidak diterima di sini.”

Rendi mengangguk, “Aku paham, ma. Aku juga merasa hal yang sama. Tapi kita tidak perlu memikirkannya, kita harus fokus pada keluarga kita sendiri. Kita harus kuat, ma.” Ucap Rendi memberi pengertian kepada istrinya.

Apa yang di rasakan istrinya Rendi juga merasakan hal yang sama.

Teman teman yang dulu sangat dekat, kini menjauh, saudara juga membenci, bahkan mamanya Rendi sendiri ikut membenci.

Rendi memahami , ada segelintir orang yang tidak suka atas dirinya dan istri.
Setelah menempati di lingkungan yang baru dan rumah yang dua tahun di tempati..

Apa yang di rasakan istrinya Rendi juga merasakan hal yang sama. Teman-teman yang dulu sangat dekat, kini menjauh, saudara juga membenci, bahkan mamanya Rendi sendiri ikut membenci. Rendi memahami, ada segelintir orang yang tidak suka atas dirinya dan istri.

Setelah menempati di lingkungan yang baru dan rumah yang dua tahun di tempati, Rendi merasa bahwa dia dan istrinya seperti berada di pulau yang terisolasi. Tidak ada yang menyambut, tidak ada yang peduli. Rendi mencoba untuk tidak memikirkannya, tapi rasanya sangat berat.

“Ma, aku tahu ini tidak mudah, tapi kita harus kuat. Kita harus fokus pada keluarga kita sendiri, dan tidak perlu memikirkan apa yang orang lain katakan,” kata Rendi, sambil memeluk istrinya.

Muna mengangguk, “Iya, mas. Aku tahu. Aku hanya merasa sangat kecewa saja.” Rendi membelai rambut Muna, “Aku ada di sini, ma. Aku akan selalu menjagamu .

Saat ini kita di hadapkan dengan orang orang yang toxic,orang yang hanya mementingkan diri sendiri tidak peduli dengan hati orang lain.

Rendi membelai rambut Muna, “Aku ada di sini, ma. Aku akan selalu menjagamu. Saat ini kita di hadapkan dengan orang-orang yang toxic, tapi kita tidak bisa membiarkan mereka mengontrol hidup kita. Kita harus kuat, ma, dan fokus pada apa yang membuat kita bahagia, yaitu keluarga kita.”

Muna mengangguk, “Iya, mas. Aku tahu. Aku hanya perlu sedikit waktu untuk menerima semua ini.” Rendi tersenyum, “Kita akan melalui ini bersama, ma. Aku dan kamu, kita akan menjadi tim yang kuat.”

Rendi memeluk Muna lebih erat, “Kita tidak sendirian, ma. Kita memiliki Laela, dan kita memiliki satu sama lain. Itu sudah cukup.” Kata Rendi dengan suara parau menahan perasaannya.

Sebaiknya kita tidur
Kita istirahat
Banyak sekali yang harus kita fikirkan dan kerjakan besok.
Istri Rendi hanya mengangguk terlihat mata yang berkaca kaca.

Mereka akhirnya tertidur
Dengan segenap perasaan yang ada.

Dia, seorang laki-laki dengan kekurangan fisik, telah lama menanggung beban hidup. Keluarganya yang tak mendukung, ejekan saudara, dan cacian orang-orang membuatnya memilih diam dan mengalah. Tapi, ada dua cahaya dalam hidupnya: istri dan anak perempuannya.

Bertahun-tahun berlalu, tekanan mental tak kunjung reda. Usia 50 tahun, tapi keadaan tak berubah. Orang-orang masih menilai dari penampilannya, keluarganya masih menjauh. Tapi, dia bertahan. Bersabar. Walau terkadang, putus asa menghantam.

Dia hanya ingin satu hal: cinta dan kasih sayang yang tulus. Dari orang terdekat, teman, saudara, bahkan orang tua. Dia tahu, dengan cinta, dia bisa terbang di atas awan, meninggalkan semua kesedihan.

Sebagai insan manusia, dia hanya bisa bersandar pada Allah SWT. Berharap banyak pada kehidupan yang damai, ketenangan di hati.

Suatu hari, anak perempuannya memeluknya erat. “Ayah, aku cinta Ayah,” katanya. Hatinyapun meleleh. Dia tahu, dia bukan sendirian. Dengan cinta itu, dia terbang di atas awan, meninggalkan semua beban.

Di atas awan, dia melihat keindahan yang tak pernah dilihat sebelumnya. Dia merasa damai, merasa dicintai. Dan dia tahu, itu sqemua karena cinta.
Mimpi panjang yang menemani tidur Rendi, membuat air mata Rendi menetes di antara lelapnya tidur.

Pagi yang dingin setelah guyuran hujan semalam. Membuat tubuh Rendi menggigil. “Bangun ayah,” kata Laela, “sudah pagi. Hari ini kata mama kita akan ke makam. Untuk nyekar.” “Iya,” jawab Rendi seraya bangun dan keluar dari kamarnya.

Rendi menuju ke kamar mandi, membasuh wajahnya yang masih lelah. Dia melihat ke cermin, dan melihat bayangan dirinya yang sudah tua. Tapi, dia tidak merasa tua. Dia merasa masih kuat, masih bisa berjuang untuk keluarganya.

Setelah selesai mandi, Rendi menuju ke dapur, di mana Muna dan Laela sudah menunggu. “Ayah, kita sarapan dulu ya,” kata Muna, sambil menyajikan makanan. Rendi tersenyum, “Iya, sayang. Terima kasih.”

Mereka sarapan bersama, sambil membahas rencana hari ini. Setelah sarapan, mereka berangkat ke makam, untuk nyekar dan berdoa untuk orang-orang yang telah tiada.

Setelah selesai berdoa dan nyekar, Rendi, Muna, dan Laela duduk sejenak di dekat makam, menikmati keheningan dan kedamaian. Merekaberbicara tentang kenangan indah bersama orang-orang yang telah tiada, dan bagaimana mereka telah meninggalkan kesan yang mendalam dalam hidup mereka.

Laela memeluk Rendi, “Ayah, aku cinta ayah.” Rendi tersenyum, “Aku juga cinta kamu, sayang. Aku akan selalu ada untuk kamu, tidak peduli apa yang terjadi.” Muna memeluk mereka berdua, “Kita adalah keluarga yang kuat, kita akan selalu bersama, tidak peduli apa yang terjadi.”

Mereka duduk sejenak, menikmati keheningan dan kedamaian. Rendi memandang ke arah makam, “Aku tahu, kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Tapi, kita bisa memilih bagaimana kita akan menjalani hidup kita. Kita bisa memilih untuk bahagia, untuk mencintai, dan untuk hidup dengan penuh makna.”

Muna mengangguk, “Iya, mas. Kita akan selalu mengingat mereka, tapi kita tidak akan membiarkan kesedihan mengalahkan kita.” Laela memeluk Rendi lebih erat, “Aku tidak ingin ayah dan mama pergi.”

Rendi tersenyum, “Ayah dan mama akan selalu ada untuk kamu, sayang. Kita akan selalu bersama, tidak peduli apa yang terjadi.” Mereka duduk sejenak, menikmati keheningan dan kedamaian, sebelum akhirnya mereka berdiri dan berjalan keluar dari makam, meninggalkan kesedihan di belakang.

Di perjalanan pulang, Laela bertanya, “Ayah, apa kita akan selalu bahagia?” Rendi tersenyum, “Kita akan selalu berusaha untuk bahagia, sayang. Dan kita akan selalu memiliki satu sama lain, tidak peduli apa yang terjadi.”

Muna memeluk Rendi, “Kita akan selalu bersama, mas.” Rendi membalas pelukan Muna, “Aku akan selalu ada untuk kamu, ma. Untuk kamu berdua. Aku akan selalu menjaga kamu, dan membuat kamu bahagia.”

Mereka pulang ke rumah, dengan hati yang lebih ringan, dan semangat yang lebih kuat. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka akan selalu memiliki arti kebahagiaan itu sendiri.

Di atas awan masih terpancar sinar kehidupan, selama sang mentari masih menyinari.

SELESAI









error:
Verified by MonsterInsights