Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Cerpen

CINTA DAN KEHIDUPAN

×

CINTA DAN KEHIDUPAN

Sebarkan artikel ini
CINTA DAN KEHIDUPAN
foto: Ilustrasi

Di bawah sinar mentari yang terik, Evina, Rani, dan Unul berjalan di perbukitan kecil. Mereka menuruni lereng hingga sampai di sebuah jembatan kecil yang terbuat dari batang bambu. Ketiga gadis itu terus berjalan sambil sesekali mengamati keadaan di sekitar.

Dari balik pepohonan, ketiganya melihat sebuah perkampungan. “Mungkin itu yang namanya Dusun Gedangan?” ujar Evina sambil menunjuk dari atas bukit, setelah melewati jembatan bambu tersebut.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Iya, semoga saja benar,” tambah Unul sembari menghentikan langkahnya. “Ada apa?” tanya Rani kepada Unul.

“Lihat itu!” ujarnya lagi. Ketiga gadis itu lalu menatap ke arah pohon yang sangat besar. Di bawah pohon tersebut, tampak banyak orang berkerumun. “Kita ke sana,” ujar Evina. “Ayo!” ujar Rani lalu mengikuti. Dengan langkah cepat, ketiganya berjalan ke arah kerumunan tersebut.

“Maaf Bu, itu ada apa ya?” tanya Evina kepada salah seorang warga. “Kami sedang mencari orang yang hilang sejak semalam, Neng,” jawab ibu itu sambil mengawasi ketiga gadis tersebut.

“Orang hilang?!” Mereka menjawab serempak.

“Iya, di desa kami sedang terjadi keanehan.” “Keanehan bagaimana?” tanya Unul yang mulai terlihat panik. “Setiap malam kami harus menjaga anak-anak kami, khususnya perempuan, Neng.” “Diculik maksud Ibu?!” tanya Rani dengan rasa terkejut. “Neng sendiri mau ke mana?” si ibu balik bertanya. “Kami mau ke rumah Bi Sari, Bu.” “Oh, Bi Sari keponakannya Baharudin, kepala kampung?” “Iya Bu, tapi kami tidak tahu kalau Bi Sari itu keponakannya kepala kampung di sini.” “Oh iya, Ibu paham. Nanti Neng lurus saja sampai ada gardu pos. Di samping pos itu rumahnya.” “Iya Bu, terima kasih banyak,” ucap Rani lembut. Si ibu segera pergi meninggalkan ketiga gadis itu.

Ketiga gadis itu masih berdiri di tempat, mencoba memproses informasi yang baru saja mereka dapatkan. “Orang hilang? Diculik? Ini rasanya semakin tidak enak,” kata Evina dengan suara bergetar.

Unul menggenggam tangan Rani. “Aku tidak suka ini, Ran. Aku punya perasaan buruk.”

Rani mencoba menenangkan mereka. “Jangan panik dulu, kita harus mencari tahu lebih banyak informasi. Ayo, kita ke rumah Bi Sari dulu.”

Ketiga gadis itu melanjutkan perjalanan menuju rumah Bi Sari. Mereka berjalan dengan hati-hati, memperhatikan setiap pergerakan di sekitar mereka. Ketika tiba di rumah Bi Sari, mereka melihat seorang wanita tua sedang duduk di depan rumah sambil menggali-gali tanah.

“Bi Sari?” panggil Evina.

Wanita tua itu menoleh. “Oh, anak-anak ini? Apa yang bisa Bibi bantu?”

Ketiga gadis itu menjelaskan situasi mereka, dan Bi Sari mendengarkan dengan serius. “Aku tahu apa yang terjadi di sini,” kata Bi Sari dengan suara rendah. “Aku akan ceritakan semuanya, tapi kalian harus berjanji untuk tidak memberitahu siapa pun.”

Ketiga gadis itu mengangguk, dan Bi Sari mulai menceritakan kisah yang membuat mereka terkejut. Bi Sari mengambil napas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya. “Dusun Gedangan ini sebenarnya memiliki sejarah yang gelap. Puluhan tahun yang lalu, ada seorang dukun yang tinggal di sini. Konon, ia memiliki kekuatan besar yang bisa mengendalikan alam dan manusia.”

Rani, Evina, dan Unul mendengarkan dengan mata melebar, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.

“Apa yang terjadi dengan dukun itu?” tanya Evina dengan suara yang hampir berbisik.

“Dia meninggal. Namun sebelum wafat, dia meninggalkan warisan yang sangat berbahaya; sebuah ritual yang bisa membangkitkan kekuatan jahat. Dan sekarang, ada seseorang yang mencoba melakukan ritual itu lagi.”

Unul menggenggam tangan Rani. “Apa yang ingin mereka lakukan dengan ritual itu?”

Bi Sari menatap mereka dengan serius. “Mereka ingin mengambil alih dusun ini dan menggunakan kekuatan jahat tersebut untuk mengendalikan semua orang di sini.”

Rani, Evina, dan Unul terkejut. Mereka tahu bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk menghentikan rencana jahat itu.

“Aku tahu siapa yang melakukan ini,” kata Bi Sari dengan suara rendah. “Aden, orang yang baru datang ke dusun ini. Dialah yang melakukan ritual itu, dan dia juga yang menculik orang-orang di sini.”

Ketiga gadis itu tahu bahwa mereka harus bertindak cepat. Mereka harus menghentikan Aden dan menyelamatkan Dusun Gedangan. Ketiganya saling menatap, menentukan langkah selanjutnya. “Kita harus memberitahu kepala dusun tentang ini,” kata Rani tegas.

Evina mengangguk. “Iya, kita harus memberitahunya. Tapi bagaimana dengan Aden? Apa yang akan dia lakukan jika tahu kita sudah mengetahuinya?”

Unul menggenggam tangan Rani. “Kita harus berhati-hati, Ran. Kita tidak tahu apa yang mampu dia lakukan.”

Bi Sari menatap mereka dengan serius. “Kalian harus berhati-hati, Anak-anak. Aden tidak akan ragu melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.”

Ketiga gadis itu mengangguk mantap. Mereka memutuskan untuk pergi ke rumah kepala dusun. Ketika tiba di sana, mereka justru melihat Aden sedang berbicara dengan kepala dusun. Ketiga gadis itu saling menatap, menyadari bahwa mereka harus sangat waspada.

“Aden, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Rani, mencoba tetap tenang.

Aden tersenyum. “Aku hanya sedang berbicara dengan kepala dusun tentang keamanan tempat ini.”

Kepala dusun menatap mereka. “Aku sudah tahu tentang Aden, Anak-anak. Aku sudah tahu apa yang dia lakukan.”

Ketiga gadis itu terkejut, tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya. Kepala dusun menatap Aden dengan tajam. “Aden, kamu tidak bisa menipuku lagi. Aku tahu apa yang kamu lakukan di sini.”

Aden tersenyum sinis. “Apa yang kamu bicarakan, Kepala Dusun? Aku tidak tahu apa-apa.”

Rani, Evina, dan Unul saling menatap. Mereka tahu harus bertindak cepat. “Kepala Dusun, kami tahu apa yang Aden lakukan!” kata Rani dengan suara tegas.

Aden menatap mereka dengan marah. “Kamu tidak tahu apa-apa!”

Kepala dusun mengangkat tangan. “Cukup, Aden! Aku sudah tahu perbuatanmu. Kamu harus meninggalkan dusun ini sekarang juga!”

Aden tersenyum licik. “Aku tidak akan pergi. Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan!”

Tiba-tiba, Aden mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya dan melemparkannya ke tanah. Benda itu meledak, dan asap tebal memenuhi ruangan. Ketika asap mulai menghilang, Aden sudah tidak ada lagi. Kepala dusun menatap mereka. “Aku minta maaf, Anak-anak. Aku tidak bisa melindungi kalian.”

Rani, Evina, dan Unul saling menatap. Mereka menyadari harus segera bertindak untuk menyelamatkan diri. Ketiga gadis itu berlari keluar dari rumah kepala dusun untuk mencari Aden. Mereka yakin dia tidak akan pergi jauh. “Kita harus menemukan Aden!” teriak Rani.

Evina menatap sekitar. “Aku melihat dia menuju ke arah hutan!”

Unul berlari mengikuti Evina. “Aku akan mengejarnya!”

Rani berlari di belakang mereka. “Tunggu! Kita harus berhati-hati!”

Tiba-tiba, mereka mendengar suara jeritan dari dalam hutan. “Itu suara Kinara!” teriak Evina. Ketiga gadis itu berlari menuju arah suara dengan hati yang berdetak kencang. Saat tiba di lokasi, mereka melihat Aden sedang mencoba menculik Kinara.

“Aden, berhenti!” teriak Rani.

Aden menatap mereka dengan marah. “Kalian tidak bisa menghentikan aku!”

Kinara berjuang melepaskan diri. “Tolong! Bantu aku!”

Ketiga gadis itu menerjang Aden. Rani mencoba melepaskan Kinara dari cengkeraman Aden. “Aden, lepaskan dia!”

Evina dan Unul mencoba menahan Aden, tetapi dia terlalu kuat. Tiba-tiba, Kinara berhasil melepaskan diri dan berlari menuju Rani. Aden menatap mereka dengan penuh amarah. “Kalian tidak bisa menghentikan aku! Aku akan kembali!”

Aden kemudian menghilang ke dalam hutan. Kinara menangis tersedu. “Terima kasih, kalian sudah menyelamatkanku!”

Rani memeluk Kinara. “Tidak apa-apa, kita aman sekarang.”

Evina menatap sekitar dengan waspada. “Kita harus pergi dari sini. Aden mungkin akan kembali bersama teman-temannya.”

Unul mengangguk. “Iya, kita harus pergi sekarang juga.”

Ketiga gadis itu membawa Kinara ke rumah Bi Sari, tempat yang mereka anggap aman. Bi Sari menyambut mereka dengan hangat. “Apa yang terjadi? Kenapa kalian semua terlihat begitu terguncang?”

Rani menjelaskan kejadian tadi. “Aden mencoba menculik Kinara. Kami berhasil menyelamatkannya, tapi Aden masih bebas.”

Bi Sari menatap mereka dengan serius. “Aku tahu Aden tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan keinginannya. Kita harus melakukan sesuatu untuk menghentikannya.”

Evina menatap Bi Sari. “Apa yang bisa kita lakukan? Dia terlalu kuat.”

Bi Sari mengambil napas dalam. “Aku tahu seseorang yang bisa membantu kita. Tapi kita harus berhati-hati, karena orang itu terkadang sulit dipercaya.”

Unul bertanya, “Siapa orang itu?”

Bi Sari menatap mereka dengan serius. “Aku akan membawa kalian ke sana. Tapi kalian harus berjanji untuk tidak memberitahu siapa pun.”

Ketiga gadis itu mengangguk, dan Bi Sari membawa mereka ke sebuah gubuk kecil yang tua dan tidak terawat di pinggir desa. Bi Sari membuka pintu dengan hati-hati dan memanggil seseorang di dalam.

“Arman, aku membawa tamu,” kata Bi Sari.

Sebuah suara terdengar dari dalam. “Persilakan mereka masuk.”

Bi Sari membuka pintu lebih lebar. Mereka melihat seorang pria muda dengan rambut panjang dan mata tajam. Ia duduk di atas sebuah tikar, dikelilingi oleh berbagai benda aneh.

“Ini Arman, seorang ahli sihir,” kata Bi Sari.

Arman menatap mereka dengan tajam. “Apa yang kalian inginkan?”

Rani menjelaskan situasi mereka. Arman mendengarkan dengan serius. “Aden memang berbahaya,” katanya. “Tapi aku bisa membantu kalian menghentikannya.”

Evina bertanya, “Bagaimana caranya?”

Arman tersenyum. “Aku punya rencana. Tapi kalian harus siap menghadapi sesuatu yang tidak terduga.”

Ketiga gadis itu saling menatap, lalu mengangguk. “Kami siap,” kata Rani.

Arman mulai menjelaskan rencananya. “Aden menggunakan sihir hitam. Untuk menghentikannya, kita harus menggunakan sihir putih.”

Unul bertanya, “Sihir putih? Apa itu?”

Arman menjelaskan bahwa sihir putih digunakan untuk kebaikan dan perlindungan. Ia mulai mengajarkan mereka dasar-dasar sihir putih. Mereka belajar dengan cepat. Setelah beberapa jam, mereka siap menghadapi Aden.

“Kita harus pergi sekarang,” kata Arman. “Aden tidak akan menunggu lama.”

Mereka pergi ke tempat persembunyian Aden. Saat tiba, Aden ternyata sudah menunggu. “Aku tahu kalian akan datang,” katanya sambil tersenyum sinis. “Tapi kalian tidak bisa menghentikanku.”

Arman maju. “Kita lihat saja nanti.”

Aden mulai menggunakan sihir hitamnya, menciptakan badai kuat di sekitar mereka. Arman dan ketiga gadis itu bertahan. “Gunakan sihir putih untuk melawan!” teriak Arman.

Mereka mulai mengucapkan mantra, dan cahaya putih mulai mengelilingi mereka. Badai itu melemah. Aden terlihat terkejut. “Kalian… kalian bisa menggunakan sihir putih?!”

Aden menyerang lagi, tetapi mereka sudah siap. Mereka membalas serangannya hingga Aden mulai melemah. “Kalian tidak bisa mengalahkanku!” teriak Aden, meski suaranya mulai memudar.

Arman dan ketiga gadis itu terus memusatkan energi mereka sampai Aden akhirnya jatuh ke tanah. Sihir hitamnya hilang, dan orang-orang yang diculik mulai terbebas. Rani, Evina, dan Unul berlari mendekat untuk memastikan Aden tidak lagi berbahaya.

Aden berbaring tak berdaya. “Kalian… kalian menang,” bisiknya dengan nada kekalahan.

Arman mendekati Aden. “Kamu harus bertanggung jawab, Aden.”

Aden menatap Arman dengan pandangan yang mulai kabur. “Aku… aku hanya ingin memiliki kekuatan…”

“Kekuatan sejati tidak datang dari sihir hitam, Aden. Ia datang dari hati dan jiwa,” kata Arman serius. Tak lama kemudian, Aden menghembuskan napas terakhirnya.

Rani, Evina, dan Unul merasa lega karena telah menyelamatkan desa. “Kita berhasil,” kata Rani tersenyum. Arman menatap mereka dengan bangga. “Kalian telah membuktikan bahwa sihir putih lebih kuat.”

Desa kembali damai. Orang-orang yang hilang kembali ke rumah masing-masing. Rani, Evina, dan Unul pun dianggap sebagai pahlawan.

Arman mendekati mereka. “Kalian luar biasa. Kalian tidak perlu bantuan siapa pun lagi.”

Evina bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Arman?”

Arman menatap ke kejauhan. “Aku akan membantu desa lain yang terkena pengaruh sihir hitam. Aku harus memastikan tidak ada lagi orang seperti Aden.”

Unul berkata dengan mata berkilau, “Kami ingin membantumu, Arman.”

Arman tersenyum. “Aku senang mendengarnya.”

Tiba-tiba, seorang anak muda berlari ke arah mereka dengan wajah panik. “Ada sesuatu yang aneh di hutan!” katanya terengah-engah.

Mereka pun segera menuju hutan. Tiba-tiba tanah bergetar dan seekor Naga Bumi muncul. Makhluk purba itu bangkit karena marah melihat kerusakan yang dilakukan manusia. Arman mencoba bernegosiasi.

Naga Bumi itu memberi mereka tugas untuk membuktikan niat baik manusia: membawa sebuah kristal ke Gunung Api sebagai sumber kekuatan untuk memulihkan bumi.

Perjalanan ke Gunung Api tidaklah mudah. Di puncaknya, mereka bertemu Naga Api yang menjaga kawah lava. Naga Api itu memberikan satu pertanyaan: “Apa yang paling berharga di dunia ini?”

Rani menjawab, “Kehidupan.” Evina mengangguk. “Ya, kehidupan harus dijaga.” Unul menambahkan, “Dan juga cinta.”

Naga Api merasa puas dengan jawaban itu dan memberikan bola energi murni kepada mereka. Dengan kekuatan tersebut, mereka kembali ke desa. Arman mengangkat kristal tersebut, dan energi luar biasa mengalir ke tanah. Tanah yang kering menjadi hijau kembali, bunga-bunga mekar, dan keseimbangan alam pun pulih.

Naga Bumi muncul kembali dan menunduk hormat kepada mereka. Dunia menjadi lebih indah, dan mereka semua hidup bahagia dengan menghargai kehidupan dan cinta di atas segalanya.









error:
Verified by MonsterInsights