Ia menambahkan bahwa seharusnya sampah-sampah tersebut dibuang di tempat pembuangan sampah resmi, bukan di area yang dekat dengan pemukiman warga.
“Pembuangan sampah itu berada di sebelah selatan jalan tol, di area Dusun Kranggan,” jelas Surip, 74 tahun, yang berprofesi sebagai tukang tambal ban.
“Padahal di sebelah utara tol itu ada SD 1, jadi saya khawatir bau busuk ini akan berdampak pada siswa-siswa di sana dan bisa menimbulkan berbagai penyakit.”
Surip juga menyoroti bahwa lokasi pembuangan sampah tersebut dulunya adalah sawah yang kini telah dibangun tanggul-tanggul untuk dijadikan tempat pembuangan sampah.
Ia terkejut melihat truk-truk sampah melewati desanya selama dua hari terakhir, terutama karena mereka beroperasi dari pukul 09.00 pagi hingga 04.00 sore.
“Selain bau menyengat, air yang tumpah dari bak truk juga sangat mengganggu. Saya juga keberatan jika sampah di pembuangan sementara ini menumpuk seperti gunung,” tambahnya.
Kekhawatiran Surip dan warga lainnya bukan hanya soal bau, tetapi juga potensi kecelakaan karena jalan sempit yang sering dilalui anak-anak.
Bersama warga lainnya, Surip telah berdiskusi mengenai keberatan mereka dan merencanakan untuk melaporkan situasi ini kepada kepala desa sesegera mungkin.
“Saya hanya ingin tahu tujuan pemerintah menampung sampah di tempat tersebut, apakah akan diolah atau hanya dibiarkan begitu saja,” pungkasnya.
“Kami mohon kepada pihak terkait untuk segera menyelesaikan masalah ini. Kami ingin hidup dengan nyaman dan sehat,” ujar warga lainnya. (Tim)
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















