
PEMALANG – Serikat Pelaut Laskar Patih Sampun Pemalang mendesak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Pemalang untuk segera bertindak nyata menyusul tragedi maut yang menimpa tiga Anak Buah Kapal (ABK) di atas kapal MV Ina Diamond. Pihak serikat meminta pemerintah daerah tidak pasif dalam mengawal pemenuhan hak-hak ahli waris korban.
Peristiwa nahas tersebut terjadi di perairan Pelabuhan Tanjung Emas saat para ABK tengah menjalankan tugas membersihkan tangki emergency fire di dalam kapal. Ketiga korban diduga menghirup gas beracun yang terjebak di dalam tangki, menyebabkan sesak napas akut hingga hilang kesadaran. Meski rekan korban sempat melakukan upaya evakuasi, nyawa ketiga pelaut tersebut tidak tertolong.
Erlangga Girindra Buana, S.H., dari Divisi Advokasi Serikat Pelaut Laskar Patih Sampun, menegaskan bahwa Disnaker memiliki kewajiban moral dan konstitusional untuk mendampingi keluarga korban asal Pemalang tersebut.
”Kami mendesak Disnaker Pemalang untuk segera turun tangan. Keluarga yang ditinggalkan harus mendapatkan kepastian terkait kompensasi, santunan kematian, serta klaim asuransi. Negara harus hadir,” tegas Erlangga.
Ia menambahkan bahwa perlindungan bagi pekerja maritim harus menjadi perhatian serius, mengingat banyaknya warga Pemalang yang menggantungkan hidup sebagai pelaut dengan risiko kerja yang tinggi.

Serikat Laskar Patih Sampun menyatakan akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas secara transparan dan akuntabel. Selain menuntut tanggung jawab penuh dari perusahaan pelayaran, mereka berharap tragedi ini menjadi momentum evaluasi total terhadap penerapan standar keselamatan kerja (K3) di atas kapal agar kejadian serupa tidak terulang kembali.







