PERTEMUAN TAK TERDUGA
Gedung sekolah yang terlihat basah oleh air hujan semakin menambah rasa dingin di setiap sudut ruangan kelas. Bel sekolah mulai berbunyi, menandakan waktu istirahat telah tiba. Para murid berhamburan keluar dari ruang kelas.
Klara berjalan menyusuri halaman sekolah yang panjang menuju tempat teman-temannya membeli jajanan di samping pintu depan sekolah. Beberapa murid tampak berkerumun, asyik berinteraksi dengan para pedagang. Setelah membeli makanan kecil, Klara duduk di sudut gedung sekolah sambil memperhatikan teman-temannya bermain.
Tiba-tiba, Sarah mendekati Klara. “Hai, Klara. Aku mau ngomong sama kamu,” tegur Sarah.
“Mau ngomong apa?” balas Klara.
“Apa betul sepeda kamu itu bisa terbang, Klara?” tanya Sarah memastikan.
“Kata siapa?!” ucap Klara kembali sambil mengernyitkan dahinya.
“Kata Sinta tadi pagi. Dia banyak cerita sama aku, lho…”
“Ah!” tepis Klara sambil mengubah posisi duduknya. “Enggak, Sarah. Mungkin Sinta bercanda kali,” jawab Klara lagi.
Setelah Sarah terus mendesak, akhirnya Klara mengajak Sarah ke tempat sepeda Phoenix itu disandarkan, yaitu di samping gedung perpustakaan sekolah.
“Ayo Sarah, lihat itu,” ucap Klara, berharap Sarah tidak lagi ingin tahu lebih jauh tentang sepeda tersebut.
Setelah melihat sendiri bahwa sepeda itu adalah sepeda biasa seperti yang lainnya, Sarah terlihat heran. Klara kembali memastikan, “Mungkin Sinta bermimpi, Rah.”
“Ya sudah, kalau begitu. Saya juga tidak percaya, kok. Huh! Mana mungkin sepeda jelek begitu bisa terbang,” ujar Sarah sambil pergi meninggalkan Klara yang berdiri memegangi sepedanya. Klara pun merasa lega setelah Sarah pergi.
Beberapa saat kemudian, bel sekolah kembali berbunyi. Teng! Teng! Teng!
Murid-murid mulai pulang sambil bercanda di sepanjang jalan. Klara bergegas menuju tempat ia menyimpan sepeda Phoenix-nya. Namun, ia sungguh terkejut saat sampai di sana.
“Hah! Di mana sepedaku?” ucap Klara panik. Ia terus mencari di setiap sudut bangunan sekolah, tapi sepeda itu tidak ditemukan. “Di mana sepedaku! Oh, tidak!”
Karena tetap tidak menemukannya, akhirnya Klara pulang dengan berjalan kaki sendirian, berharap ia bisa melihat sepedanya di jalan. Ia melewati pematang sawah agar lebih cepat sampai ke rumah. Dengan wajah pucat pasi, ia berhenti sejenak di bawah pohon sirsak yang lebat. Klara terduduk lesu.
“Di mana sepedaku? Siapa yang mengambilnya?” tanya Klara pada diri sendiri. Matanya menatap gelisah, hatinya merasa resah. Dengan perasaan sedih, Klara menangis sambil melanjutkan perjalanan melalui pematang sawah.
Hujan kembali mengguyur. Di senja itu, Klara masih terduduk di teras rumahnya. Ia terus teringat akan sepedanya; satu-satunya pemberian ayahnya sebelum beliau meninggal dunia. “Ayah…” hanya kata itu yang terucap lirih dari bibirnya.
Ibu Klara mendekat dan membelai rambutnya seraya berkata, “Sudahlah Klara. Kalau memang sepeda itu masih milikmu, Ibu yakin suatu saat sepeda itu akan kembali, Nak.”
Klara hanya bisa menangis dan terdiam. Pelukan sang Ibu sedikit membuat hatinya merasa lega. “Ayo masuk, Nak. Sebentar lagi malam tiba.”
Klara dan ibunya kemudian beranjak masuk ke dalam rumah. Setelah makan malam, Klara mengambil buku untuk mengerjakan PR. Ibunya menemani sambil terus menatapnya.
“Kasihan Klara,” ucap sang Ibu lirih. “Semoga saja sepeda Phoenix Klara bisa kembali,” ujarnya dalam hati.
Suara kentongan dari bambu terdengar berbunyi bertalu-talu, berbarengan dengan suara teriakan orang-orang yang ada di kejauhan. Namun lambat laun, suara teriakan itu mulai mendekat dan terdengar persis di depan rumah Klara.
Klara dan ibunya terbangun. “Ada apa, Bu?” ucap Klara ketakutan. “Entahlah, Nak. Ibu belum tahu pasti,” jawab ibunya sambil keluar dari kamar dan mengintip dari jendela kaca.
“Ada apa, Pak?!” tanya ibunya Klara setelah membuka pintu rumah. “Ada maling, Bu Lasmi! Hati-hati, barangkali lari ke arah sini,” kata Pak RT menjelaskan sambil tergopoh-gopoh. Ia lalu meneruskan pencarian dengan beberapa penduduk lainnya. “Hati-hati Bu Lasmi, tutup pintunya!” kata Pak RT lagi, lalu dia pergi mengikuti warga dari belakang. Mereka pergi ke arah selatan, menuju area persawahan.
“Semoga maling itu tertangkap,” gumam ibu Klara. Kemudian dia menutup pintu dan menguncinya. Klara hanya terdiam di belakang ibunya dengan perasaan takut. Tak lama kemudian, terdengar kembali suara orang berjalan ke arah rumahnya. Dengan perasaan takut, ibu Klara melihat lagi dari arah jendela lalu mengintipnya.
Dengan degup jantung yang berdetak kencang, ibu Klara terus mengamati di sekitar depan rumahnya. Benar saja, ada dua orang yang sedang mengendap-endap ke arah rumahnya. Dengan rasa takut serta panik, ibu Klara hanya bisa diam lalu mengajak Klara masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamar.
Dari dalam kamar, Klara hanya bisa mendengarkan suara-suara orang yang semakin dekat, tepatnya di depan rumahnya. Namun tak selang begitu lama, suara itu kembali menjauh. Terdengar suasana gaduh serta suara kaki yang berlari cepat meninggalkan rumah ibu Klara setelah beberapa orang datang mengejarnya.
Malam itu suasana cukup tegang. Ibu Klara hanya diam sambil menutup kedua tangannya ke telinga Klara. “Bu, Klara takut, Bu,” ucap Klara lirih. “Iya, Nak. Ibu juga takut,” jawabnya sambil terus memeluk tubuh Klara.
Malam itu terasa sangat panjang karena ibu dan Klara tidak bisa tertidur untuk berjaga-jaga. Akhirnya keduanya terlelap di pojok kamarnya sambil berdekapan. Suara hujan turun dengan derasnya mengiringi angin yang terdengar bertiup kencang di malam itu.
Hujan turun hingga pagi hari. Pagi itu terasa dingin sekali. Hujan yang turun sejak semalam membuat semua orang enggan untuk keluar rumah. Namun, ibunya Klara sudah berada di dapur untuk menanak nasi di tungku yang besar. Terlihat api yang membara di dalam tungku, menciptakan rasa hangat bila berada di dekatnya.
Ibu Klara terus sibuk memasak, sedangkan Klara sudah berada di dekat ibunya seraya membantu. “Siapa ya, Bu, semalam?” “Entahlah, Nak. Ibu juga tidak tahu. Yang jelas ada dua orang yang terlihat. Yang pasti mereka orang jahat,” duga ibunya Klara. “Kamu nggak masuk ke sekolah, Nak?” tanya ibu Klara sambil terus memasak. “Hari ini libur, Bu. Kata Bu Guru akan ada rapat di sekolah.”
Tiba-tiba terdengar ada suara orang di depan rumah. “Klara! Klara!” terdengar Linda memanggil. “Main, yuk!” ajak Linda. Klara dan Linda lalu pamit kepada ibu Klara untuk bermain. “Iya, jangan jauh-jauh ya?” pesan ibunya. “Iya, Bu!” jawab Linda dan Klara berbarengan.
Klara membawa kalung yang diberi dari sang nenek dan memakai kalung tersebut ke lehernya. Aneh, terasa sangat aneh setelah Klara memakai kalung itu. Klara sepertinya melihat bahwa sepedanya ada di suatu tempat. Segera Klara berlari ditemani Linda yang hanya bisa mengikuti dari belakang.
Klara terus berlari dari persawahan menuju jalan besar ke arah selatan. Di sana ada perumahan mewah, dan di sana pula ada rumah temannya, Sinta. Klara terus merasakan dorongan agar ia menuju ke rumah Sinta. Kebetulan rumah itu sedang sepi karena Sinta dan ayah ibunya sedang keluar.
Dengan degupan jantung yang semakin kuat, Klara mengajak Linda untuk memasuki rumah tersebut. “Kamu yakin, Klara, sepeda kamu ada di dalam situ?” ujar Linda sambil sesekali menunjuk ke arah rumah Sinta. “Iya, Linda. Aku sangat yakin sepeda Phoenix-ku ada di rumah Sinta,” jawabnya meyakinkan Linda.
Linda seketika hanya diam dan terus mengikutinya. “Jangan Klara! Jangan masuk!” tegur Linda sambil menarik tangan kanan Klara agar tidak meneruskan niatnya masuk ke rumah Sinta. “Tidak, Lin! Aku harus masuk ke dalam rumah itu,” ucap Klara keras.
Tanpa berpikir lebih jauh lagi, Klara masuk lewat samping rumah itu. Sambil pelan-pelan, Klara terus memasuki pekarangan samping rumah Sinta. Tak seberapa lama, Klara dan Linda mendengar ada dua orang yang berada di dalam rumah tersebut. Klara kemudian melewati tembok rumah Sinta dan memanjat pohon yang ada di sebelah samping rumah, di mana ada dua orang penjaga.
Kembali Klara tercengang dan sangat kaget. Setelah melihat sendiri, ternyata sepeda Phoenix-nya berada di sana. Klara melihat sepedanya sudah digantung dan dipisah-pisah; dari roda, setang, serta rantai, semuanya sudah dicopot. “Oh, tidak! Sepedaku!” Klara hampir berteriak histeris. “Kenapa? Ada apa?” tanya Linda.
Klara pun segera turun dan menceritakan apa yang dia lihat. “Apa?! OMG, Hello…?” “Jahat sekali Sinta!” “Tega sekali!” jawab Linda geram.
Kembali Klara dan Linda berpikir keras untuk mengatur siasat. “Oke,” jawab Linda setuju. Klara meminta agar Linda berpura-pura menjadi tukang rongsok. Linda pun mengikuti rencana itu. Ia langsung pergi ke pintu depan samping rumah. Rumah itu memang cukup luas, begitulah rumah orang kaya, gumam Linda sambil terus masuk ke rumah itu.
“Rongsok! Rongsok!” teriak Linda. Benar saja, kedua orang penjaga itu keluar. “Ada rongsok, Om?” kata Linda dengan nada yang agak sedikit takut.
Karya tulis: Nuraeni



















