Mentari pagi menghiasi langit, memancarkan warna merah jingga yang memantul di permukaan laut luas. Di ufuk timur, kilauan sinarnya mulai muncul, sementara bibir pantai masih tampak sepi. Udara pagi yang segar berpadu dengan debur ombak yang tiada lelah menunjukkan suasana laut yang tenang.
Di tengah keindahan anugerah Sang Pencipta, seorang perempuan berjalan menyusuri tepi pantai seorang diri. Tatapannya menerawang jauh ke tengah laut. Ia tersenyum penuh arti; sinar matanya memancarkan harapan yang membuatnya tak henti memandang lautan luas.
Tak jauh dari bebatuan karang, Rani, Evina, dan Unul juga sedang memandangi lautan. Tak lama, mereka berlarian di atas pasir putih, bersenda gurau hingga tawa mereka pecah.
“Ran, aku sama Unul mau naik perahu itu!” seru Evina sambil menunjuk sebuah perahu. Rani hanya menengok lalu menjawab dengan senyum, “Iya.”
Evina dan Unul berlarian mendekati perahu yang bersandar. Kini tinggal Rani yang duduk di atas pasir, sesekali memerhatikan orang-orang yang mulai ramai berdatangan. Tak sengaja, mata Rani tertuju pada perempuan berambut panjang tergerai yang berjalan mendekatinya. Sambil tersenyum, perempuan itu menghampiri Rani yang mulai berdiri.
“Hai?” sapa perempuan itu. Rani membalas dengan senyuman ramah, “Sendirian, Mbak?” “Iya, aku sendiri. Mbak sendiri sama siapa?” tanya perempuan itu balik.
Mereka pun akhirnya berbincang dan berkenalan. “Namaku Juwita,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Aku Rani,” jawab Rani lirih. “Apa Mbak Juwita sering ke sini?” tanya Rani penasaran. “Aku selalu di sini setiap malam Selasa sampai pagi,” ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari tengah lautan.
Jantung Rani berdegup kencang mendengar jawaban itu. “Apa?!” serunya seakan tak percaya. “Apa yang Mbak cari di sini?” “Aku menunggu seseorang,” jawabnya singkat. Rani hanya mengangguk-angguk. Tak lama, perempuan itu berpamitan. “Ya sudah, saya pamit dulu. Sudah siang, ya, Mbak Rani?” “Iya, Mbak Juwita, silakan,” sahut Rani sambil mengangguk.
Rani memandangi punggung Juwita yang menjauh. Rambut panjangnya terurai ditiup angin, meninggalkan aroma wangi yang semerbak. Rani terus menatap hingga sosok Juwita menghilang di balik pintu gerbang.
“Heh!” Rani tersentak kaget saat kedua temannya tiba-tiba mengejutkannya. “Hush! Dasar kalian!” gerutu Rani sambil memegang dadanya yang masih berdebar. Evina dan Unul tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah cemberut Rani.
“Kamu itu, Ran… dari tadi aku perhatikan bicara sendiri. Kamu sadar nggak, sih?” tanya Unul sambil meledek. “Iya, kamu aneh banget,” tambah Evina sambil tertawa.
Rani hanya bisa bengong. Saat hendak menjelaskan, Unul sudah lari duluan disusul Evina. Rani pun mengejar mereka. Deburan ombak yang menepi terdengar seperti irama musik yang menyambut pagi.
Pertemuan di Rumah Septi
Rumah Septi tampak sepi dengan pintu depan tertutup. Rani, Unul, dan Evina tiba dan duduk di teras menunggu Septi pulang. Di samping rumah, riuh rendah sorak sorai anak-anak yang sedang bermain bola di tanah lapang memecah kesunyian.
“Kemana, ya, Septi?” gumam Evina. “Iya, kemana dia?” timpal Unul. “Kita tunggu saja,” ucap Rani tenang.
Tak lama kemudian, Septi dan ibunya datang. “Heh, sudah sampai?” sapa Septi. “Oh, ada tamu bidadari cantik,” sapa ibu Septi bercanda. “Iya, Bu,” jawab mereka serempak.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Septi mulai membahas rencana mereka. “Gimana rencana besok? Kita berangkat pagi-pagi sekali supaya tidak kesiangan sampai di pantai.” “Eh, Ran, besok bawa peralatan lengkap, ya?” “Oke, siap!” balas Rani mantap. “Ingat! Jam lima pagi sudah harus sampai di sana!” tegas Unul mengingatkan. “Oke, Bestie!” jawab mereka berbarengan sambil tertawa.
Rahasia Malam Selasa
Di dalam kamarnya malam itu, Rani melamun menatap langit-langit. Pikirannya menerawang pada sosok Juwita—wajah cantik, rambut panjang, dan sorot mata tajam yang menyimpan rahasia.
“Siapa sebenarnya gadis itu?” gumam Rani dalam hati. “Juwita… nama yang indah tapi penuh misteri. Apa aku akan bertemu dengannya lagi?”
Malam mulai larut. Angin berembus dingin. Tiba-tiba Rani tersadar. “Oh, iya! Malam ini kan malam Selasa?” Ia langsung duduk tegak di ranjang. “Apakah dia ada di pantai sekarang? Ah, kenapa aku jadi memikirkan orang lain,” ujarnya gusar.
Setelah berdoa untuk menenangkan diri, Rani akhirnya tertidur dan bermimpi tentang perempuan itu.
Kembali ke Pantai
Pagi buta pukul 03.30, Rani sudah bersiap. Ia menunggu di pinggir jalan besar. Tak lama, sebuah bus melintas dan terdengar suara Septi dari jendela, “Rani, ayo naik!”
Setelah sampai di terminal, mereka menyambung angkot menuju Pantai Kenduri Permai. Meskipun hari masih gelap, semangat mereka tidak surut. Namun, saat tiba di pantai, Rani melihat sosok perempuan itu berjalan ke arah selatan menuju batu karang besar. Tanpa sadar, Rani memisahkan diri dari teman-temannya untuk mengikuti sosok tersebut.
Rani melewati pepohonan kelapa liar dan lapak-lapak kosong. “Ke mana dia?” gumamnya. Tiba-tiba, ia melihat Juwita berdiri di atas karang. Namun, penampilannya berubah. Ia memakai kebaya dengan selendang kuning dan sanggul layaknya pengantin atau penari.
“Mbak Juwita?” tegur Rani pelan. “Duduklah di sini, dekat aku. Jangan takut,” ucap Juwita lembut.
Juwita menunjuk ke tengah laut. “Aku pernah di sana selama satu minggu. Bukan hanya aku, tapi ayah, ibu, dan adikku juga. Entah bagaimana nasib mereka.”
Rani terdiam seribu bahasa. Juwita kemudian menyodorkan sebuah selendang jingga bertinta emas. “Ambillah. Aku yakin kamu orang yang tepat untuk mengungkap rahasia ini. Lihat di balik batu karang itu, ada sesuatu yang harus kamu temukan.”
“Apa itu?” tanya Rani bingung. “Carilah… aku yakin kamu bisa. Sekarang pergilah, teman-temanmu mencarimu.”
Seketika, Juwita lenyap. Rani terpaku dalam ketakutan dan kebingungan.
Teror di Balik Goa
Di sisi lain pantai, Septi, Evina, dan Unul panik mencari Rani. Mereka menelusuri tebing karang hingga melihat Rani di bawah. “Itu Rani! Ayo cepat!” teriak Unul.
Rani yang masih bingung terus berjalan hingga sampai di depan sebuah goa. Saat ia mencoba mendekat, sebuah gertakan keras terdengar, “SIAPA KAMU?!”
Rani lari ketakutan namun tersandung akar pohon. Seorang laki-laki bertubuh besar sudah berada di depannya dengan tatapan beringas. Tangan laki-laki itu mencengkeram leher Rani. Saat nyawa Rani terancam, tiba-tiba… BRAKK!
Tendangan keras Septi mendarat di tubuh laki-laki itu. “Septi! Ayo lari!” teriak Rani. Terjadi kejar-kejaran seru di lorong bebatuan. Unul yang melihat sosok laki-laki itu langsung menjerit, “Tolong! Ada apa lagi ini?!”
Setelah berhasil mencapai tempat ramai, mereka beristirahat dengan napas tersengal. “Ada apa sih, Ran? Kamu membahayakan diri sendiri!” seru Septi. Rani pun menceritakan semuanya dan menunjukkan selendang pemberian Juwita. Namun, saat Unul memegang selendang itu, ia tiba-tiba pingsan dan meracau seolah kesurupan.
Seorang pemuda tampan bernama Panji datang menolong. Dengan sekali sentuhan di kening, Unul sadar sepenuhnya. “Siapa yang memegang Selendang Ufuk Barat ini?” tanya Panji tegas. Rani mengakuinya. Panji menjelaskan bahwa Juwita (Roro Nyimas Juwita) sedang meminta tolong. Mereka pun dibawa ke rumah bibi Panji, Ibu Ningrum, untuk bersiap melakukan penyelamatan.
Pertempuran Terakhir
Malam harinya, mereka kembali ke pantai bersama Ibu Ningrum dan Panji yang sudah mengenakan pakaian pendekar. Di sana, mereka dihadang oleh sosok tinggi besar bernama Brakala.
“Serahkan Roro Nyimas Juwita!” gertak Ibu Ningrum. Perkelahian hebat terjadi. Septi dan Evina ikut bertarung dengan jurus-jurus andalan mereka. Pukulan dan tendangan silih berganti menghantam lawan. Akhirnya, atas instruksi Ibu Ningrum, Rani memukulkan selendang jingga yang telah dialiri tenaga dalam ke tubuh Brakala.
BYARRR! Api membakar selendang dan tubuh sosok hitam itu hingga lenyap tak berbekas.
Mereka segera berlari ke dalam goa dan menemukan Juwita terikat akar pohon dalam keadaan lemas. Panji menyelamatkannya dan membawanya keluar.
Di tepi pantai, di bawah sinar mentari yang mulai muncul, Juwita akhirnya terbebas. “Terima kasih, Rani… kalian semua telah menyelamatkanku dari perjanjian keramat itu,” ucap Juwita haru.
Ibu Ningrum, Panji, Juwita, dan keempat sekawan itu berdiri menatap laut. Misteri telah terpecahkan. Perjalanan mereka berakhir dengan senyuman syukur saat mobil jip Panji melaju meninggalkan pesisir, diiringi melodi alam dari deburan ombak pantai yang indah.
TAMAT













