Lanjutan 4 Sekawan 5 sempurna, BAB Cahaya Mata
Aulia tersenyum lega. Rasa bahagia membuncah karena Rani dan Evina ternyata tidak memiliki niat buruk. Ia membalas pelukan mereka dengan hangat, seolah baru saja menemukan keluarga baru.
“Kalian berdua sangat spesial. Saya tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya,” kata Aulia tulus.
Rani dan Evina tersenyum nyaman karena diterima dengan baik oleh Aulia. Mereka kembali duduk, dan Aulia mulai bercerita tentang dirinya; tentang perjuangannya menjadi guru di desa kecil itu, serta impian-impian yang ingin ia wujudkan.
Rani dan Evina mendengarkan dengan saksama. Mata mereka terpaku pada Aulia, merasa terinspirasi. Mereka sadar telah menemukan sesuatu yang sangat berharga: persahabatan dan keteladanan.
“Kami akan membantumu, Aulia. Kita akan membawa perubahan di desa ini,” ujar Rani penuh tekad.
Aulia tersenyum penuh syukur. “Terima kasih. Saya tidak akan bisa melakukan ini tanpa kalian.”
Tiba-tiba, Uwak Bayo datang dengan wajah tegang. Ia memberi tahu Aulia bahwa ada bahaya yang mengancam dan ia harus segera pergi. Rani dan Evina langsung siaga.
“Kita harus tenang dan berpikir jernih,” kata Evina menenangkan Aulia. “Kami akan melindungimu, jangan khawatir.”
Rani menambahkan, “Aulia, kami tidak akan membiarkan mereka menyakitimu.”
Uwak Bayo mengabarkan bahwa ada enam orang yang menuju ke sana, termasuk dua orang perempuan. “Ayo, ikuti aku!” ajak Evina. Ia membawa Aulia dan Rani keluar melalui pintu belakang menuju perbukitan kecil untuk mengamati situasi.
Dari atas bukit, mereka melihat empat laki-laki berjalan ke arah rumah Aulia. Sore yang cerah seketika berubah mencekam.
“Lihat!” bisik Evina sambil menunjuk ke arah ujung jalan. “Mereka berempat. Mana dua orang lagi?” tanya Evina heran. “Mungkin menyusul,” jawab Rani singkat.
“Ya Allah… kenapa jadi begini?” suara Aulia bergetar ketakutan.
Tak lama kemudian, terdengar teriakan lantang. “Hei, Ibu Guru! Keluar!” gertak salah satu pria dengan suara garang.
Karena tidak ada jawaban, kemarahan mulai terpancar di wajah mereka. “Ikuti aku,” bisik Evina lagi. Mereka bergerak memutar hingga berhasil muncul di belakang para lelaki itu.
“Kami di sini!” seru Evina lantang.
Para lelaki itu berbalik. “Nah, itu mereka, Bang!” ujar salah satu dari mereka saat melihat Rani, Evina, dan Aulia. “Kalian mau ikut campur, ya?!”
“Iya! Kami akan ikut campur!” terdengar suara keras lain dari arah berbeda.
Rani dan Evina terkejut melihat siapa yang datang. “Septi!” teriak Rani. “Unul!” seru Evina.
Rupanya Septi dan Unul datang bersama Pak Pujianto, pemilik bangunan tersebut. Suasana semakin tegang. Empat laki-laki itu tampak tidak senang dengan kehadiran rombongan tambahan ini.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Septi tegas.
Salah satu laki-laki menatap tajam. “Jangan ikut campur. Ini urusan kami dengan Ibu Guru Aulia!”
Unul maju selangkah. “Kami tidak akan membiarkan kalian mengganggunya. Katakan, apa mau kalian?”
Pak Pujianto akhirnya angkat bicara. “Saya akan jelaskan. Mereka datang untuk menagih uang sewa bangunan yang katanya belum dibayar oleh Ibu Guru Aulia.”
Aulia maju dengan wajah pucat. “Saya belum punya uang sekarang. Saya janji akan membayarnya bulan depan.”
“Bulan depan? Kami tidak bisa menunggu lagi! Kami butuh uangnya sekarang!” bentak lelaki itu semakin agresif.
Di tengah situasi yang memanas, Rani melangkah maju. “Tunggu! Saya punya ide.”
Semua mata tertuju padanya. Rani tersenyum tenang. “Saya punya uang tabungan yang bisa digunakan untuk melunasi sewa itu. Tapi, ada satu syarat.”
“Apa syaratnya?” tanya lelaki itu kasar.
“Syaratnya, kalian harus pergi dan jangan pernah mengganggu Ibu Guru Aulia lagi. Kalian juga harus memberikan keringanan waktu untuk pembayaran berikutnya,” tegas Rani.
Lelaki itu tertawa meremehkan. “Berani juga kamu, ya? Baiklah, kami setuju. Tapi jika bulan depan meleset lagi, kami akan datang kembali!”
Rani menyerahkan uang tabungannya. Setelah menerima uang tersebut, komplotan itu pun pergi. Aulia dan teman-temannya bernapas lega.
“Terima kasih, Rani,” ucap Aulia lembut. “Kamu benar-benar teman yang hebat!” puji Septi dan Unul bangga.
Setelah keadaan kondusif, Pak Pujianto mendekat. “Saya minta maaf. Saya tidak tahu mereka akan bertindak sekasar ini. Sebagai bentuk penyesalan, saya gratiskan biaya sewa untuk bulan ini.”
Mereka semua bersorak gembira dan berterima kasih kepada Pak Pujianto. Aulia mengajak keempat remaja itu masuk ke rumah.
“Untung tidak sampai terjadi perkelahian. Aku tidak ingin desa ini kotor oleh kekerasan. Biarlah anak-anak belajar dengan tenang, meski aku harus berjuang membayar sewa tempat ini,” tutur Aulia. Keempat remaja itu terdiam, terenyuh mendengar ketulusan guru mereka.
“Mulai besok, kami akan selalu ada di sini, Bu,” janji Septi yang disambut senyum bahagia Aulia.
Esok paginya, mentari muncul dengan warna yang begitu indah di ufuk timur. Aulia bersiap mengajar dengan ditemani empat remaja setianya. Udara segar membuat langkah mereka terasa ringan.
Sesampainya di bangunan sekolah, Rani dan Evina segera merapikan ruang belajar, sementara Septi dan Unul mengajak anak-anak bermain. Aulia kembali tersenyum lebar melihat keceriaan murid-muridnya.
“Semoga hari ini dan seterusnya, ‘Cahaya Mata’ tetap bisa menulis dan membaca,” gumam Aulia dalam hati.
Hari-hari berikutnya, kolaborasi mereka membuat “Cahaya Mata” semakin berkembang. Kegiatan belajar menjadi lebih interaktif dengan sesi bercerita dan kerajinan tangan. Kemajuan anak-anak desa dalam membaca dan menulis pun meningkat pesat.
Hingga suatu hari, pemerintah desa memberikan penghargaan kepada guru-guru terbaik. Aulia terpilih sebagai salah satunya. Keempat remaja itu hadir bersama anak-anak didik “Cahaya Mata” untuk memberikan dukungan.
Saat menerima penghargaan, air mata bahagia mengalir di pipi Aulia.
“Terima kasih, anak-anakku. Kalian semua adalah cahaya mata saya. Saya tidak akan bisa sampai di titik ini tanpa kalian,” ucapnya lirih.
Acara berakhir dengan tawa dan haru. “Cahaya Mata” pun terus bersinar, menjadi pelita bagi anak-anak desa untuk meraih impian mereka setinggi langit.















