Meskipun beberapa warga menyebutkan air tersebut tidak berbau tajam, kekhawatiran akan pencemaran lingkungan jangka panjang tetap tinggi. Diduga, intensitas hujan yang tinggi menyebabkan tempat penyimpanan pewarna atau bak penampungan limbah milik salah satu industri kain meluap, sehingga zat pewarna tersebut bercampur dengan air banjir dan menyebar ke jalanan serta rumah warga.
Fenomena ini memicu reaksi beragam dari masyarakat. Sebagian warga menyayangkan kurangnya kesadaran pelaku industri dalam mengelola limbah (IPAL). Namun, ada pula warga yang menanggapi dengan santai, mengklaim bahwa air tersebut tidak menyebabkan gatal.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang setempat diharapkan segera melakukan pengecekan ke lokasi untuk memastikan kandungan zat dalam air tersebut dan memberikan edukasi kepada pelaku industri agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















