
PEMALANG – Warga Desa Wanarejan Utara, khususnya di Dusun Kemanggungan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, digemparkan dengan fenomena banjir berwarna merah pekat yang menggenangi wilayah mereka pada beberapa hari lalu. Fenomena yang viral di media sosial ini diduga kuat berasal dari limbah pewarna tekstil yang hanyut terbawa arus air.
Genangan air setinggi mata kaki hingga betis orang dewasa tersebut tampak berwarna merah jingga, kontras dengan warna banjir pada umumnya yang cenderung cokelat berlumpur. Peristiwa ini mulai ramai diperbincangkan setelah akun media sosial dari @Seputar Pemalang mengunggah foto kiriman warga yang memperlihatkan kondisi pemukiman di Dusun Kemanggungan, Wanarejan Utara, yang memerah total.
Dilansir, Senin (9/2) berdasarkan komentar warga (Netizen) dugaan sementara mengarah pada limbah industri rumahan (home industry). Pemalang, khususnya daerah Wanarejan, dikenal memiliki banyak pengrajin tekstil atau tenun.
Beberapa warga melalui kolom komentar menyatakan kekhawatirannya akan dampak kesehatan. “Air limbah tenun tanpa bak resapan akhirnya mencemari lingkungan. Ini bisa jadi sumber penyakit karena zat kimianya berbahaya bagi tubuh,” tulis @E*i R*ky*t, salah satu netizen

Ditambahkan, “Wong Pemalang Saiki TDK peduli lingkungan….titik…yg didesa sampah jg buang ke kali,yg kota..punya industri..jg buang ke kali…SDH lah…..semua kambali ke diri kita masing2…aku SDH ingatkan..tetangga jg…. tapi mereka tetep saja…buang kekali….semua akan kembali ke kita,,apa yg kita perbuat,,,,” tulis R*v*n D*m*s.
Meskipun beberapa warga menyebutkan air tersebut tidak berbau tajam, kekhawatiran akan pencemaran lingkungan jangka panjang tetap tinggi. Diduga, intensitas hujan yang tinggi menyebabkan tempat penyimpanan pewarna atau bak penampungan limbah milik salah satu industri kain meluap, sehingga zat pewarna tersebut bercampur dengan air banjir dan menyebar ke jalanan serta rumah warga.
Fenomena ini memicu reaksi beragam dari masyarakat. Sebagian warga menyayangkan kurangnya kesadaran pelaku industri dalam mengelola limbah (IPAL). Namun, ada pula warga yang menanggapi dengan santai, mengklaim bahwa air tersebut tidak menyebabkan gatal.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang setempat diharapkan segera melakukan pengecekan ke lokasi untuk memastikan kandungan zat dalam air tersebut dan memberikan edukasi kepada pelaku industri agar kejadian serupa tidak terulang kembali.








